Mengapa Hari Lahir Yohanes Pembaptis Begitu Penting?

Selasa, 24 Juni 2014
HR Kelahiran St. Yohanes Pembaptis
Yesaya 49:1-6; Mzm 139:1-3.13-15; Kisah 13:22-26; Lukas 1:57-66.80

“Dan seketika itu juga terbukalah mulutnya dan terlepaslah lidahnya, lalu ia berkata- kata dan memuji Allah.” (Lukas 1:64)

Hari ini adalah Hari Raya Kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Mengapa hari lahir St. Yohanes Pembaptis penting bagi umat Katolik dan ditempatkan sebagai hari raya secara liturgis?

Pertama, Yohanes Pembaptis adalah nabi istimewa yang menjadi penghubung antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dialah yang mempersiapkan jalan bagi Yesus Kristus.

Kedua, kelahirannya terjadi secara ajaib. Ibunya, St. Elisabeth, yang sudah lanjut usia dan mandul bisa mengandung dan melahirkannya seturut kehendak Allah. Ayahnya, Zakharia, yang menjadi bisu karena ketidakpercayaannya ketika ia menerima kabar bahwa istrinya akan mengandung dan melahirkan anak laki-laki; sembuh seketika saat menuliskan nama Yohanes delapan hari setelah kelahiran anak itu.

Ketiga, sejak dalam kandungan ibunya, hatinya dipenuhi kegembiraan dan melonjak kegirangan saat St. Maria yang sedang mengandung Yesus mengunjunginya. Setelah kelahirannya, Yohanes tumbuh penuh hikmat, dibimbing Roh Allah dan hidup di padang gurun untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan.

Keempat, Yohaneslah yang membaptis Yesus di Sungai Yordan. Maka Yohanes disebut Yohanes Pembaptis.

Kelima, Yohanes Pembaptislah yang untuk pertama kalinya memperkenalkan Yesus sebagai “Sang Anak Domba” yang akan menebus dan menghapus dosa dunia. Gelar dan sebutan inilah yang setiap kali kita kenang dan ulang setiap kali kita merayakan Ekaristi Suci menjelang kita menyambut Komuni Suci.

Itulah lima alasan pokok yang membuat Gereja Katolik menghormati Yohanes Pembaptis. Belum termasuk di dalamnya hal-hal istimewa lain yang ada dalam diri Yohanes Pembaptis, misalnya kemartirannya dalam membela kebenaran.

Buah dari kelahiran Yohanes Pembaptis adalah kegembiraan dan kesembuhan. Orang-orang di sekitar keluarga Elisabet dan Zakaria dipenuhi dengan sukacita berkat kelahirannya. Kegembiraan itu membuat mereka memuji Allah.

Kita pun diundang untuk bergembira dan memuji Allah di tengah karut marut hidup kita. Kegembiraan sempurna dianugerakan Tuhan saat kita bisa mempersiapkan diri dan menyambut dan menyembah-Nya dalam hidup kitam itulah yang menjadi inti dari ayat yang saya kutipkan hari ini. Itu juga yang kita lakukan setiap kali kita melakukan Adorasi Ekaristi Abadi. Kita sujud sembah dalam syukur dengan penuh sesal dan mempersembahkan silih  atas dosa kita dan dosa-dosa dunia di hadapan Sang Anak Domba Allah, Yesus Kristus. Kita serahkan hidup kita agar selamat. Ada 7 S dalam Adorasi Ekaristi Abadi: sembah sujud syukur sesal silih serah selamat! Dengan demikian kita pun berani bersaksi atas iman kita dengan saling menjadi berkat dalam kehidupan.

Ya Yesus, Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia, kasihanilah kami dan berilah kami damai, agar kami pun dapat saling mengasihi dan menjadi damai satu sama lain, selamanya. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.