Mengapa Begitu Banyak Kaum Evangelis Beralih ke Gereja Katolik?

Vatikan, Pusat Gereja Katolik di dunia (Kredit:national Catholic Register.)
Vatikan, Pusat Gereja Katolik di dunia (Kredit:national Catholic Register.)Mengapa Begitu Banyak Kaum Evangelis Beralih ke Gereja Katolik? 0By John L. Wujon onJuly 15, 2016Urbi

Terkini, beberapa siswa sekolah Evangelis di Southern, AS, memutuskan menjadi Katolik, ini alasanya.

DOUGLAS Beaumont adalah seorang penganut Kristen Evangelis yang sangat taat, menurut pengakuannya sendiri, sebagaiamana dilansir National Catholic Register belum lama ini. Selama 20 tahun, ia hidup dalam tradisi, belajar di Seminari Evangelikal, kemudian mengajar di lembaga yang sama dan membantu para pengajar serta pimpinan lembaga untuk pendidikan teologi sistematis. Beaumont menulis beberapa buku dan diterbitkan oleh penerbit Evangelikal. Ia cukup terkenal seantero Amerika.

Lalu apa yang menyebabkan Doug, panggilan akrab untuk Douglas,  dan puluhan siswanya, alumni dan dosen yang dikenal konservatif berani meninggalkan tradisi Evangelikal yang telah lama menjadi ‘Rumah Rohani’ mereka dan masuk ke dalam persekutuan dengan Gereja Katolik Roma?

Mengapa begitu banyak siswa seminari Evangelikal di Southern bersedia mengambil resiko kehilangan pekerjaan, kelembagaan, dan bahkan keluarga serta teman-teman lalu memeluk agama yang dulu pernah mereka tolak karena dianggap palsu bahkan sesat?

Douglas Beaumont telah menulis sepuluh kisah menarik tentang konversi Evangelis dalam sebuah buku “Evangelical Exodus: Evangelical Seminarians and Their Paths to Rome” yang diterbitkan oleh Ignatius Press. Termasuk di antara para konversi yang berkontribusi terhadap penulisan buku ini adalah Francis Beckwith, Profesor Studi Filsafat, Gereja, dan Negara di Universitas Baylor, Josuha Betancourt, seorang pendeta kapelan  di Rumah Sakit Katolik, dan Andre Preslar, yang dithabiskan menjadi imam Anglikan pada ritus Bizantium, serta tujuh orang lainya di mana semuanya bergelar master. Meskipun terdapat 10 orang yang berkontribusi terhadap penulisan buku tersebut, Beaumont melaporkan bahwa ada lebih banyak lagi orang yang berkontribusi.

Tentu saja, alasannya bervariasi. Para penulis memberikan kontribusi dan kesaksian dari perspektif berbeda, tentang keaslian kanon Kitab Suci, identifikasi ortodoksi Kristen, dan problem doktrin Protestan tentang Sola Scriptura (“Hanya Kitab Suci Saja”). Banyak yang tertarik dengan karya seni Gereja Katolik yang menyata dalam musik, seni dan arsitektur Gereja Katolik. Sangat penting untuk dicatat, bahwa banyak dari para penulis tidak pernah berbagi pikiran mereka dengan orang lain sebelum buku diterbitkan.

Kepada NCR, Doug bercerita tentang konversinya dan bagaimana ia berusaha menyeberangi sungai Tiber dan bersatu dalam Gereja Katolik.

“Beberapa hal telah membuat saya kembali berpikir tentang gereja kuno ini”, ujarnya.

Meskipun saya telah mempelajari Alkitab, saya ingin tahu lebih banyak tentang pembentukan Kanon Kitab Suci. Saya tertarik pada sifat ortodoksi di antara semua orang Kristen, bukan hanya dengan orang-orang di dalam lingkungan saya. Tapi juga ketika seseorang belajar dan berbicara dengan orang Kristen lainnya, baik dalam denominasi besar maupun kecil, masalah yang sama tetap muncul; selalu saja ada satu langkah untuk bergerak pergi.

Dalam perjalanan studi dan pekerjaannya sebagai asisten pendiri Seminari, Dr. Norman Geisler, Beaumont menemukan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, khususnya yang berkaitan dengan sejarah Gereja. Pada waktu ia membantu Dr. Norman untuk mengedit teks Teologi Sistematis Vol. 2 dan 4, Beaumont mendapat tugas untuk membaca Sejarah Bapa-Bapa Gereja Awal dan mengidentifikasi kembali bagian-bagian yang mendukung tulisan Geisler tentang sifat keselamatan gereja dan akhir zaman.

“Itu adalah mimpi buruk bagiku, ada perbedaan antara apa yang diajarkan Dr. Geisler dan apa yang diajarkan dalam sejarah Gereja, itu menjadi lompatan bagiku”, terang Beaumont.

Dr. Beaumont dan rekan-rekan penulisnya, mengutip kata-kata John Henry Neuman, “untuk mendalami sejarah Gereja, berhentilah menjadi Protestan”. Ia menegaskan, memang tidak ada perspektif jangka panjang di Seminari Evangelikal Southern, dimana siswa bisa memperoleh gelar master dalam setiap bidang kuliah yang ditawarkan, tanpa mengambil kursus sejarah gereja.

Buku Buku “Evangelical Exodus: Evangelical Seminarians and Their Paths to Rome”

Para kontributor “Evangelical Exodus: Evangelical Seminarians and Their Paths to Rome” yang semuanya telah beralih menjadi Katolik  mengaku sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, terutama Kanon Kitab Suci, Ortodoksi Kristen, dan dua masalah yang paling sering dikutip oleh penganut Protestan: Sola Scriptura (Hanya Kitab Suci) dan Sola Fide (Manusia diselamatkan oleh Iman). Doug menyebut Keindahan sebagai salah satu faktor yang menyebabkan ia dan rekan-rekan seminaris lainnya memberi apresiasi baru terhadap Gereja Katolik. “Dalam Protestan, kata Doug, ada kecenderungan untuk mengabaikan alasan lain di luar alasan intelektual. Tapi sebagai manusia, kita adalah makhluk jasmani dan rohani. Dalam Gereja Katolik, menurutnya, ia menemukan ada penghormatan terhadap intelektualitas dan warisan iman. Gereja Katolik punya warisan sejarah panjang. Ada paket menarik dari keindahan sipiritualitas, menggabungkan seni dan musik, keindahan, sejarah dan tradisi  panjang dengan kekuatan intelektualitas.

Kesaksian-kesaksian pribadi dari orang-orang yang telah beralih sebelumnya juga menginspirasi Beaumont. Ia ingat kesaksian Thomas Howard, Scott dan Kimberly Hann dan beberapa lainnya yang telah berjuang dengan masalah yang sama dan menemukan jawaban yang sama. Kesaksian dua  kontributor “Evangelical Exodus: Evangelical Seminarians and Their Paths to Rome” kata Doug, sangat berguna bagi mereka yang sedang mencari pemahaman iman lebih dalam:

Brandom Dahm, yang melakukan penyelidikan tentang teologi Katolik di bawah bimbingan Professor J. Budziszewski dan dalam sebuah grup diskusi kampus yang disebut “Kebenaran Bucket” dan;John Betancourt, yang telah bergabung dalam Gereja Katolik, memberi introduksi atas apa yang disebut “Sebuah Tim” – Aquinas, Anselmus, dan Agustinus, dan satu lagi studi tentang Bapa-bapa Gereja pada Masa Awal.

Betancourt, menurut Doug, bekerja sama dengan Dr. Norm Geisler untuk menulis sebuah buku tentang Katolikisme, yang diberi judul: “Is Rome The Truth Church?”. Sebulan setelah buku anti-Katolik itu diterbitkan, Betancourt memutuskan menjadi Katolik.

=====

Sumber: National Catholic Register

 

 

 

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.