Menentukan Pilihan Sebagai Pengikut Kristus (2)

pemilu

KITA harus menyadari bahwa dalam alam demokrasi yang sudah dibangun dan dipelihara bangsa kita sejak dimulainya era reformasi, kita tidak boleh lagi hanya menikmati hidup dalam zona kenyamanan diri sendiri (comfort zone), terpisah dari dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai alasan yang sering dijadikan sarana pembenaran adalah argumen yang mengatakan bahwa politik itu kotor, karena itu harus dihindari. Di masa lampau mungkin sikap tersebut boleh karena kebetulan kita boleh hidup dalam comfort zone dan ikut berpolitikpun, kalau dimungkinkan tidak banyak manfaatnya. Tetapi kehidupan tersebut tidak terbuka lagi di alam demokrasi ini.

Di dalam alam demokrasi yang sudah terbangun selama ini kita harus ikut berpartisipasi aktif sebagai warga negara yang bertanggung jawab, sebagai orang Indonesia seratus persen. Artinya kita tidak boleh golput, kita harus menggunakan hak pilih kita dengan benar. Ini termasuk aktif mencek apakah tidak ada masalah dalam pendaftaran kita sebagai pemilih, apakah telah memiliki surat panggilan dan seterusnya.

Dalam peran terbatas masing-masing ikut membantu menciptakan berjalannya kampanye yang damai, bersih dari segala kecurangan, serta terselenggaranya pemilu yang tertib dan damai. Kemudian ikut mengawasi agar dilaksanakan penghitungan suara yang bersih dari penyelewengan ataupun kecurangan. Apalagi kalau kita tidak hanya menjadi pemilih, tetapi  bertugas dalam penyelenggaraan pemilihan, malahan ikut aktif sebagai bagian dari kegiatan kampanye dan penyelenggara pemilihan.

Demikian pula hendaknya semoga selalu dijadikan pegangan oleh semua pengikut Kristus yang seratus persen Indonesia, apa yang ditekankan oleh Mgr Suharyo dalam “The Catholic Way” untuk ikut menjaga agar tidak berkembang   ‘klerikalisasi awam’ ataupun ‘awamisasi klerus’. Tugas dan tanggung jawab awam mapun klerus, hirarki dan awam, keduanya sangat penting dalam proses pengikut Kristus menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi semoga tidak dicampur adukkan.

Jadi sebagai warga negara yang bertanggung jawab kita harus memilih dalam pilpres nanti. Dan dalam hubungan awam dan hirarki gereja jangan ada pencampuradukan tugas dan tanggung jawab mengenai apa yang harus dilakukan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Melaksanakan pilihan yang berlandaskan suara hati nurani kita mulai dengan terlebih dahulu menggunakan akal sehat kita; bagaimana mempelajari program, membaca rekam jejak dan karakter para capres dan cawapres dengan semua misi visi mereka program maupun janji-janji mereka. Ini diperlukan untuk memperoleh kejelasan tentang kesamaan dan perbedaan, kelemahan dan keunggulan masing-masing pasangan calon agar kita dapat memilih siapa calon terbaik untuk memimpin bangsa Indonesia lima tahun mendatang.

Kemampuan penalaran kita harus kita manfaatkan untuk menyadari bagaimana membawakan suara minoritas di dalam sistem demokrasi yang membuat keputusan berdasarkan mayoritas suara. Spiritualitas inkarnatoris kita mengajarkan bahwa pilihan kita, setelah menggunakan segala daya pikir yang kita miliki sebagai anugerah Allah kemudian semuanya kita serahkan kepada Yesus. Ini hanya terjadi kalau kita berserah diri, menyatu di dalam Yesus dan Dia di dalam kita.

Kita harus berdoa agar Roh Kudus menerangi kita sehingga kita menjadi cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati (Mateus 10:16). Ini kita lakukan dengan menyapa Tuhan dan memohon kepadaNya dalam doa sebelum melaksanakan kehidupan kita berbangsa dan bernegara, termasuk dalam menentukan pilihan kita pada Pilpres nanti. Pilihan kita yang melewati proses demikian akan diterangi Roh Kudus dan karena itu akan menemukan kebenaran.

Mari kita pilih Presiden dan Wakil Presiden yang tepat; mampu memimpim dan mempunyai watak pemimpin yang melayani dan memperjuangkan nilai-nilai sesuai dengan ajaran sosial Gereja, menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warga negara yang kurang beruntung.

Mari kita pilih pemimpin yang gigih dalam memelihara, mempertahankan dan mengamalkan Pancasila, pemimpina yang pluralis, bersih, tidak karup, penuh dedikasi untuk menggunakan kemampuannya memimpin bangsa ini kearah masyarakat yang demokratis, adil, makmur dan lebih sejahtera.

Marilah kita memilih Presiden dan Wakil Presiden yang akan memimpin dan mengawal bangsa Indonesia menghadapi segala tantangan dan masalah di dalam negeri maupun dalam hubungan dengan bangsa-bangsa lain secara regional maupun global dengan memanfaatkan semua potensi dan sumber daya yang dimiliki bangsa ini, menghadapi segala tantangan dan memanfaatkan kesempatan di arena regional dan global yang penuh ketidak pastian itu.

Marilah kita memedomani Surat Gembala menyambut Pilpres 2014; menggunakan hak pilih masing-masing pada tanggal 9 Juli mendatang, di dahului dengan menyapa dan membuka hati kita untuk menyambut Yesus yang kita imani akan untuk menghadirkan Roh Kudus. Dan dengan bekal tersebut semua akan melakukan pilihan sebagai pengikut Kristus yang seratus persen Indonesia. Dan dengan demikian kita bersama berpartisipasi dalam  memilih Presiden dan Wakil Presiden yang mampu membawa Indonesia yang lebih maju, lebih makmur dan lebih damai dan sejahtera bagi semua.
Selamat memilih 9 Juli nanti.
Tuhan memberkati Anda semua.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.