Menentukan Pilihan Sebagai Pengikut Kristus (1)

vote

SETELAH menggunakan hak dan tanggung jawab memilih anggota legislatif dalam Pileg April yang lalu, kita kembali diundang untuk menggunakan hak dan tanggung jawab kita dalam hidup berbangsa dan bernegara, memilih Presiden dan Wakil Presiden yang baru pada pada tanggal 9 Juli nanti.

Pilihan yang akan kita lakukan dalam Pilpres bahkan lebih penting lagi bagi bangsa Indonesia di dalam melanjutkan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bangsa Indonesia akan memilih dua putera terbaiknya yang benar-benar mampu dan berdedikasi penuh untuk memimpin dan mengawal bangsa Indonesia melanjutkan kehidupan berbangsa membangun Indonesia menuju hari depan yang lebih baik.

Presiden dan Wakil Presiden yang kita pilih harus mampu mengelola dan memanfaatkan segala sumber kekayaan dan potensi nasional yang ada serta menjawab tantangan dan masalah yang timbul di dalam maupun dari luar menuju masyarakat yang kita cita-citakan.

Kita akan memilih pemimpin yang mampu memimpin dan mengantar bangsa Indonesia dalam usahanya untuk memperkokoh sistem demokrasi dengan seluruh sarana dan kelembagaannya agar seluruh warga negara boleh mengambil bagian dalam membangun dan mengembangkan Indonesia menjadi damai, makmur dan lebih sejahtera buat semua.

Kita bersyukur bahwa menghadapi pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) dewasa ini Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) pada tanggal 26 Mei yang lalu telah mengeluarkan Surat Gembala “Pilihlah Secara Bertanggung Jawab, Berlandaskan Suara Hati” yang memberi arahan dan pedoman kepada umat Katolik dalam menyikapi Pilpres 2014.

Meskipun demikian dalam menghadapi Pilpres dewasa ini banyak kalangan, termasuk pemilih Katolik yang masih merasa sulit menentukan pilihan mereka karena pemberitaan mengenai proses pembentukan koalisi dan hasil koalisi yang tidak mudah terbaca mengenai apa latar belakang dan mengapanya dari yang berkembang.

Sayangnya media yang ada, termasuk lembaga-lembaga yang membuat berbagai survei, bahkan para pakar dan pengamat banyak memberikan analisis, assessment dan informasi yang kurang memberi pencerahan ataupun pendidikan politik membantu kita semua dalam memahami perkembangan yang terjadi.

Tidak jarang malah sebaliknya lebih menimbulkan polemik yang tidak mencerahkan pemilih. Semua ini masih ditambah kampanye hitam yang terus marak, tidak hanya di media sosial, tetapi bahkan dalam media umum. Semua ini menimbulkan tantangan yang bisa mempersulit orang menentukan pilihan.

Menghadapi semua ini di sini saya ingin menggaris bawahi pesan dari para gembala kita agar kita semua benar-benar memilih pemimpin bangsa Indonesia lima tahun mendatang secara bertanggung jawab, mengikuti suara hati sebagai pengikut Kristus yang seratus persen Indonesia.

Kita harus terlebih dahulu menyadari hak dan tanggung jawab kita sebagai pengikut Krisus dan warga negara Indonesia sejati yang benar-benar terlibat dalam hidup berbangsa dan bernegara. Keterlibatan kita sebagai warga negara yang berhak pilih dalam kaitan ini adalah menggunakan hak pilih kita secara bertanggung jawab dengan memilih secara cerdas berlandaskan suara hati.

Saya ingin mengajak Anda sekalian menghadapi Pilpres yang sudah di depan kita ini dengan mendalami pedoman dan pesan surat gembala KWI tersebut.  Kita mengawalinya dengan membuat keputusan untuk menolak menjadi golput, karena tidak menggunakan hak pilih bukan alternatif yang terbuka buat pengikut Kristus yang bertanggung jawab.

Kemudian kita lanjutkan dengan menjatuhkan pilihan secara cerdas, mendengarkan suara hati kita yang diterangi Roh Kudus. Dan hal ini akan terjadi kalau kita menyatu dengan dan ada di dalam Kristus. Apakah ini hanya kumpulan kata-kata bagus yang tak ada arti atau relevansinya?

Terlibat secara inkarnatoris
Berpegang kepada spiritualitas inkarnatoris kita mulai dengan menyadari makna dari pesan dan ajaran Kristus dalam hal hidup berbangsa dan bernegara sebagai persiapan kita untuk menjadi terlibat. Kita harus memulainya dengan menyatu dengan dan menjadi bagian dari Kristus sendiri. Kita satukan diri kita dengan Kristus, sehingga Dia ada di dalam diri kita dan kita masing-masing di dalam Dia.

Dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara kita juga harus memulainya dengan menjadi sadar akan posisi kita masing-masing terkait dengan hak dan kewajiban kita sebagai warga negara. Kesadaran ini diperlukan sebelum kita dapat menggunakan hak pilih kita secara bertanggung jawab.

Di sini kita ingat kembali apa yang diajarkan Tuhan Yesus untuk ‘memberikan kepada Kaisar apa yang wajib kita berikan kepadanya, dan kepada Allah apa yang menjadi milik Allah’ (Markus 12:17). Dua aspek kehidupan yang tidak boleh kita abaikan, hidup kita sebagai pengikut Kristus dan sebagai warga negara. Ini ditekankan kembali dalam surat gembala dalam ajakan untuk menggunakan hak pilih dan jangan menjadi golput.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.