Meneladani Ketaatan Yusuf

Ayat bacaan: Matius 1:20
===================
“Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.”

Seberapa jauh kita mampu taat kepada Tuhan? Mungkin mudah bagi kita untuk berkata bahwa kita termasuk orang yang taat, tetapi seringkali pada prakteknya itu sulit dilakukan. Ketaatan seringkali terlihat lewat reaksi kita ketika berhadapan dengan situasi sulit. Semakin sulit keadaan, maka ujian ketaatan kita pun akan makin tinggi pula tingkatannya. Jika anda membolak-balik Alkitab, anda akan menemukan begitu banyak kisah tokoh-tokoh yang telah membuktikan sendiri bagaimana ketaatan tanpa syarat mereka dalam situasi dan kondisi seperti apapun pada akhirnya menghasilkan buah yang manis. Tidak jarang hal-hal yang mereka alami begitu berat, mungkin jika seperseratusnya saja terjadi pada kita maka kita sudah menyerah. Hari ini kita akan melihat salah satu tokoh yang memiliki ketaatan luar biasa, seorang tokoh yang seringkali terlupakan untuk diteladani ketika mendekati Natal, yaitu Yusuf.

Yusuf, suami Maria, ayah Yesus di dunia ini adalah sosok yang sangat istimewa. Begitu istimewa, sehingga Tuhan mempercayakan dirinya untuk membapai Yesus di dunia. Yesus tinggal bersamanya, diberi makan dan dibesarkan olehnya, dan itu bukanlah tugas biasa. Tanggungjawab yang diemban Yusuf sesungguhnya sangat besar. Dan bukan itu saja, sikap dan terutama ketaatan dari Yusuf pun sungguh patut kita teladani.

Mari kita lihat apa yang tertulis dalam Injil Matius pasal 1. “Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.” (Matius 1:18). Maria sudah mengandung sebelum mereka menikah. Siapa yang ia kandung adalah Yesus, dan bukan bayi manusia. Artinya Maria tidak berselingkuh atau bersetubuh dengan siapa-siapa. Tetapi tetap saja, dunia melihat Maria tengah mengandung. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Yusuf yang harus menghadapi gunjingan orang-orang yang melihat hal itu. Apabila kita ada diposisi Yusuf, bisakah kita tetap berpikir positif dan tidak terburu-buru memutuskan hubungan atau melakukan hal-hal yang lebih parah? Hal yang jauh lebih kecil saja tidak jarang membuat para pria menjadi gelap mata dan melakukan banyak hal bodoh seperti menceraikan, memperkarakan atau malah melakukan kekerasan-kekerasan fisik. Tapi Yusuf tidak melakukan itu. Ia sempat berpikir untuk memutuskan pertunangannya, tetapi cintanya membuat ia tetap tidak ingin Maria mendapat malu di muka umum. Ia masih berpikir untuk menjaga perasaan Maria yang sangat ia kasihi. Dan Alkitab mencatat sikap Yusuf itu sebagai “seorang yang tulus”. (ay 19).

Ternyata keputusannya membuat Yusuf tidak harus berlama-lama diliputi kebimbangan. Malaikat mendatanginya lewat sebuah mimpi. Dan itu tercatat jelas dalam Alkitab. “Tetapi ketika ia mempertimbangkan maksud itu, malaikat Tuhan nampak kepadanya dalam mimpi dan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.” (ay 20). Selanjutnya malaikat utusan Tuhan berkata “Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” (ay 21). Meski malaikat sudah menjelaskan lewat mimpi, Yusuf bisa saja dengan mudah menolak untuk percaya. Sejauh apa sih yang bisa diharapkan dari sebuah mimpi? Kita mungkin berpikir seperti itu, tetapi Yusuf tidak seperti itu. Reaksinya adalah sebagai berikut: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya, tetapi tidak bersetubuh dengan dia sampai ia melahirkan anaknya laki-laki dan Yusuf menamakan Dia Yesus.” (ay 24-25). Kembali kita melihat ketulusan dan keteguhan imannya. Yusuf bisa saja bereaksi negatif, karena sesuai dengan logika manusia manapun, apa yang ia dengar dari Maria dan malaikat lewat mimpi tentu tidak masuk akal. Tetapi Yusuf memutuskan untuk taat, meski situasi yang ia alami sama sekali tidak mudah. Ia memutuskan untuk berbuat tepat seperti apa yang diperintahkan malaikat Tuhan sepenuhnya, tidak setengah-setengah.

Jika sampai disitu saja Yusuf sudah menunjukkan ketaatannya yang sangat luar biasa, kejadian selanjutnya semakin mempertegas hal itu. Setelah Yesus lahir, malaikat kembali menampakkan diri lewat mimpinya lalu berkata: “Bangunlah, ambillah Anak itu serta ibu-Nya, larilah ke Mesir dan tinggallah di sana sampai Aku berfirman kepadamu, karena Herodes akan mencari Anak itu untuk membunuh Dia.” (Matius 2:13). Perhatikan bahwa Yusuf belum tahu rencana Herodes pada waktu itu. Tidaklah mudah baginya untuk membawa istri dan bayi Yesus pergi ke tanah asing yang jauh, yang belum ia kenal. Tetapi lagi-lagi Yusuf menunjukkan ketaatannya. Tanpa banyak tanya, tanpa bimbang atau ragu ia pun segera memboyong istri dan sang Anak untuk pergi ke Mesir, malam itu juga. (ay 24). Buat saya, ketaaatan luar biasa dari Yusuf sangatlah menginspirasi. Sepertinya itulah sebabnya mengapa Allah memilih dan mempercayai dirinya untuk dititipkan Sang Penebus sejak dari bayi hingga dewasa. Dan kita melihat bahwa kepercayaaan Tuhan itu sama sekali tidak ia sia-siakan. Yusuf taat sepenuhnya terhadap apapun yang Tuhan perintahkan dan katakan, tidak peduli seberapa sulitnya situasi yang ia hadapi.

Ketika banyak orang menjalankan ketaatannya tergantung situasi dan kondisi, hanya mau taat ketika hidup sedang baik tetapi segera bersungut-sungut bahkan meninggalkan Tuhan ketika keadaan tidak juga membaik sesuai keinginan, mumpung suasana Natal masih terasa, marilah kita merenungkan dan meneladani bentuk ketaatan Yusuf yang tanpa syarat. Ia sepenuhnya taat menuruti apapun yang dikatakan atau perintahkan Tuhan tanpa banyak tanya, tanpa keraguan sedikitpun. Meski masalah yang ia hadapi tidak mudah, meski sebagai tunangan ia bisa saja memutuskan Maria, diliputi rasa benci, dendam yang mungkin bisa mengarah pada kematian Maria dirajam sampai mati karena dunia memandangnya hamil diluar nikah, tapi Yusuf memiliki iman yang sangat besar, yang membawanya percaya sepenuhnya pada rencana Tuhan meski sudah diluar kemampuan logika manusia.

Inilah bentuk ketaatan yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Tuhan rindu untuk mempercayakan kita terhadap hal-hal besar, tetapi dari sisi kita dituntut untuk memiliki ketaatan yang sepenuhnya. Bahkan dikatakan bahwa ketaatan bisa menjadi persembahan dan korban yang harum bagi Allah. “Sebab itu jadilah penurut-penurut Allah, seperti anak-anak yang kekasih dan hiduplah di dalam kasih, sebagaimana Kristus Yesus juga telah mengasihi kamu dan telah menyerahkan diri-Nya untuk kita sebagai persembahan dan korban yang harum bagi Allah.” (Efesus 5:2). Sekarang saatnya bagi kita untuk memperbaharui sikap hati kita dan hubungan kita dengan Allah. Kita bisa mulai dengan menjalankan ketaatan yang jauh lebih baik dari sebelumnya lewat keteladanan yang kita lihat dari Yusuf. Meski mungkin terlihat seperti sesuatu yang tidak mungkin, tidak masuk akal atau diluar nalar, kita harus tahu bahwa bagi Tuhan tidak ada satupun yang mustahil. Semakin tidak mungkin, semakin kita tahu bahwa ada hal-hal ajaib yang hanya bisa berasal dari Tuhan dan tidak mungkin kita peroleh lewat kemampuan atau kekuatan kita sendiri. Anda ingin dipercaya oleh Tuhan sepenuhnya untuk hal-hal besar? Mulailah dengan menunjukkan ketaatan seperti Yusuf.

Ketaatan merupakan sikap hati berdasarkan iman, bukan tergantung dari situasi dan kondisi yang kita hadapi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.