Menaruh Pikiran dan Perasaan dalam Kristus

Ayat bacaan: Filipi 2:5
=================
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus”

Tidak terasa kita sudah berada di bulan Desember. Sebentar lagi kita akan merayakan Natal, mengenang dan mensyukuri kelahiran Sang Juru Selamat yang datang ke dunia, atas dasar kasih Allah yang begitu besar kepada kita, sehingga kita tidak lagi harus binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal, seperti yang tertulis dengan sangat jelas pada Yohanes 3:16. Bagaimana anda mengisi Natal tahun ini? Banyak diantara kita yang sudah mulai bersiap-siap untuk liburan, tukar menukar hadiah dengan orang-orang dekat yang kita kasihi dan berbagai perayaan lain. Beberapa pusat perbelanjaan sudah mulai berbenah mendekor dengan tema Natal, lagu-lagu Natal sehingga suasananya sudah sangat terasa. Kelahiran Yesus memang sepantasnya kita sikapi dengan sukacita. Sebagai manusia tentu kita akan merayakannya melalui berbagai kegiatan yang diisi dengan kegembiraan. Tapi kita harus juga berpikir, apakah semangat Natal hanyalah berbicara atau berkaitan dengan pesta dan berbagai perayaan lainnya saja? Jika kegiatan kita hanya berkutat dalam hal-hal tersebut, maka itu tandanya kita belumlah memahami hakekat kedatangan Kristus ke dunia.

Natal adalah saat dimana kita merayakan kelahiran Yesus Kristus ke dunia. Seperti yang saya sebutkan di atas tadi, Natal ada karena kasih Tuhan yang begitu besar atas kita. Tuhan merelakan AnakNya yang tunggal turun ke dunia, mengambil rupa sama seperti kita, menebus dosa-dosa kita semua agar kita tidak binasa, melainkan bisa memperoleh kehidupan yang kekal. Lewat karya penebusan Kristus hubungan kita dengan Tuhan dipulihkan, sehingga hari ini kita bisa “dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia” (Ibrani 4:16). Ini sebuah anugerah luar biasa yang bisa kita nikmati hanya oleh penebusan Kristus.

Hari ini mari kita lihat sebuah pesan Paulus yang sangat penting untuk kita perhatikan. “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (Filipi 2:5). Pertama, lihatlah bahwa Yesus tidak menganggap bahwa kesetaraanNya dengan Allah harus dipertahankan. Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat kita, “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” (ay 6-7) Kedua, Yesus mau merendahkan diriNya untuk taat sepenuhnya menjalankan misi yang digariskan Tuhan sampai kepada kematianNya di atas kayu salib. Semua dilakukan demi menyelamatkan kita. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Ini semua Dia lakukan karena kasih yang begitu besar kepada kita, sehingga anugerah sebesar ini diberikan kepada kita yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Lewat anugerah sebesar ini, sudah sepantasnya kita meneladani apa yang telah diperbuat Kristus untuk menjangkau sesama kita pula. Kita menaruh pikiran dan perasaan kita seperti halnya Yesus. We think the way He thinks, we give love the way He loves us. Tuhan Yesus memikirkan nasib manusia, Dia peduli dan mengasihi kita, dan karena itulah Natal ada. Jika Dia mau memikirkan nasib kita, tidakkah itu berarti bahwa kita pun harus merepresentasikan itu dengan mengasihi sesama kita juga?

Lewat pertobatan kita meninggalkan kehidupan lama kita yang penuh noda untuk diperbaharui dalam roh dan pikiran,  dan menggantikannya dengan sebentuk hidup sebagai manusia baru yang telah sesuai kehendakNya dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya sesuai kehendak Tuhan. Ayatnya berbunyi sebagai berikut: “yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Efesus 4:22-24). Be constantly renewed in the spirit of your mind. Roh kita sudah diperbaharui, maka pemikiran kita pun seharusnya mengikuti itu. Pikiran dan perasaan adalah ruang-ruang yang harus selalu diisi dengan kebenaran karena keduanya bisa saling meracuni dan saling merusak, sehingga membuat hidup kita kacau apabila tidak diisi dengan kebenaran. Jadi meletakkan pikiran dan perasaan seperti Kristus akan membawa kita kepada sebuah kondisi kehidupan yang dinamis, indah dan penuh sukacita, hidup yang benar dan tentu akan mengarah kepada jaminan keselamatan yang telah dianugerahkan lewat karya penebusanNya.

Alangkah ironis jika kita yang seharusnya sudah diubahkan menjadi manusia baru tapi masih juga belum bisa menanggalkan berbagai pemikiran-pemikiran lama, masih terpusat pada kepentingan dan hal-hal yang menyenangkan atau memuaskan secara pribadi saja, tanpa tergerak sedikitpun untuk memikirkan saudara-saudara kita lainnya yang tengah menghadapi penderitaan.

Ada banyak orang yang tengah menangis memohon belas kasih akibat beratnya beban hidup yang harus mereka tanggung. Ada banyak yang masih membutuhkan pertolongan untuk meringankan beban mereka. Ketika Yesus sudah melakukan itu semua lewat kedatanganNya ke dunia ini, sudahkah kita merepresentasikan semangat Kristus itu bagi sesama kita? Apakah kita mau merendahkan diri kita juga untuk berkorban, melayani dan membantu saudara-saudara kita yang sedang menderita seperti halnya Yesus? Apakah kita meletakkan pikiran dan perasaan kita seperti Kristus, memiliki rasa belas kasih dan kerinduan untuk memberkati banyak orang, menjadi saluran berkat Tuhan kepada sesama?

Alangkah indahnya apabila Natal tahun ini kita isi dengan semangat melayani dan menjadi saluran berkat. Alangkah baiknya jika Natal tahun ini menjadi titik tolak kita untuk menempatkan pikiran dan perasaan kita seperti yang terdapat pula dalam Kristus. Marilah kita lebih peka dan peduli lagi terhadap sesama kita. Tidak akan ada perayaan Natal jika Kristus tidak datang ke dunia untuk menebus kita. Dia telah mengosongkan diri, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib sehingga memungkinkan kita untuk menikmati hadirat Tuhan hari ini dan mendapat jaminan keselamatan dalam kehidupan kekal. Demikian pula seharusnya kita bersikap. Semangat Natal sesungguhnya adalah semangat yang meneladani Kristus, dimana kita mau meluangkan waktu, tenaga dan sebagian dari yang kita miliki untuk membantu dan melayani sesama. Mereka pun ada dalam kasih Tuhan, mereka terlukis dalam telapak tanganNya dan tergambar dalam ruang mataNya. Tuhan mengasihi mereka sama seperti Tuhan mengasihi kita. Dan jika Tuhan saja mengasihi mereka, kita pun sudah selayaknya mengasihi mereka juga. Membantu mereka yang kekurangan, membagi sukacita dan berkat kepada mereka, sehingga mereka bisa tersenyum dan dapat merayakan kelahiran Kristus bersama kita tanpa harus menangis lagi. Tidak ada salahnya bagi kita untuk menyambut Natal dengan perayaan-perayaan penuh sukacita, tapi jangan lupakan mereka yang membutuhkan uluran tangan kita. Mari berbuat sesuatu agar merekapun dapat merasakan sukacita surgawi seperti kita dalam menyambut kelahiran Kristus.

Semangat Natal tergambar dari kepedulian terhadap sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.