Menanti-nantikan Tuhan (1)

Ayat bacaan: Yesaya 40:31
=================
“tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”

Menunggu adalah salah satu hal yang paling sering mengesalkan kita. Ada beberapa orang yang sifatnya agak sensitif ketika diminta menunggu. 5 menit saja menunggu maka mereka mulai uring-uringan dan kemudian memilih untuk pergi saja. Salah satu anggota keluarga yang sangat dekat dengan saya memiliki sifat seperti ini, sangat bermasalah dengan menunggu. Maka ketika saya berurusan dengannya, lebih baik saya yang menunggu lama daripada telat datang meski hanya sebentar saja. Bagi kita yang tidak terlalu sensitif dengan menunggu, tetap saja untuk jangka waktu tertentu kita lama-lama bisa merasa bosan dan kesal juga.

Menarik ketika kita melihat ayat bacaan hari ini. Ada janji untuk mendapat restorasi atau pemulihan kekuatan bagi orang-orang yang tekun menanti-nantikan Tuhan. Orang-orang seperti ini dikatakan seperti rajawali yang terkenal sebagai burung dengan daya jangkau tertinggi lewat kedua kepak sayapnya. Dalam renungan kali ini kita akan melihat apa yang dimaksud dengan menanti-nantikan Tuhan itu. Apakah itu berarti hanya menunggu datangnya pertolongan Tuhan? Menantikan Tuhan menjawab doa? Menurunkan berkat-berkatNya? Melepaskan kita dari belitan masalah? Sesungguhnya kata menanti-nantikan Tuhan memiliki makna jauh lebih luas daripada itu. Lantas apa artinya? Bagaimana/apa yang harus kita perhatikan ketika menanti Tuhan? Apa saja yang kita peroleh dari menanti Tuhan? Dalam beberapa hari ke depan kita akan melihat semua ini satu persatu.

Mari kita mulai dengan pengalaman bangsa Israel keluar dari masa pembuangan. Selama puluhan tahun bangsa ini mengalami masa sebagai budak, dan setelah dimerdekakan dibawah pimpinan Musa mereka harus pula menempuh jarak panjang selama 40 tahun lagi untuk bisa mencapai tanah yang dijanjikan. Kita tahu bagaimana keras kepalanya bangsa Israel yang terus berbuat hal-hal yang menyakiti hati Tuhan dalam perjalanan sejarah mereka dalam Alkitab, tetapi pernahkah anda bayangkan betapa lelahnya mereka ini? Bukan hanya fisik, tapi saya yakin kelelahan sedemikian rupa juga menimpa jiwa dan roh mereka. Bukannya gampang mengalami situasi seperti ini. Tapi ayat dalam kitab Yesaya yang menjadi ayat bacaan kita hari ini yang bunyinya: “tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.” (Yesaya 40:31) memberi sebuah jawaban atas segala kelelahan yang mereka alami waktu itu. Janji Tuhan ini pun berlaku bagi kita yang tengah merasakan kepenatan atau kelelahan yang luar biasa. Tuhan menjanjikan sebuah kekuatan baru, sekuat burung rajawali. Dan janji ini diberikan bagi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan.

Jika demikian, apa yang dimaksud dengan menanti-nantikan Tuhan? Orang yang menanti-nantikan mengacu kepada beberapa hal, yaitu those who expect, look for, faithfully trust and put all their hope in God. Jadi menanti-nantikan Tuhan adalah percaya, terus berharap, mencari, mempercayai dengan bersungguh hati dan meletakkan seluruh pengharapan mereka kepada Tuhan. Dengan kata lain, orang yang menanti-nantikan Tuhan adalah orang yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dan orang-orang seperti ini dikatakan akan mendapat kekuatan baru, being restored back to the fullest. Ini tentu merupakan hal yang sangat kita inginkan, terlebih bagi kita yang telah cukup lama berbeban berat atau sekedar kelelahan dalam aktivitas baik dalam pekerjaan, melayani maupun dalam rumah tangga. 

Mengandalkan Tuhan memiliki arti yang sangat penting bagi orang percaya, terlebih ketika keadaan sedang tidak kondusif. Dalam kisah Daniel yang kita baca dalam renungan terdahulu kita bisa belajar bagaimana Daniel tetap setia berdoa dan meletakkan segalanya ke dalam tangan Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dalam menghadapi fitnah yang bisa mengancam nyawanya dan itu merupakan pilihan yang tepat. Tuhan sendiri mengecam keras orang-orang yang terus mengandalkan kekuatan sendiri atau manusia lain dan melupakan Tuhan. “Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.” (Yeremia 17: 5-8). Ada perbedaan sangat besar antara orang-orang yang mengandalkan Tuhan dengan yang menjauh dari Tuhan lalu mencari pertolongan dari orang lain, kekuatan sendiri dan rupa-rupa tawaran dunia lainnya.
(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.