Memperbincangkan Pertapaan Cardoner Melung-Baturaden, Keuskupan Purwokerto (3)

JALAN menuju sukses apa pun –demikian mengutip pepatah klasik dari khasanah kesusastraan China—pastilah dimulai dari satu langkah pertama.

Rencana jangka panjang menghadirkan sebuah kompleks pertapaan katolik di lereng Gunung Slamet –persisnya di Dusun Melung, Baturaden, Purwokerto— yang kini bernama Pertapaan Cardoner tentu tidak bisa kita pisahkan dari serangkaian ‘rapat’ khusus membahas gagasan tersebut.  Bapak Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ berkenan mengirim notifikasi istimewa kepada Redaksi Sesawi.Net  berkaitan dengan minutes of meeting  yang intinya membahas rencana tersebut.

Inilah kilas balik langkah jejak pertama yang kemudian ‘melahirkan’  gerakan konkret membangun Pertapaan Cardoner di Melung, Baturaden, Keuskupan Purwokerto. Kami kutip minutes of meeting itu dari catatan resmi notulensi Kuria Keuskupan Purwokerto –sesuai isi paket kiriman data dari Mgr. Julianus Sunarka SJ—namun proses editing dan moderasi data tetap kami olah untuk memastikan mana yang perlu dipublikasikan dan mana yang tidak perlu diumumkan kepada khalayak.

Memperbicangkan Pertapaan Cardoner Melung-Baturaden

Bertempat di Hening Griya Baturaden, catatan waktu menunjukkan tanggal 4 Januari 2013.

Di penghujung tahun 2013 itu ada rapat khusus dengan agenda utama merealisir ide besar menggulirkan pembangunan Pertapaan Cardoner di Dusun Melung, Baturaden, Purwokerto.  Hadir dalam pertemuan ini adalah Bapak Uskup Diosis Purwokerto Mgr. Julianus Sunarka SJ –sekaligus penggagas dan perintis ide munculnya sebuah pertapaan katolik di wilayah administrative gerejani Diosis Purwokerto–, Romo Irwan Djunaedi, Bartolomeus, dan GMS Agung Basuki.

Bertindak sebagai ‘juru tulis’ adalah GMS Agung Basuki SH MH.

Hasil dari pertemuan itu menyepakati beberapa hal untuk kemudian hari bisa ditindaklanjuti, yakni:

  • Nama pertapaan yang akhirnya mengerucut pada identitas resmi yakni Pertapaan Cardoner Melung–Baturaden;
  • Status pertapaan;
  • Perlunya sebuah ‘statuta dasar’ tentang dan bagaimana pertapaan itu;
  • Visi dan Misi;
  • Hal-ikhwal tentang keperluan yang dibutuhkan untuk menjalani kehidupan bertapa;
  • Hal-ikhwal tentang perumahan, bilik bagi para ‘rahib’ dan isi perabot rumah tangga;
  • Kapel;
  • Perpustakaan;
  • Ruang makan atau refter;
  • Manajemen yang menyangkut pengelolaan hidup bersama, hidup doa, hidup bekerja, keuangan, kelola hidup kerohanian, ruang makan bersama. Di situ sudah tersedia demplot untuk peternakan kambing, itik dan kolam ikan;
  • Arti dasariah tentang hidup ‘bertapa’ yakni hidup diam, menyendiri dari keramaian umum untuk berdoa dan berkarya (bertani, berkebun);
  • Menyediakan makam untuk keperluan lingkungan internal;
  • Hidup mandiri yang tidak tergantung lagi kepada Keuskupan Purwokerto.

Dari berbagai pembicaraan menyangkut pokok-pokok di atas, maka selaku pimpinan Diosis Purwokerto sekaligus penggagas berdirinya Pertapaan Cardoner Melung – Baturaden, Mgr. Julianus Sunarka SJ akhirnya berkenan memutuskan hal-hal sebagai berikut:

  • Dibuat rekening khusus untuk keperluan Pertapaan Cardoner Melung-Baturaden;
  • Akan dibangun kapel, rumah tempat tinggal bagi para ‘rahib’;
  • Diputuskan mengirim para calon rahib itu belajar hidup dan berkarya di Biara Trappist Santa Maria Rawaseneng selama kurun waktu dua bulan dan Bapak Uskup Mgr. Julianus Sunarka SJ sendiri akan memfasilitasi perizinan boleh ‘nyantrik’ di Rawaseneng;
  • Tanggal 8 September 2013 direncanakan sebagai hari peresmian Pertapaan Cardoner Melung-Baturaden.

Photo credit: Santo Ignatius de Loyola dan Latihan Rohani (Ilustrasi/Arcadian House)

Tautan:

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.