Memilih dan Memilah Calon Gubernur DKI Jakarta

ADA anomali yang mengejutkan pada Pemilihan Gubernur DKI yang lalu (11 Juli 2012). Pasangan nomor urut 3 Jokowi-Ahok, yang menurut prediksi kebanyakan lembaga survey terkemuka tidak akan menempati urutan pertama, menurut rekapitulasi hasil penghitungan suara Pilgub oleh KPUD DKI Jakarta, justru memeroleh suara terbanyak, yakni 1.847.157 suara (atau 42,6% dari jumlah pemilih yang menggunakan hak suaranya).

Sementara pasangan nomor-urut 1 Foke-Nara, yang oleh beberapa lembaga survey tersebut diyakini akan memenangkan Pilgub DKI 2012, memeroleh 1,476,648 suara (atau 34,05%). Bahwa bisa terjadi anomali yang mengejutkan seperti di atas, sampai saat ini belum ada penjelasan yang memuaskan dari lembaga-lembaga survey terkait.

Sesuai keputusan KPUD DKI, akan digelar Pilgub DKI Putaran Kedua pada tanggal 20 September 2012. Kalau Putaran Pertama diikuti oleh enam pasang calon, pada Putaran Kedua ini nanti hanya dua pasangan calon yg memeroleh suara terbanyak pada Putaran Pertama, yakni pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok, yang akan maju. Bagaimana sikap kita menyambut Putaran Kedua tersebut?

Tidak berbeda dengan Putaran Pertama dan Pilkada-Pilkada lainnya, kita mesti memilih dengan nurani yang cerdas. Artinya, setelah memelajari rekam-jejak para calon, kita lantas menakar bobot mereka seturut kisi-kisi Ajaran Sosial Gereja (ASG). Kita perlu menilik kembali rekam-jejak para calon, demikian pula prinsip-prinsip ASG yang bisa dipergunakan sebagai alat takar.

Akan sangat bermanfaat apabila dapat dibentuk kelompok-kelompok kecil untuk berdiskusi dan bertukar-pendapat. Hasil diskusi kelompok maupun latihan/simulasi yang dilakukan akan menunjukkan bagaimana bobot kepemimpinan masing-masing calon. Di sinilah seninya memilih dan memilah di antara pilihan-pilihan yang tampaknya sama-sama baik. Dengan tetap menjunjung kemerdekaan masing-masing, diskusi dan simulasi semacam itu akan membantu hati nurani dalam menentukan pilihan.

Yang menjadi tujuan utama dalam setiap Pemilihan adalah bonum commune (kebaikan bersama, kesejahteraan umum), bukan kesejahteraan pemimpin maupun kesejahteraan kelompok tertentu saja. Sudah sepantasnya kita memilih pasangan yang lebih mendekati idealisme itu.

1. Masih banyak warga Ibukota Jakarta yang hidup di bawah garis kemiskinan. Pembangunan harus dimulai dari kebutuhan perkampungan rakyat Ibukota. Mereka yang terbukti dalam rekam-jejaknya konsisten dan tulus berpihak kepada orang kecil, lemah dan tersingkir, lebih bisa dipercaya; bukan yang tiba-tiba tampak dekat dengan orang kecil pada masa-masa kampanye.

2. Ibukota NKRI ibarat Indonesia mini. Kebhinekaan harus dijunjung tinggi. Kita menghendaki pemimpin yang berjiwa nasionalis dan berwawasan kebangsaan, yang memerjuangkan kebaikan bagi setiap elemen masyarakat, yang tidak diskriminatif ataupun memanfaatkan isu SARA sebagai alat politik devide et impera (antara lain melalui kampanye hitam/black-campaign).

3. Masyarakat Indonesia dikenal sangat relijius. Maka yang kita pilih adalah yang memiliki keimanan yang matang. Tandanya antara lain: menghormati manusia sebagai manusia, yang memanusiakan manusia melalui aneka program pemberdayaan, yang tidak memaksakan kehendak, yang mengharamkan laku-kekerasan (baik terang-terangan maupun terselubung) kepada manusia lain. Semakin relijius seseorang, semakin manusiawi pula tutur-bahasa, sikap dan perilakunya.

Selamat mengikuti Putaran Kedua Pilgub DKI. Selamat menggunakan hati nurani yang cerdas dalam Pemilihan. Ingat, setiap suara adalah penting karena setiap suara akan dihitung dan diperhitungkan! Dengan mengikuti pemilihan Anda telah menjadi warga Ibukota Jakarta yang bertanggungjawab karena turut mengusahakan dipilihnya Pemimpin yang berbobot, yakni yang menempatkan bonum commune di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Selamat memilih!

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.