Memerdekakan Iman Lewat Pengampunan

Ayat bacaan: Markus 11:25
======================
“Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”

memerdekakan iman, pengampunan

Beberapa hari yang lalu seorang teman bercerita bahwa ia sempat mengalami kesulitan air selama beberapa hari. Setelah ditelusuri, ternyata masalahnya bukanlah dari PAM (Perusahaan Air Minum) seperti yang ia duga sebelumnya. Masalah ternyata muncul akibat terjadinya penyumbatan pada pipa yang menyalurkan air menuju ke rumahnya. Setelah pipa dibersihkan, air pun kembali mengucur dengan baik masuk ke rumahnya. Ketika air tidak mengalir di rumah, biasanya kita akan segera menduga bahwa masalah berasal dari sumbernya, tapi ternyata masalah pun bisa terjadi dari halaman rumah kita sendiri. Keesokan harinya ada teman lain yang mengeluh bahwa doanya tidak juga mendapat jawaban. Dan saya pun teringat akan kisah air mampet di atas.

Ketika kita berdoa dan jawaban tidak kunjung datang, ada banyak di antara kita yang segera menyalahkan Tuhan. Tuhan dianggap tidak tanggap, tidak peduli atau berat sebelah. Tetangga kita doanya dikabulkan, sedangkan kita tidak. Ada beberapa perkara yang menjadi penyebabnya. Bisa jadi memang waktunya belum tiba sesuai dengan waktu Tuhan. Karena firman Tuhan berkata, “Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.” (Pengkotbah 3:11a). Yang terbaik tentulah sesuatu yang sesuai dengan waktunya Tuhan. Doa belum dikabulkan bisa jadi juga akibat dosa-dosa yang masih terus kita lakukan. “Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu.” (Yesaya 59:1-2). Alasan lainnya? Bisa pula karena perlakuan suami terhadap istrinya belumlah benar. “Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.” (1 Petrus 3:7). Dan satu lagi penghambat doa-doa kita didengar Tuhan adalah ketika kita masih menyimpan dendam dan belum bisa memberikan pengampunan. Inilah yang akan saya angkat untuk renungan hari ini.

Tidak banyak orang yang menyadari betapa eratnya hubungan antara iman dan pengampunan. Yesus pernah mengajarkan mengenai hubungan ini dalam kotbahNya mengenai sebentuk iman yang mampu memindahkan gunung hingga tercampak ke laut. (Markus 11:23). Apa yang dikatakan Yesus pada saat itu sebagai syarat adalah keteguhan hati kita. Tidak bimbang, tetap percaya, maka hal itu akan terjadi. Yesus melanjutkan pula dengan ayat yang sudah begitu kita kenal dengan baik. “Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu.” (ay 24). Tapi kemudian lihatlah ayat berikutnya. “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 25). Bahkan kemudian menekankan sekali lagi akan hal sebaliknya “Tetapi jika kamu tidak mengampuni, maka Bapamu yang di sorga juga tidak akan mengampuni kesalahan-kesalahanmu.” (ay 26). Sebelum kita berdoa, kita wajib terlebih dahulu mengampuni orang-orang yang masih mengganjal dalam hati kita. Artinya, jangan berdoa dulu sebelum kita melepaskan sakit hati atau dendam yang masih bercokol di dalam hati kita.

Ini adalah sebuah pesan penting. Pasti bukan kebetulan jika Yesus menopang gabungan kedua kalimat itu. Tuhan Yesus ingin kita tahu bahwa membebaskan orang-orang yang bersalah kepada kita adalah dasar utama untuk menerima sesuatu dari Tuhan. Tuhan selalu siap mengampuni kesalahan kita sebesar apapun, dan itu bisa terjadi apabila kita mau mengampuni kesalahan orang. “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga.” (Matius 6:14). Fakta menarik dikemukakan Yesus lewat sandingan ayat antara menerima apa yang kita doakan dengan memberikan pengampunan kepada orang-orang yang sudah menyakiti kita. Fakta itu adalah: Jangan berharap doa kita didengar jika kita masih menyimpan sakit hati dan dendam terhadap orang lain. Kita tidak akan dapat memperoleh pengabulan doa dan dendam dalam hati kita sekaligus.

Tuhan memberikan pengampunan yang tidak terbatas, dan kita pun seharusnya demikian terhadap sesama kita. Menyimpan dendam dalam diri kita, selain akan menimbulkan berbagai penyakit dan membuat kita tidak bisa melangkah maju, tapi juga membuat doa-doa kita terhalang, membelenggu iman kita sehingga tidak bisa tumbuh bahkan menghilangkan kesempatan kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Sungguh perihal pengampunan ini memegang peranan penting bagi pertumbuhan iman kita dan sangat menentukan terhadap apakah doa kita terhalang atau bisa menemukan jawaban. Tidak mudah memang, apalagi jika kita mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk memberikan pengampunan. Hampir-hampir mustahil, terutama ketika apa yang dilakukan seseorang menyisakan trauma dan penderitaan yang harus kita pikul untuk waktu yang lama. Tapi sudah menjadi perintah Tuhan bagi kita untuk bisa mengampuni, dan karena itulah kita wajib mentaatinya. Kekuatan kita mungkin terbatas, tapi serahkanlah kepada Tuhan dan mintalah Roh Kudus untuk menguatkan diri kita hingga membuat kita sanggup memberikan pengampunan. Diri kita sendiri mungkin tidak sanggup, tapi bersama Roh Kudus kita pasti sanggup.

Sesungguhnya Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dia tidak sabar untuk menjawab doa-doa kita yang tetap menanti-nantikan Dia tanpa putus pengharapan. “Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!” (Yesaya 30:18). Jika anda telah berdoa untuk sesuatu dan tidak kunjung memperoleh jawaban, tidak ada salahnya untuk kembali memeriksa hati anda. Jika anda menemui ganjalan terhadap seseorang, memiliki sakit hati atau dendam, bereskanlah itu terlebih dahulu. Mintalah Roh Kudus untuk membantu anda mengeluarkannya dari hati anda. Buanglah sumbatan pada saluran iman anda. Bebaskan iman anda dari belenggu kepahitan, sakit hati dan dendam, merdekakanlah iman anda dengan segera. Maka anda pun akan segera menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab doa-doa anda dengan begitu luar biasa, bahkan memenuhi anda dengan berkat-berkatNya yang melimpah.

Bersihkan sumbatan dan segera merdekakan iman kita lewat pengampunan

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.