Memberontak

Ayat bacaan: Yesaya 1:20
=======================
“Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.”

memberontak

Sejarah perjuangan bangsa kita sungguh penuh dengan gejolak. Sejak merdeka hingga hari ini kita masih saja melihat pemberontakan yang dilakukan baik oleh individu maupun sekelompok orang agar mereka bisa memisahkan diri dari negara yang menaunginya. Sikap memberontak ini biasanya timbul dari ketidakpuasan akan sesuatu, atau bisa juga akibat adanya konflik dengan keinginan atau kepentingan pribadi. Tidak hanya dalam skala besar mengenai bernegara, tapi di dalam pekerjaan bentuk seperti ini pun bisa terjadi. Demonstrasi hingga yang bersifat anarki dengan kekerasan masih kerap kita saksikan bergejolak di berbagai tempat. Saya pun terkejut ketika ada seorang teman dosen yang mengajak saya memboikot kampus di tempat saya mengajar, karena hingga hari ini para dosen memang belum menerima haknya. Gaji saya belum juga dibayar dan saat ini sudah hampir memasuki bulan ke 3. Menuntut sesuatu yang memang hak kita, itu satu hal. Tapi haruskah demi itu kita mengorbankan orang lain, dalam kasus saya, para siswa yang tidak bersalah? Haruskah konflik akibat mismanajemen yang terjadi di kampus menghancurkan pula kesempatan siswa-siswi untuk memperoleh pendidikan? Adilkah itu buat mereka? Atau satu pertanyaan lain yang muncul di benak saya, bagaimana seharusnya sikap kita sebagai orang Kristen ketika menghadapi ketidakadilan seperti ini?

Faktanya, kita adalah manusia yang memiliki kecenderungan untuk memberontak. Jangankan kepada manusia, kepada Tuhan pun ada banyak orang yang berani memberontak. Dengan menganggap Tuhan tidak peduli, pertolonganNya tidak cukup cepat sesuai keinginan kita, situasi yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan sebagainya, semua itu bisa menimbulkan keinginan untuk memberontak kepada Tuhan. Bukannya merenungkan dan memeriksa diri kita terlebih dahulu, tapi kita malah dengan segera menyalahkan Tuhan dan memberontak. Saya jadi ingat seorang teman ketika masa kuliah dulu yang mengaku bahwa ia sedang “musuhan” dengan Tuhan. Tidak mau berdoa, tidak mau ke gereja, tidak mau berbuat baik, hingga Tuhan mengabulkan permintaannya. Ini adalah bentuk pemberontakan yang seharusnya tidak kita lakukan. Dan hari ini mari kita lihat bagaimana sikap seharusnya dalam kekristenan.

Firman Tuhan banyak mengajarkan mengenai ketaatan. Tuhan tidak senang dengan sikap memberontak. Menyuarakan ketidakpuasan bukanlah dilakukan dengan melawan, berkata-kata kasar, atau dengan kekerasan. Menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, dan sementara itu tetap taat melakukan apa yang menjadi kewajiban kita, itulah yang seharusnya kita lakukan. Firman Tuhan jelas berkata “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.” (Mazmur 55:23). Alkitab juga mencatat banyak contoh mengenai orang-orang berkarakter pemberontak, yang dengan berani memberontak kepada Tuhan dan akibatnya harus menanggung konsekuensi. Mari kita ambil contoh Saul, raja Israel. Saul memulai segalanya dengan manis. Ia dikatakan sebagai orang yang penuh urapan, penuh Roh Allah seperti halnya nabi (1 Samuel 10:10). Tapi Saul tidaklah memiliki iman yang teguh. Ia hidup dalam ketidaktaatan, ia sering menyerah kedalam kecemasan, dan roh pemberontakan pun tumbuh dalam dirinya. Saul memulai dengan gemilang, tetapi berakhir tragis. Dan teguran Tuhan pun jatuh kepadanya lewat Samuel. “Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu. (1 Samuel 13:13-14). Pemberontakan yang ia lakukan membuat hidupnya berakhir dengan hancur berantakan.

Karakter pemberontak bukanlah karakter yang seharusnya ada dalam diri kita. Kekristenan mengajarkan kita mengenai ketaatan, bukan pemberontakan. Dari kehidupan Yesus pun kita bisa belajar mengenai ketaatan sejati, bagaimana Dia sanggup tunduk dan taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa meski harus melewati penderitaan yang tidak terperikan. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca firman Tuhan berbunyi seperti ini: Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.” (Yesaya 1:19-20). Dan lihatlah ketika janji berkat diberikan Tuhan dalam kitab Ulangan 28:1-14, Tuhan memulai firmanNya dengan: “Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.” (Ulangan 28:1-2). Segala berkat akan hadir apabila kita mendengar suara Tuhan dengan seksama, lalu melakukan DENGAN SETIA segala perintahNya. Ini berbicara mengenai ketaatan, dan itulah yang akan mendatangkan berkat. Seperti itu pula bunyi dari firman Tuhan dalam Yesaya di atas.

Dalam kehidupan kita di dunia pun kita tidak seharusnya melakukan pemberontakan. Prinsip ketaatan menjadi salah satu dasar Kekristenan, dan ini sudah selayaknya juga bisa ditampilkan oleh anak-anak Tuhan dalam kehidupannya. Kepada pemimpin pun kita diminta untuk taat. Penulis Ibrani berpesan: “Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu.” (Ibrani 13:17). Mendatangkan keuntungan? Tepat. Ketaatan yang dilakukan dengan tulus akan selalu membawa keuntungan. Saya memilih untuk tidak ikut-ikutan memboikot. Dibayar atau tidak, saya terus melaksanakan kewajiban saya dengan mengajar sungguh-sungguh, melakukan itu sepenuhnya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia apalagi sekedar mencari nafkah, dan beberapa hari yang lalu Tuhan memberkati saya lewat jalan lain, yang jumlahnya justru berpuluh kali lipat dari jumlah gaji saya. Itulah Tuhan yang setia terhadap janjiNya. Seberat atau sesulit apapun anda mengalami ketidakadilan atau tekanan saat ini, jangan pernah memberontak, apalagi terhadap Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala hal bahkan yang tidak terselami oleh pikiran kita sekalipun pada waktunya. Tetaplah taat, tetaplah lakukan apa yang menjadi bagian kita, dan lihatlah kelak bagaimana luar biasanya ketika Tuhan melakukan bagianNya.

Taat, bukan memberontak, itulah karakter dan prinsip kekristenan

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.