Memberontak Melawan Tuhan

Ayat bacaan: Amsal 29:1
====================
“Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.”

Ada sebuah keluarga yang tinggal di belakang rumah saya punya anak yang mulai menginjak masa puber. Berbeda dengan kakaknya, ia mulai menunjukkan sikap melawan setiap kali dinasihati orang tuanya. Sikap tengkarnya semakin lama semakin memburuk terutama karena, menurut ibunya, ia berteman dengan orang-orang yang punya sikap buruk juga. Belum lama ini ia memberontak untuk pergi keluar bersama teman-temannya untuk menonton konser di sebuah pasar yang letaknya sangat jauh dari rumah. Sudah diingatkan, tapi ia terus saja menegangkan urat lehernya melawan apapun nasihat dari orang tua. Ia tetap pergi dan meninggalkan telepon genggamnya, mungkin agar ia tidak diganggu oleh panggilan dari orang tua saat bersenang-senang. Apa yang terjadi selanjutnya? Disana ia dirampok, terlibat pertengkaran dengan orang mabuk dan dipukuli. Teman-temannya lari tunggang langgang meninggalkannya. Dan ia pun harus berjalan pulang dengan wajah babak belur lewat tengah malam. Jarak lokasi dan rumah yang sangat jauh membuatnya harus berjalan kaki berjam-jam. Kakinya membengkak, muka lebam, beberapa bagian tubuh untungnya tidak patah tapi terdapat luka-luka dan lebam yang lumayan. Untung ia tidak sampai kehilangan nyawa. Meski demikian orang tuanya juga yang akhirnya harus keluar biaya besar karena kebandelannya. Kapok? Tampaknya tidak. Sang ibu bercerita bahwa anaknya masih saja senang membantah dan melawan.

Tidak mendengarkan nasihat orang tua bisa mendatangkan malapetaka. Apalagi kalau kita melawan Tuhan. Sayangnya banyak orang menganggap sikap seperti itu sebagai bagian dari sifat yang memang tidak bisa diapa-apakan lagi. Atau dianggap wajar selama masa-masa tertentu. Tapi kalau kita melihat dalam Alkitab, teguran sebenarnya dijatuhkan kepada orang-orang yang hobi mengeraskan lehernya. Senang membantah, suka melawan, kerap membandel, bersikap memberontak. Lihatlah ayat ini: “Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.” (Amsal 29:1). Kata ‘bersitegang leher’ dalam versi Bahasa Inggris berbunyi “hardens his neck” alias mengeraskan leher. Dalam bahasa Inggris kata to harden the neck didefenisikan sebagai to grow obstinate; to be more and more perverse and rebellious, yakni suka memaksakan opini atau kehendak, bereaksi berlebihan dengan melawan arus hingga memberontak.

Ayat bacaan hari ini memberikan peringatan yang tegas dan keras kepada orang-orang yang biasa bersitegang leher, mengeraskan lehernya terhadap ketetapan Tuhan. Sebagian orang suka bersifat naif bahwa mereka bisa menunda-nunda untuk mematuhi peringatan Tuhan, meski tanda-tanda, peringatan, bahkan teguran keras sudah mereka terima dari Tuhan. Selalu saja ada alasan yang mereka kemukakan. Mereka pikir bisa sesukanya mengatur kapan ingin bertobat, merasa bahwa selalu ada waktu untuk terus bersenang-senang dahulu melanggar ketetapan Tuhan. Salah besar jika mengira bahwa kita dapat mengabaikan pengarahan Roh Kudus sesuka kita atau sesuka hati dalam mematuhi, kapan mereka mau dan kapan tidak. Bahkan dikalangan orang percaya sekalipun tidak sedikit yang berpikir keliru seperti ini. Mereka mungkin sadar bahwa tidak melakukan hal yang benar, mereka mungkin sudah mendapat teguran, tapi mereka berpikir untuk membiarkan itu buat sementara waktu, dan nanti pada saatnya mereka akan membereskannya dengan Tuhan. Bandel, tengkar, melawan dan memberontak. Berhati-hatilah apabila pemikiran seperti itu masih ada pada kita, sebab firman Tuhan hari ini berkata bahwa siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, suatu ketika akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi.

Ketika kita mendapat teguran lalu memilih untuk mengeraskan leher kita, mengabaikan teguran itu dan terus melanjutkan perbuatan-perbuatan yang melenceng dari Firman Tuhan, yang terjadi adalah pengerasan yang menjalar, dari leher menuju ke hati dan kepala. Bukan karena anugerah Tuhan tidak sampai menjangkau kita, bukan pula Tuhan menolak mengampuni kita jika kita berbalik padaNya, tapi segala pelanggaran yang sudah mengeraskan leher, hati dan kepala membuat kita tidak lagi dapat mendengar suaraNya memanggil, mengingatkan dan menegur kita. Jika ini yang terjadi, tidaklah heran apabila apa yang disebutkan dalam 2 Timotius 3:13: “sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan.” bisa terjadi. Terbiasa jahat akan membuat orang akan terus bertambah jahat. Tidak ada lagi kontrol dan kepekaan terhadap jebakan dosa. Orang yang terbiasa sesat akan semakin sesat, saling menyesatkan dan disesatkan, dan kemudian akan saling membinasakan satu sama lain.

Sebelum semuanya menjadi terlanjur keras, selagi kesempatan masih ada, mari kita jaga kepekaan dengan tidak bersitegang leher. Mari lembutkan hati dan kepala. Apabila teguran datang, patuhlah segera. Lakukan pertobatan dan taatlah terhadap perintah Tuhan. Ada saatnya ketika teguran yang terus dilanggar tidak lagi bisa dipulihkan. Ada saatnya kesempatan habis, pintu kesempatan untuk bertobat sudah habis masa bukanya. Itu sangat merugikan, itu sangat berbahaya. Oleh karenanya, firman Tuhan hari ini mengingatkan kita akan bahaya yang menanti di depan sana apabila kita terus berlambat-lambat untuk taat, membiarkan diri untuk terus membangkang dan melawan ketetapanNya. Kita harus segera membenahi diri, kembali kepada jalanNya agar jangan sampai diremukkan sedemikian rupa sehingga tidak bisa dipulihkan lagi.

Kebiasaan bersitegang leher bisa sangat merugikan dan menghancurkan, hindari sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.