Memberantas Wabah Korupsi, Belajar dari Cicero

Patung muka Marcus Cicero

SAAT-SAAT akhir Kerajaan Romawi ditandai dengan krisis ekonomi yang hebat, dunia yang sedang bergolak, ancaman politisi yang haus kekuasaan, dan partai-partai politik yang tidak mau bersatu bahkan saling membenci dan lempar fitnah, serta korupsi yang merajalela dan mewabah yang dilakukan oleh Penguasa bekerjasama dengan Senat (DPR). Rakyat sengsara, menderita dan hanya menjadi pemungut sisa-sisa makanan dari pesta para pemimpin yang korup, yang sesuka hati menyalah-gunakan undang-undang dan kebal hukum.

Pada saat genting itu muncul Marcus Cicero, seorang negarawan dan orator, untuk melawan para koruptor yang dianggapnya sebagai kanker pemakan jantung hati negara. Pidato perlawanannya menjadi mercusuar kebijakan (wisdom) dalam kepemimpinan dan politik. Indonesia tentu tidak atau belum separah itu. Tetapi beberapa ‘tanda zaman’ terlihat semakin menonjol seperti munculnya politisipolitisi yang bernafsu menduduki kekuasaan dengan menghalalkan segala cara yang haram, suka melempar fitnah dan kampanye hitam, golongan-golongan yang melakukan terror, kekerasan dan intimidasi, korupsi yang semakin berjemaah dan vulgar, penguasa yang melawan hukum, dan tidak takut dihukum.

Saat menuntut Gaius Verres, seorang koruptor besar Romawi, Cicero dengan jelas dan gamblang membeberkan dosa-dosa para penguasa termasuk DPR, penegak hukum yang tidak adil dan tidak jujur bahkan melanggar hukum. Mereka korupsi, menggunakan dana negara seperti milik sendiri, memindahkan kas negara ke kas pribadi, rakus (greed), mencari kenikmatan (lust) dengan pesta-pesta dan main perempuan. Akibatnya kas negara kosong, angkatan bersenjata lumpuh, penegakan hukum lemah, ekonomi hancur, rakyat menderita. Cicero meminta semua itu dihentikan segera dan menghukum seberatberatnyakoruptor. Dia mengancam, apabila hakim tidak adil atau terima suap, dia akan membawa kasus itu kepada pengadilan rakyat.

Dia ingin Pemimpin yang bersih, jujur, adil, dan tegas. Pemimpin yang tidak melindungi para koruptor. Visi-misi Capres sudah ditulis. Hanya janji-janji atau benar-benar akan dilakukan tanpa pandang bulu? Bagaimana bilamana korupsi itu dilakukan oleh anak buah sendiri, anggota partainya, atau oleh elite politik anggota Koalisi-nya? Akankah dilindungi? Apapun, pilihlah Capres yang punya hati nurani dan hanya bekerja untuk kepentingan rakyat!!!

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.