Membentuk Nurani Warga Negara Bertanggungjawab (3)

warga indonesia

SETIAP manusia memiliki hak hidup, sebuah hak fundamental memungkinkan terpenuhinya hak-hak yang lain. Setiap dari kita memiliki kebebasan memeluk keyakinan agama, yang memungkinkan kita bertindak selaras dengan kemartabatan yang telah dianugerahkan Pencipta kepada kita.

Demikian juga setiap manusia memiliki hak untuk dapat memperoleh akses yang membuat hidup mereka lebih bermartabat, seperti perumahan, sandan, pangan, papan, pendidikan, pekerjaan, layanan kesehatan. Kita semua memiliki hak dan kewajiban untuk satu sama lain agar hal-hal ini dapat tercapai.

Terhadap hal ini, umat Katolik memiliki kewajiban abadi untuk membentuk kesadaran suara hati sebagai warga negara yang bertanggungjawab sesuai dengan tuntunan akal budi, yang diterangi oleh ajaran Kristus sebagaimana kita terima melalui Gereja.

Gereja juga mengajak umat Katolik Indonesia untuk mengembangkan keutamaan kearifan (prudence) yang memungkinkan umat Katolik untuk memilih mana yang merupakan kebaikan sejati dalam situasi tertentu dan untuk memilih cara-cara yang benar untuk mencapainya.

Keutamaan ini membentuk dan melahirkan kemampuan bebas kita untuk memilih alternatif-alternatif dan menentukan apa yang tepat untuk situasi tertentu dan menyikapinya dalam tindakan. Kearifan ini harus disertai keberanian untuk bertindak dan mengambil keputusan.

Sebagai umat Katolik, kita memilih mana yang semakin memajukan kesejahteraan umum dan mempertimbangkan mana keputusan yang secara moral dapat diterima. Sebuah tujuan yang baik tidak dapat membenarkan cara-cara imoral dalam meraihnya.

Umat Katolik bisa saja memilih cara-cara berbeda untuk mengatasi persoalan sosial, namun satu hal yang pasti bahwa umat Katolik tidak dapat menghilangkan kewajibannya untuk melindungi kehidupan dan kemartabatan manusia dalam sebuah dnia yang lebih adil dan damai.

Dalam konteks Indonesia, kejujuran dan setia pada kebenaran merupakan sebuah prinsip yang mahal di tengah maraknya berbagai macam korupsi yang menghancurkan sendi-sendi bangsa ini.  Umat Katolik diminta untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang baik dan menghindari hal-hal yang jahat yang dapat merugikan eksistensi manusia itu sendiri.

Sebagai umat Katolik, kita bukanlah pemilih berdasarkan satu isu tertentu. Posisi capres atas isu tertentu, tidaklah mencukupi bagi kita untuk memberikan sebuah dukungan. Namun, posisi seorang calon presiden terhadap satu isu yang secara implisit mengandung sebuah kejahatan, seperti mendukung perilaku kekerasan, intoleran, mendorong permusuhan dan memecahbelah masyarakat dapatlah menjadi alasan sah bagi umat Katolik untuk mendiskualifikasikannya dalam pemilihan.

Umat Katolik mengembangkan prinsip, fortiter in re, suaviter in modo, yaitu kuat dalam prinsip, namun lembut dalam cara. Calon presiden yang memiliki prinsip yang tegas adalah ia yang tidak mau tunduk pada kekuasaan yang tidak memiliki legitimasi hukum, cara-cara jalanan, dan premanisme, sebaliknya, ia berani bertindak tegas menegakkan hukum, karena penegakan hukum adalah lambang dihargainya kemartabatan manusia sebagai sesama yang setara dalam hukum.

Ketegasan terhadap hukum tidak harus pula dilakukan dengan cara-cara yang keras, melainkan perlu dilakukan dengan cara dan model yang memberi ruang bagi dialog dewasa. Umat Katolik perlu menghindari cara-cara memilih calon presiden berdasarkan penampilan fisik, kekayaan, atau pencitraan melalui media.

Sebaliknya, merunut komitmen para calon presiden sebagai pelayan rakyat yang memperhatikan dan memperjuangan kesejahteraan orang-orang miskin yang terpinggirkan dan diperlakukan tidak adil merupakan sebuah keharusan.

Umat Katolik mesti menghargai makna pekerjaan. Pilihan calon presiden mestinya diutamakan pada mereka yang menghayati makna kerja, menyediakan lapangan pekerjaan yang baik, sehingga manusia dapat mengaktualisasikan hidup dan panggilannya melalui pekerjaannya serta melindungi hak-hak para pekerja.

Umat katolik perlu menghayati nilai-nilai solidaritas, sebab meskipun kita ini berbeda suku, bangsa, ras, agama, latar belakang sosial ekonomi, dan ideologi, kita semua adalah satu keluarga. Umat katolik memiliki komitmen untuk memperjuangkan keadilan, menghilangkan sektarianisme, mengakhiri perdagangan manusia, melindungi hak-hak asasi manusia, mengusahakan perdamaian, dan menghindari jalan-jalan kekerasan dalam menyelesaikan persoalan.

Umat Katolik perlu menjaga keutuhan ciptaan. Menjaga bumi adalah tanggungjawab iman setiap umat Katolik. Kita terpanggil untuk menjaga keutuhan dan kelestarian ciptaan dengan cara membangun sebuah lingkungan hidup yang sehat dan ramah bagi kehidupan manusia sekarang dan yang akan datang.

Hal-hal ini kiranya dapat membantu umat Katolik Indonesia dalam mengembangkan suara hati yang bertanggungjawab sebagai warga negara Indonesia serta dapat menjadi pedoman dalam menegaskan pilihan calon presiden pada pemilihan Presiden 9 Juli nanti.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.