Membangun Anak dengan Nilai-Nilai Kebenaran (1)

Ayat bacaan: 2 Timotius 3:1
=======================
“Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.”

Saat menikmati saat-saat teduh kemarin, saya diingatkan akan ayat ini. “Ketahuilah bahwa pada hari-hari terakhir akan datang masa yang sukar.” (2 Timotius 3:1). Masa yang sukar. Bukankah itu yang kita rasakan hari ini? Sukar, sulit, berat. Ketika mendengar kata ‘masa yang sukar’, sebagian besar orang akan segera berpikir akan kesulitan ekonomi yang memang paling menyita energi kebanyakan dari kita ketimbang kesulitan-kesulitan lainnya. Kesulitan ekonomi merupakan salah satu hal dari masa yang sukar? Boleh saja. Tetapi kalau anda baca kelanjutan dari ayat di atas, masa yang sukar sebenarnya bukan berbicara hanya mengenai kesulitan ekonomi atau bencana kelaparan yang terjadi di banyak tempat saja, tetapi jauh lebih luas dari itu. Mari kita lihat ayat-ayat berikutnya.

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah. Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya. Jauhilah mereka itu! Sebab di antara mereka terdapat orang-orang yang menyelundup ke rumah orang lain dan menjerat perempuan-perempuan lemah yang sarat dengan dosa dan dikuasai oleh berbagai-bagai nafsu, yang walaupun selalu ingin diajar, namun tidak pernah dapat mengenal kebenaran.” (ay 2-7).

Lihatlah bahwa apa yang dimaksud Paulus dengan masa yang sukar (perilous times of great stress and trouble, hard to deal with) bukanlah hanya soal ekonomi melainkan tentang kerusakan nilai-nilai moral. Dimanapun tempatnya, apabila nilai-nilai ini hancur atau merosot, maka masa yang sukar akan segera terjadi. Kalau kita perhatikan satu persatu hal yang disebutkan Paulus di atas, kita akan melihat bahwa semua itu sekarang terjadi di sekitar kita. Orang hanya peduli diri sendiri dan tidak lagi mempedulikan orang lain, menjadi hamba uang, omong besar, sombong, memfitnah, tidak menghormati orang tua, tidak tahu berterima kasih, menyingkirkan agama, tidak mengasihi, tidak mau berdamai dan sebagainya, semua itu bukan lagi hal yang langka. Semakin banyak orang yang bukannya menjauhi tapi malah mencintai dosa. Kondisi global saat ini menunjukkan hal yang sama. Nilai luhur tidak lagi menjadi prioritas, kalah dibanding pengejaran prestasi dan status. Pelajaran tentang budi pekerti, moral, etika menjadi sesuatu yang tidak lagi penting, bahkan sudah dihilangkan di banyak tempat. Membangun prestasi dan status lebih diutamakan daripada pembangunan karakter. Tidaklah mengherankan kalau kemudian manusia semakin jauh kehilangan nilai-nilai luhur atau integritas moral. Dan kalau demikian, benarlah kita sedang mengalami masa-masa yang sukar.

Bagaimana untuk melakukan upaya perbaikan? Banyak orang yang sudah lupa bahwa keluarga merupakan sumber utama yang dibutuhkan untuk membangun nilai-nilai moral. Di zaman sekarang banyak orang tua yang keduanya bekerja, atau kalaupun tidak dua-duanya, banyak yang hanya menyerahkan anak kepada orang lain untuk dididik. Sekolah dianggap paling bertanggungjawab terhadap pembangunan akhlak dan budi pekerti, mengajar moral dan etika, padahal keluarga lah sebenarnya yang merupakan benteng yang kuat untuk membangun nilai.

Alkitab sejak semula mengatakan bahwa tugas orang tua adalah untuk mengajarkan kebenaran Firman kepada anak-anaknya, bukan cuma sekali tapi berulang-ulang sehingga Firman itu bisa meresap betul ke dalam sendi-sendi kehidupan mereka. “haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.” (Ulangan 6:7-8). Dalam versi English amplified disebutkan lebih rinci: “You shall whet and sharpen them so as to make them penetrate, and teach and impress them diligently upon the [minds and] hearts of your children, and shall talk of them when you sit in your house and when you walk by the way, and when you lie down and when you rise up.” 

Lihatlah bahwa peran orang tua bagi anak bukan cuma mencukupi kebutuhan makan, sekolah dan kebutuhan-kebutuhan lainnya yang bisa dipenuhi dengan kucuran finansial tetapi lebih dari itu, pendidikan moral dan nilai-nilai luhur pun merupakan tanggung jawab orang tua yang tidak boleh diabaikan. Masalahnya adalah, untuk bisa melakukan ini orang tua mau tidak mau, suka tidak suka harus rela meluangkan waktu kepada anak-anaknya secara khusus dan bukan hanya mempergunakan waktu sisa saja. Ada yang bilang kalau yang penting adalah waktu berkualitas, tapi jangan lupa bahwa waktu berkualitas itu pun harus diikuti oleh kuantitas yang cukup. Kalau di rumah saja jarang, ketemu anak saja susah, bagaimana bisa berharap bisa membekali anak?

Singkatnya, orang tua harus bisa meluangkan waktu dengan sengaja dan tidak hanya sibuk bekerja. Kalau kesibukan begitu padat, memasukkan waktu bersama anak dan keluarga ke dalam agenda kegiatan mungkin bisa menjadi solusi yang baik. Yang penting adalah anak-anak terutama mereka yang masih dalam masa pertumbuhan memiliki waktu-waktu khusus bersama orang tuanya dimana mereka bisa diajarkan tentang nilai-nilai kebenaran, prinsip-prinsip Kerajaan dan pengenalan yang benar akan Kristus. Itu akan menjadi sangat berguna bagi masa depan mereka. Itu akan membentuk pribadi mereka sebagai orang-orang berintegritas dengan karakter tangguh, kuat dan mencerminkan terang di manapun mereka ditempatkan.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.