Membangkang

Ayat bacaan: Ulangan 30:20
======================
“…dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya..”

membangkang

Bagaimana rasanya menghadapi anak yang punya kebiasaan membangkang? Seorang teman saya merasakan sulitnya menghadapi anak dengan tipe seperti itu. Ia bercerita bahwa anaknya sejak kecil begitu pintar menjawab. Apapun yang disuruh, ia selalu memiliki alasan untuk membantah. Kita menjumpai orang-orang dewas dengan perilaku seperti ini juga dimana-mana. Ada banyak orang yang pintar berkelit dengan berbagai alasan untuk mengelak dari tanggung jawab dan kewajiban. Ada teman saya yang pernah berkata sambil tertawa bahwa sandainya ada pendidikan yang mengajarkan orang untuk berkelit dan mengeluarkan jawaban untuk mengelak, atau bahasa Jawanya dikatakan “ngeles”, maka ada banyak dari kita yang mungkin bisa mendapatkan gelar profesor karena kemahiran mereka dalam hal tersebut. Entah siapa yang mengajarkan, entah dari mana, tapi sejak anak-anak kita terbiasa mencari alasan dengan berbagai variasi jawaban untuk menolak melakukan tanggung jawab kita.

Teman saya yang memiliki anak pintar “ngeles” tadi sempat bercerita bahwa perasaannya sungguh teruji dalam menghadapi anak seperti itu. Dari kecewa, kesal, marah, sedih sampai bingung, semua itu ia rasakan setiap kali ia berhadapan dengan sikap keras kepala anaknya. Perasaan itu pula yang mungkin kita rasa ketika berhadapan dengan orang-orang dewasa dengan gaya yang sama. Tetapi berapa sering kita berpikir bagaimana perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri yang mengelak untuk taat sepenuhnya kepada kehendakNya dan terus melemparkan alasan demi alasan demi pembenaran? Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, bagaimana Tuhan yang harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri yang mengecewakanNya?

Baik disengaja atau tidak, kita seringkali menunjukkan perilaku membandel terhadap kehendak Tuhan. Ketika Tuhan berkata: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Matius 11:28), kita menjawab: maaf, tapi saya terlalu sibuk untuk itu. Waktu Tuhan menginginkan kita untuk rajin membaca dan merenungkan FirmanNya, “Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam” (Yosua 1:8), kita berkata bahwa kita tidak punya cukup waktu untuk melakukannya. Padahal Tuhan meminta kita melakukannya untuk kebaikan kita juga, seperti kelanjutan ayat diatas yang berbunyi: “.., supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” Waktu Tuhan berseru “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!” (Mazmur 46:11), kita menolak untuk diam, karena merasa diam sejenak hanyalah akan buang-buang waktu. Daripada diam, kita jauh lebih tertarik untuk terus sibuk tanpa memikirkan dampak negatif yang bisa timbul karena mengabaikan kesehatan atau kondisi jasmani dan rohani kita. Lantas ketika Tuhan berkata “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” (1 Petrus 1:16), kita malah berkata, tapi bukankah dunia ini terlalu nikmat untuk diabaikan? Ini baru beberapa contoh mengenai pembangkangan yang sudah terlalu sering kita lakukan. Padahal disetiap perintah Tuhan tersimpan janji luar biasa yang siap diberikan kepada kita sebagai upahnya. Tetapi kita justru lebih tertarik untuk urusan-urusan lainnya di dunia ini lebih dari menunjukkan ketaatan kepada Tuhan. Apa yang dirasakan Tuhan melihat perilaku-perilaku kita yang dengan berbagai alasan menomor-duakan dan mengabaikanNya? Pantaskah kita berlaku seperti itu?

Dalam kitab Ulangan kita bisa menemukan dua pilihan yang dihadapkan kepada kita. “Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu” (Ulangan 30:19). kelanjutannya mengatakan caranya, yaitu “dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya. (ay 20). Seruan ini sesungguhnya amatlah penting bagi kita, karena “..hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka.” Membangkang dan terus lebih mementingkan kesibukan dunia tidak akan pernah membawa kebaikan, justru sebaliknya membawa kerugian bagi kita. Ini bukan berarti bahwa kita salah jika serius bekerja di dunia atau sibuk melakukan aktivitas-aktivitas sehari-hari, namun janganlah semua itu menjauhkan kita dari Tuhan atau menjadikan kesibukan kita sebagai alasan untuk melupakan hubungan kita yang erat dengan Tuhan. Tuhan pun sebenarnya tidak menuntut terlalu banyak bagi kita, apalagi semua itu juga untuk kebaikan kita juga. Lihatlah Firman Tuhan berikut ini:  “Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?” (Mikha 6:8). Menghadapi anak pembangkang yang “pintar” bisa mengesalkan, mengecewakan atau menyedihkan. Menghadapi anak-anakNya yang bandel Tuhan pun tentu merasakan hal yang sama. Oleh karena itu tetaplah taat, karena bukan saja itu menyenangkan hati Tuhan, tetapi semua itu juga akan mendatangkan kebaikan bagi kita sendiri.

Taatlah dan jangan duakan Tuhan atas alasan apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.