Mematuhi Larangan

Ayat bacaan: Mazmur 81:9
====================
“Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!”

patuh larangan

Seorang teman saya bercerita bahwa anaknya baru saja teriris pisau. Untung saja cuma sedikit sehingga tidak ada masalah serius yang terjadi. Ia sudah berkali-kali mengingatkan anaknya agar tidak menyentuh benda-benda tajam tanpa pengawasannya, tetapi si anak ternyata bandel. Ia bermain-main dengan pisau di dapur, dan akibatnya kecelakaan pun terjadi. Seraya merawat jari anaknya yang teriris, ia pun menasihati anaknya kembali agar tidak membangkang dari peringatan yang sudah berulang kali diberikan. Anak-anak memang sepertinya biasa bandel, dan tidak jarang kebandelan mereka ini mendatangkan masalah mulai dari yang biasa hingga yang serius. Tetapi ada banyak pula orang dewasa yang masih saja berlaku seperti anak-anak dalam hal ketaatan. Dan akibatnya pun sama. Kebandelan atau pembangkangan tidak akan pernah membawa manfaat positif, malah sebaliknya bisa menjerumuskan, mencelakakan bahkan membinasakan.

Dalam Mazmur 81 kita bisa melihat bagaimana kesalnya Tuhan dalam menyikapi kebandelan bangsa Israel. Dengan nyaring Tuhan sudah mengingatkan: “Dengarlah hai umat-Ku, Aku hendak memberi peringatan kepadamu; hai Israel, jika engkau mau mendengarkan Aku!” (Mazmur 81:9). Tuhan peduli. Dia memberi peringatan bukan demi kepentinganNya melainkan demi kebaikan bangsa Israel sendiri. Dengarlah kalau mau, itu kata Tuhan. Apa yang diingatkan Tuhan adalah agar bangsa Israel berhenti menyembah allah-allah asing. “Janganlah ada di antaramu allah lain, dan janganlah engkau menyembah kepada allah asing. Akulah TUHAN, Allahmu, yang menuntun engkau keluar dari tanah Mesir: bukalah mulutmu lebar-lebar, maka Aku akan membuatnya penuh.” (ay 10-11). Patuhkah bangsa Israel? Ternyata tidak. Firman Tuhan selanjutnya mengatakan “Tetapi umat-Ku tidak mendengarkan suara-Ku, dan Israel tidak suka kepada-Ku.” (ay 12). Bangsa Israel tampaknya lupa atau menganggap remeh pengalaman mereka sendiri bahwa adalah Tuhan sendiri yang menuntun mereka keluar dari tanah perbudakan untuk menuju tanah terjanji yang melimpah susu dan madunya. Bukannya patuh tapi malah membandel dan mengatakan tidak suka kepada Allah seperti apa yang ditulis dalam ayat 12 tadi. Mereka menganggap Tuhan sebagai Pribadi yang egois dan demanding atau menuntut secara berlebihan. Dan akibatnya, Tuhan pun membiarkan mereka dengan pilihannya! “Sebab itu Aku membiarkan dia dalam kedegilan hatinya; biarlah mereka berjalan mengikuti rencananya sendiri!” (ay 13). Sejarah mencatat bahwa keputusan Israel itu kemudian membuat mereka terpuruk. Dijajah musuh, hancur berantakan, jauh dari apa yang sebenarnya telah disediakan Tuhan bagi mereka. Seandainya saja mereka mau mendengar, lihatlah apa yang disediakan Tuhan itu. “Sekiranya umat-Ku mendengarkan Aku! Sekiranya Israel hidup menurut jalan yang Kutunjukkan! Seketika itu juga musuh mereka Aku tundukkan, dan terhadap para lawan mereka Aku balikkan tangan-Ku. Orang-orang yang membenci TUHAN akan tunduk menjilat kepada-Nya, dan itulah nasib mereka untuk selama-lamanya. Tetapi umat-Ku akan Kuberi makan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu Aku akan mengenyangkannya.” (ay 14-17).

Kebandelan akan membawa dampak buruk bagi kita. Resikonya nyata, dan bisa jadi pada suatu ketika menjadi fatal. Kita menganggap bahwa sifat tidak suka dilarang dan cepat tersinggung ketika diingatkan itu adalah manusiawi, dan dalam banyak hal itu benar adanya. Tetapi Tuhan sesungguhnya tidak menginginkan kita menjadi pribadi-pribadi yang keras kepala seperti itu. Tuhan ingin kita memiliki hati yang lembut yang siap dibentuk. Tuhan menginginkan ketaatan kita lebih dari apapun. “Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu.” (Ulangan 10:12-13). Bangsa Israel sudah merasakan sendiri konsekuensi yang harus mereka hadapi akibat kebandelan mereka berulang kali. Anak-anak bisa terlena bermain api karena mereka tidak menyadari bahaya yang mengintai mereka, orang dewasa pun seringkali berlaku seperti anak-anak tidak menyadari bahaya yang mengancam mereka akibat kebandelan, kekerasan hati dan kepalanya. Seharusnya contoh-contoh itu bisa menjadi pelajaran bagi kita untuk tidak lagi mengulangi kesalahan seperti itu. Sebuah larangan memang terlihat seperti membatasi pergerakan kita dan membuat kita seolah tidak bisa menikmati hal-hal yang tampaknya menarik dan menyenangkan di dunia. Tetapi itu semua bertujuan baik, agar kita bisa terhindar dari masalah dan penderitaan yang dapat berujung pada kebinasaan yang seharusnya tidak perlu terjadi. Jika Tuhan masih mau mengingatkan kita meski terkadang keras, bersyukurlah, karena kita sendiri yang rugi apabila Tuhan membiarkan kita terjatuh dalam banyak masalah akibat kebandelan kita sendiri. Apakah itu langsung dari Tuhan, lewat hati nurani kita, atau lewat orang tua, saudara atau sahabat yang peduli kepada kita, bersyukurlah dan berterima kasihlah untuk itu. Jangan keraskan hati apalagi menuduh dan bersungut-sungut, sebab larangan atau peringatan yang baik yang kita terima sesungguhnya bisa mencegah kita dari bencana yang akan kita sesali pada suatu ketika nanti.

Tuhan menuntut ketaatan kepadaNya demi kebaikan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.