Memanggul Salib Menuju Surga

surga by Elieaston

DALAM Injil hari ini kita dengar: Yesus mencari kehendak Allah sampai bersedia pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga.

Yesus menegur Petrus: “Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.”

Dan Yesus menantang kita: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” Hal ini pasti sudah sering kita dengar dan juga rasanya sudah kita laksanakan. Hidup sekarang ini banyak memikul salib karena penuh susah payah dalam menjalani kehidupan. Mau apa lagi?

Tetapi nampaknya kita perlu menyimak kembali apa pesan Yesus dalam kata-kata keras itu. Yang pokok adalah mencari dan melaksanakan kehendak Allah. Kalau perlu dengan mengurbankan nyawa; paling tidak dengan memikul salib setiap hari dalam mengikuti Yesus. Apakah yang kita anggap salib itu, memang kita pikul karena mencari kehendak Allah dan mengikuti Yesus?

Sebagai pembanding, kita dapat melihat dari hidup para suster SsPS yang ada di sekitar kita. Jika kita berandai-andai, jika para suster ini bukan biarawati, menjadi perempuan macam apa mereka? Wanita karier? Ibu rumah tangga? Politikus? Tetapi mereka bukan semua itu. Mereka ada di tengah kita, bukan karena pilihan mereka sendiri; mereka ada karena mereka ditugaskan, karena mereka diutus oleh Kongregasi SsPS untuk hadir bersama kita sebagai suster.

Mereka melaksanakan apa yang menjadi kehendak Allah. Dan seringkali penugasan itu ditandai dengan berbagai bentuk salib; situasi yang tidak mereka pilih, tetapi harus mereka terima, alami dan atasi dalam melaksanakan tugas perutusan mereka. Masih ada suster yang ditugaskan ke tempat yang jauh, asing dan terbelakang, seperti di Afrika dan Pedalaman Amerika Selatan.

Jadi, belajar dari para suster ini, kita dapat meninjau ulang tujuan hidup kita: Mencari dan mengikuti rencana Allah; memikul salib mengikuti Yesus; kalau perlu dengan mengurbankan nyawa dan akan dibangkitkan pada akhir jaman. Jadi, Allah menginginkan kita kembali bersatu dengan Allah di surga.

Ketika seorang anak, masuk sekolah untuk pertama kalinya, siapa yang paling merasakan sakitnya perpisahan? Nenek, mama atau anak itu? Mungkin para orang tua lebih merasakan sakitnya perpisahan. Anak itu mengalami petualangan baru dan menegangkan. Sedangkan orang tua ditinggalkan dengan rutinitas yang sama.

Dalam perbandingan itu, ketika kita, manusia dipisahkan dari Allah di Taman Firdaus, siapa yang paling bersusah hati? Mungkin sekali Allah Bapa. Allah begitu merasakan sakitnya perpisahan, sehingga langsung merencanakan dan melaksanakan tujuanNya menciptakan manusia: membaca kembali kita pada kedekatan dengan Allah. Yesus menjadi jembatan antara kita dengan Bapa di surga.[1] Yesus melakukannya dengan mati di salib dan dibangkitkan Bapa.

Sekarang mengapa kita harus memikul salib dan mengikuti Yesus? Penjelasan Yesus: yang mempertahankan nyawa, akan kehilangan. Yang kehilangan nyawa karena Yesus, akan mendapatkannya. Menyelamatkan nyawa berarti kehilangan nyawa. Nyawa dalam bahasa Yunani adalah pneuma yang juga berarti roh. Dalam bahasa Ibrani adalah nefes, atau napas.

Dalam Kitab Kejadian, pada kisah penciptaan manusia, ditulis: Roh Allah menghembuskan nafas kepada manusia. Roh dan nafas menghembuskan hidup. Roh membuat manusia terdorong mencari Allah dan nafas adalah tanda kehidupan yang ditiupkan keluar dari diri manusia. Pada saat manusia menghadap Allah penciptanya, ia menghembuskan nafas terakhir. Mempertahankan nyawa berarti menghilangkan hidup yang terarah pada Allah.

Petrus, yang menegur Yesus, mempertahankan nyawa berarti menjadi penguasa di dunia. Itu yang diharapkan Petrus dilakukan oleh guruNya. Memimpin bangsa Yahudi mengusir penjajah Roma dan nanti menjadi Raja dan mereka akan menjadi menteri-menteri yang ikut berkuasa.

Pada zaman sekarang, mempertahankan nyawa, usaha untuk memperoleh seluruh dunia, terwujud dalam usaha mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya. Korupsi dan penipuan menghilangkan hidup dalam kebenaran. Perampasan dan pemerasan menghilangkan hidup dalam kasih. Hal ini terjadi dalam segala lapisan hidup masyarakat: politik, pendidikan, ekonomi bahkan dalam hidup sosial kemasyarakatan.

Ajaran Yesus yang tegas adalah suatu tawaran cara hidup yang lain dari kecenderungan hidup duniawi. Yesus mengajak kita memikirkan apa yang dipikirkan Allah. Yang dipikirkan Allah adalah keselamatan seluruh manusia, bukan hanya keselamatan diri kita sendiri. Hidup kita pasti ada di tangan Allah.

Sesudah penderitaan dan dibunuh, Yesus akan dibangkitkan pada hari ketiga. Petrus terpaku pada penderitaan dan dibunuh. Yesus melihat jaminan Allah pada kebangkitan hari ketiga. Kebangkitan adalah tanda dan jaminan kasih Allah yang menyelamatkan. Salib dan penderitaan adalah jawaban iman kita yang mau mengikuti Dia mewujudkan kasih Allah yang mau menyelamatkan dunia.

Bersama Yesus, kita diajak memikul salib menuju surga. Amin.

 

[1] Sally I. Kennedy: WHO FEELS THE PAIN

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: