Memandang Dari Sisi Positif

Ayat bacaan: Filipi 4:8
=================
“Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.”

memandang dari sisi positif

Dalam melakukan pekerjaan saya sebagai wartawan musik, saya seringkali menyaksikan terjadinya masalah-masalah diluar perkiraan dalam berbagai acara. Bisakah anda membayangkan bagaimana jika sound system tiba-tiba ngadat pada saat sebuah acara berlangsung, sementara penonton sudah banyak? Itulah yang pernah saya saksikan. Acara tidak lagi bisa dilanjutkan sesuai rencana, dan para musisi berupaya untuk terus bermain dengan instrumen-instrumen yang bisa dibunyikan tanpa membutuhkan listrik. Jika demikian, apa yang harus saya tulis? Haruskah saya mengkritik mereka habis-habisan dalam tulisan saya, atau sebaliknya, haruskah saya bohong dengan menganggap semua baik-baik saja? Dimana saya harus berdiri agar tetap bisa menyajikan tulisan yang menggambarkan hal yang sebenarnya tanpa harus menyinggung orang lain? Dalam banyak kesempatan lain saya pun sering menyaksikan hal-hal diluar perkiraan lainnya. Penonton yang sangat sepi, musisi datang terlambat dan sebagainya. Ayat bacaan hari ini yang berbunyi “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8) selalu saya jadikan acuan untuk menjalankan pekerjaan saya dalam menulis. Ayat ini selalu mampu menjawab dan membantu apa yang harus saya tulis agar saya bisa menyajikan laporan yang benar tanpa harus mematahkan semangat orang lain.

Apa yang saya pikirkan jika berhadapan dengan situasi diluar dugaan dalam meliput sebuah acara? Yang saya pikirkan hanya satu: tidak ada satupun penyelenggara yang ingin acaranya jelek. Apakah mungkin mereka bersusah payah berbulan-bulan dengan mengorbankan waktu, tenaga maupun biaya untuk dengan sengaja membuat sesuatu yang jelek? Tentu tidak. Jika demikian, tidakkah kita harus setidaknya menghargai usaha mereka? Itulah yang selalu saya jadikan dasar pemikiran ketika menyaksikan sesuatu yang terjadi tidak seperti yang diharapkan. Saya mengangkat sisi positif tanpa harus berbohong, dan semua itu bisa saya terapkan dengan mengacu kepada ayat bacaan hari ini. Lantas apakah saya hanya diam saja? Saya tetap memberikan masukan, tetapi saya memilih untuk langsung menyampaikannya kepada pihak penyelenggara tanpa harus menghakimi mereka dalam tulisan yang dibaca begitu banyak orang. Pikirkanlah, seandainya mental dan semangat mereka jatuh akibat dihakimi seperti itu, lalu memutuskan untuk tidak lagi mau berbuat sesuatu. Bukankah hal itu lama kelamaan akan membuat dunia musik kita sulit maju dan pada akhirnya kita juga yang rugi? Hal seperti inilah yang selalu saya tekankan kepada para kru peliput saya, sehingga tulisan yang santun dan mampu melihat sisi positif tanpa harus membohongi pembaca tetap bisa kami sajikan.

Mendasarkan pemikiran kita dari sisi positif, itulah kesimpulan dari renungan hari ini. Ketika kita dengan tajam mengkritik dan meruntuhkan semangat orang lain dan merasa lebih hebat dari mereka, tidakkah kita sadar bahwa hal yang sama pun mungkin terjadi pada diri kita pada suatu hari nanti? Dan sadarkah kita bahwa ucapan-ucapan kita bisa berdampak baik pada kemajuan orang lain, tetapi sebaliknya bisa pula mengakibatkan kehancuran bagi mereka? Alkitab mengingatkan kita untuk selalu bertolong-tolongan, saling bantu, saling support, demikian pentingnya hal itu bahkan dikatakan dengan cara seperti itulah kita memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Menjatuhkan orang lain dengan kritik, sindiran, komentar-komentar pedas dan sebagainya berarti kita melanggar hukum ini. Hal ini bukan berarti bahwa kita sama sekali tidak boleh memberi masukan atau bahkan menegur. Tetapi pakailah cara yang “gentle” dalam melakukannya. Sampaikan secara baik-baik dengan lembut tanpa mengarah kepada ucapan-ucapan yang menghancurkan mental serta semangat orang lain dan hindari melakukannya di depan orang banyak. Firman Tuhan berkata “Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.” (Efesus 4:29). Pakai perkataan yang baik bukan yang jelek, untuk membangun dan bukan dengan tujuan menjatuhkan, dan perhatikan timing atau waktu menyampaikannya. Itu kuncinya. Dan dengan melakukan itu kita bisa membuat orang merasakan kasih Tuhan dalam hidup mereka. Apa yang penting untuk kita perhatikan adalah terus menjaga hati kita dan memenuhinya dengan firman Tuhan agar suasana hati dapat terjaga dengan baik. Tanpa itu niscaya kita tidak akan pernah bisa mulai memandang segala sesuatu dari sisi positif, sebab firman Tuhan pun berkata “Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.” (Matius 15:18). Menjelang hari Natal yang semakin dekat, marilah kita menjadi terang yang menyinari sekitar kita bukan sebaliknya menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Dan salah satu caranya adalah dengan terus mengembangkan sikap positif yang terus memberkati orang lain.

Memandang dari sisi positif akan memampukan kita untuk menjadi terang bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.