Melepaskan Hak

Ayat bacaan: Markus 10:45
=====================
“Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.”

melepaskan hak, pesta natal

Sirene berbunyi nyaring dari belakang. Saya yang sedang mengemudi pun harus minggir bersama mobil-mobil lainnya yang berada di sekitar saya. Ternyata bukan ambulans yang lewat, melainkan mobil pejabat dengan plat khusus diiringi polisi “voorider” yang mengawalnya. Tidak peduli jalan macet, lampu merah sekalipun, mereka akan meminggirkan dan menabrak rambu apapun yang ada di depannya agar orang penting yang berada di dalam mobil itu bisa melintas tanpa gangguan. Mengapa harus seperti itu? “Memang sudah selayaknya, itu hak pejabat tinggi, kalau mau seperti itu ya jadi pejabat sajalah..” kata teman saya sambil tertawa. Sejujurnya saya tidak ingin seperti itu. Saya tidak ingin menabrak peraturan apapun karena sebagai manusia saya punya hak dan kewajiban yang sama di mata Tuhan. Tidak ada yang lebih tidak ada yang kurang. Jika yang lain harus mematuhi rambu, saya pun harus demikian apapun ceritanya.

Bagaimana acara atau pesta Natal yang sudah anda rencanakan? Kerap kali kita terlalu sibuk membuat pesta semegah mungkin agar bisa terlihat “wah” dan tidak memalukan di mata relasi, keluarga, kolega dan teman-teman. Begitu megahnya sampai-sampai kita lupa esensi yang hakiki dari sebuah perayaan Natal. Jika sanggup, kenapa tidak? Itu benar, dan itu hak masing-masing orang untuk mempergunakan hasil jerih payahnya. Tapi jangan lupa bahwa kita harus pula melihat sekeliling kita dan menyisihkan sebagian dari apa yang kita miliki untuk membantu mereka, meringankan penderitaan mereka, dan khususnya ketika kita menyambut Natal, mungkin bisa membuat orang lain bisa merasakan terang Kristus pula lewat diri kita. Betapa indahnya jika Natal bisa menjadi momentum titik balik seseorang, menjadi awal pertobatan dengan mengenal Kristus. Tapi kenyataannya ada banyak orang yang lebih mementingkan hak ketimbang kewajiban. Pesta mewah digelar, sementara di luar ada banyak orang yang untuk makan saja sudah menjerit. Tegakah kita? Benar, yang mencari uang itu kita sendiri, tapi apa yang kita miliki merupakan berkat Tuhan, yang harus dipakai pula untuk memberkati orang lain. Kita diberkati untuk memberkati. Apalagi hakekat sesungguhnya dari Natal justru jauh dari hingar bingar pesta.

Ayat bacaan hari ini menggambarkan tujuan Kristus turun ke dunia. “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45). Layakkah Yesus dilayani? Tentu lebih dari layak. Jika raja atau presiden dan pemimpin-pemimpin dunia saja layak, Tuhan pasti jauh lebih layak dari mereka. Tapi apakah Yesus mementingkan hakNya? Ternyata tidak. Tuhan Yesus memilih untuk melepaskan hakNya, bukannya meminta pelayanan paling mewah dan top sebagai Raja di atas segala raja, tapi justru datang untuk melayani, bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan untuk kita semua. Paulus mengatakan hal itu juga. Meski Yesus adalah Allah, namun Dia tidak merasa bahwa kesetaraan dengan Allah itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:6-7). Semua itu sebagai bagian dari besarnya kasih Allah kepada kita yang ingin kita semua diselamatkan. Untuk menggenapinya Yesus harus mengalami peristiwa yang sungguh mengenaskan. “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.” (ay 8). Semua demi kita, dan hari ini ketika kita memperoleh jawaban pasti mengenai pintu keselamatan, ketika hari ini kita bisa menikmati hadirat Tuhan yang kudus, semua itu kita peroleh lewat pengorbanan Yesus yang begitu luar biasa. Bayangkan, Yesus yang seharusnya layak mendapat pelayanan yang terbaik di muka bumi ini, lebih dari presiden atau pemimpin dunia sekalipun, tapi ternyata memilih untuk mengesampingkan itu semua demi menyelamatkan kita, menolong kita keluar dari kebinasaan, menebus semua dosa-dosa manusia di atas kayu salib. Bahkan kelahiranNya di muka bumi ini pun tidak menggambarkan sosok Putera dari Pemimpin di atas segala pemimpin. Anak pejabat atau orang terkemuka akan membutuhkan pelayanan dan tempat terbaik di muka bumi ini, namun Tuhan justru memilih kelahiran Yesus di dalam sebuah kandang. Tidak ada kemewahan, tidak ada pesta dan tidak ada gegap gempita apa-apa, namun kelahiran Yesus sungguh bermakna luar biasa besar yang hasilnya saat ini juga turut kita nikmati.

Sesungguhnya apa yang berkenan bagi Tuhan bukanlah kemewahan atau kemeriahan pesta Natal kita. Jika Tuhan menganggap itu penting, tentu Dia menurunkan Yesus dalam tahta emas yang mungkin kilaunya menerangi seluruh dunia, atau menggelar karpet merah pada setiap langkah di mana Yesus berjalan. Tapi tidak demikian. Bagi Tuhan, yang penting adalah keselamatan kita semua. Demi mencegah kita jatuh ke dalam kebinasaan, Yesus pun Dia anugerahkan hingga menyerahkan nyawa. Seperti halnya kedatangan Yesus yang bukan untuk dilayani melainkan untuk melayani bahkan memberikan nyawaNya sebagai tebusan bagi kita, demikian pula kita semua sebagai orang percaya seharusnya memiliki hati hamba, hati yang rela merendahkan diri dan melayani sesama kita, hati yang mau menyampingkan atribut-atribut duniawi yang kita miliki dan turun langsung memberkati orang lain lewat pelayanan kita. Uluran tangan kita bisa bermakna seperti tetes embun di padang gurun, bagai sinar yang menerangi kegelapan bagi orang lain. Sungguh bagi Tuhan satu nyawa sekalipun sangatlah berarti. “Demikian juga Bapamu yang di sorga tidak menghendaki supaya seorangpun dari anak-anak ini hilang.” (Matius 18:14) Karena itu tidaklah mengherankan jika firman Tuhan berkata “akan ada sukacita pada malaikat-malaikat Allah karena satu orang berdosa yang bertobat.” (Lukas 15:10). Itulah sukacita yang sesungguhnya. Bukan dari kemewahan pesta atau gegap gempita perayaan Natal, melainkan jika ada orang yang bertobat lewat pelayanan atau uluran tangan kita.

Sudah saatnya bagi kita untuk kembali kepada pesan Natal yang sesungguhnya, yaitu meneladani Allah yang memberi karena Dia teramat sangat mengasihi kita semua. Natal merupakan saat dimana kita memperingati kelahiran Yesus, dimana kelahiranNya adalah untuk menyelamatkan kita semua. Itu adalah pemberian yang luar biasa besar, dan itulah yang seharusnya kita teladani dan jalankan. Pesta meriah tentu boleh saja, itu hak masing-masing orang, tapi ingat bukan pestanya yang penting di mata Tuhan, walau di mata manusia mungkin penting, tetapi bagaimana esensi Natal itu kita amalkan sehingga kita bisa membuat sorga bersukacita karena ada orang yang dijamah Tuhan melalui peran kita sebagai terang dan garam. Siapkah anda merelakan hak-hak anda untuk disampingkan dan melakukan sesuatu agar orang bisa mengenal Tuhan? Membantu dalam hal-hal besar tentu baik, namun seutas senyum tulus sekalipun bisa begitu besar artinya bagi orang lain. Mari belajar mengasihi sesama kita, seperti Tuhan pun mengasihi semua manusia tanpa terkecuali, dan mulai melakukan sesuatu dimana Tuhan dipermuliakan.

Belajarlah untuk rela melepaskan hak-hak kita secara duniawi untuk melakukan pekerjaan surgawi

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.