Melawan Arus Dunia (1)

Ayat bacaan: Kejadian 6:11-12
=========================
“Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.”

Sekiranya anda bekerja dengan serius menciptakan sesuatu dengan sepenuh hati, meletakkan semua yang anda miliki untuk membuat sesuatu yang terbaik, tapi setelah selesai hasilnya bukan membanggakan tapi malah mengecewakan, rusak, apa yang akan anda rasakan? Tentu rasa sedih, kecewa dan kesal atau bahkan marah akan memenuhi perasaan kita. Pernahkah anda membayangkan perasaan Tuhan yang menciptakan alam semesta, jagad raya beserta isinya, kemudian manusia yang secara istimewa dibentuk menurut gambar dan rupaNya sendiri, yang kemudian diberi tugas untuk mengelola seluruh ciptaanNya yang lain agar baik adanya; tepat seperti yang ada dibenak Tuhan ketika Dia menciptakan semuanya dari tidak ada menjadi ada; tapi kemudian yang ada hanyalah kerusakan? Manusia memalingkan muka dariNya dan pergi menyembah ilah lain, mencari kesenangan sendiri, tidak peduli dengan apa yang Dia katakan dan inginkan, saling menghancurkan satu sama lain, memusnahkan, merusak, membinasakan… Letakkan diri anda pada posisi Sang Pencipta, hati anda tentu akan hancur melihatnya.

Ketika pulang ke rumah, tepat di depan saya ada sebuah mobil mewah berpelat B yang menumpahkan isi plastik yang berisi sisa makanan, tisu, kaleng minuman dan sebagainya di tengah jalan. Kemudian seorang pemuda mengeluarkan sebagian tubuhnya dari jendela, mengangkat tangan ke atas dan tertawa-tawa. Ternyata tinggal di kota yang memiliki tingkat polusi salah satu yang terparah di dunia tidak juga membuat manusia jera dan mulai berpikir untuk melestarikan lingkungan. Peperangan yang ironisnya mengatasnamakan kemanusiaan, pertikaian atau pembantaian dengan dasar etnis, agama, golongan, penindasan, ketidak-adilan, kesenjangan sosial, krisis ekonomi, semua ini terus terjadi dengan mengedepankan pembenaran diri sendiri atau malah berani membawa-bawa Tuhan untuk melegalisir perbuatan-perbuatan jahat. Hutan ditebang dan dibakar untuk dijadikan lahan membangun, area-area serapan air dijual belikan demi keuntungan sesaat, korupsi, penipuan, pembunuhan karakter, polusi, semua ini terus terjadi. Orang tidak juga kapok, tidak juga bertobat. Berbagai bentuk penyesatan hadir lewat berbagai cara dan gaya, mulai dari yang terang-terangan sampai yang dikemas sangat rapi sehingga sulit terdeteksi. Anda akan terkejut jika mengetahui bagaimana perusakan moral dan penyesatan hadir lewat berbagai hiburan, lebih dari apa yang anda bisa bayangkan.

Pada zaman Nuh kerusakan yang ditimbulkan oleh perilaku menyimpang manusia sudah sedemikian besar. Alkitab mencatat kejadian saat itu sebagai berikut: “Adapun bumi itu telah rusak di hadapan Allah dan penuh dengan kekerasan. Allah menilik bumi itu dan sungguhlah rusak benar, sebab semua manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi.” (Kejadian 6:11-12). Perhatikan kata rusak dalam ayat ini sampai diulang 3 kali. Rusak di hadapan Allah, sungguh rusak benar, manusia menjalankan hidup yang rusak di bumi. Ini menunjukkan bahwa kerusakan di zaman Nuh memang benar-benar sudah parah. Dari segi moral, perilaku maupun kerohanian, semuanya rusak parah. Tuhan kecewa dan marah melihat itu semua. Begitu kecewa dan pilu hatinya, sehingga Dia bahkan mengatakan menyesal telah menjadikan manusia. “Ketika dilihat TUHAN, bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecenderungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata, maka menyesallah TUHAN, bahwa Ia telah menjadikan manusia di bumi, dan hal itu memilukan hati-Nya.” (ay 5-6). Meski demikian, ternyata ada pengecualian kepada seseorang. Kerusakan yang terjadi secara total itu ternyata tidak didapati dalam diri Nuh.

Nuh sangat berbeda dari orang dunia pada masa itu. Ketika Tuhan mengatakan menyesal menciptakan manusia yang rusak di dunia yang rusak, Alkitab mencatat bahwa ternyata pada jaman yang sama “Nuh mendapat kasih karunia di mata TUHAN.” (ay 8). Dunia boleh rusak, tapi ternyata Nuh bisa menolak untuk ikut-ikutan terseret arus penyesatan dan penyimpangan seperti apa yang terjadi di sekelilingnya. Nuh memperoleh kasih karunia di mata Tuhan karena alasan ini: “Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah.” (ay 9). Kualitas Nuh yang membedakan ada dua hal: ia seorang yang benar tidak bercela, dan Nuh bergaul dengan Allah. Mudahkah bagi Nuh untuk bisa demikian? Pasti tidak. Seperti kita yang hidup di tengah-tengah dunia yang jahat, demikian pula Nuh saat itu hidup ditengah kemerosotan moral dan rohani yang begitu parah. Seperti kita, Nuh pasti mengalami berbagai godaan dimana ia bisa jatuh terseret ke dalam dosa. Namun nyatanya Nuh tetap bisa hidup dengan benar, tetap hidup tidak bercela dan memiliki hidup yang bergaul erat dengan Allah. Hal inilah yang membuat Nuh berbeda dan diganjar kasih karunia oleh Tuhan serta diselamatkan dari bencana air bah.

Nuh berani tampil beda melawan arus dunia. Nuh sadar betul untuk mengambil pilihan hidup taat kepada Tuhan. Inilah sebuah standar hidup yang seharusnya dimiliki oleh anak-anak Tuhan. Nuh menyadari betul bahwa ia tidak harus ikut-ikutan terseret arus dunia atas alasan apapun. Kalau Nuh bisa dan kemudian dipenuhi kasih karunia oleh Tuhan, bagaimana dengan kita? Seringkali kita memilih berkompromi terhadap dosa dan mencari pembenaran karena kita terlalu takut untuk disisihkan atau dipinggirkan dari pergaulan, takut dianggap tidak gaul dan disingkirkan dunia. Kita begitu terobsesi kepada kemewahan sehingga menghalalkan segala cara agar bisa memperoleh semuanya. Kita terus memakai cara pandang dunia akan segala sesuatu yang mendatangkan kebahagiaan, kesenangan dan lain-lain lalu mengabaikan cara hidup menurut Kerajaan Surga yang seharusnya dihidupi orang percaya.

Kedekatan Nuh yang bergaul dengan Tuhan secara erat membuatnya memiliki iman dan ketaatan yang luar biasa. Mari kita lihat sebuah bukti dari iman dan ketaatan Nuh pada Tuhan. Jika kita membaca Alkitab sebelum zaman Nuh, tidak ada satupun catatan yang menyatakan bahwa hujan besar pernah turun. Dan pada saat itu, Nuh disuruh membangun sebuah bahtera berukuran sangat besar, saat ia sudah berusia lanjut. Di masa senjanya, Nuh diminta untuk membangun sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya, sesuatu yang tidak masuk akal, bertentangan dengan logika dan pasti tidak mudah karena olok-olok atau cemooh pasti setiap hari hadir dari orang-orang dunia saat itu. Tapi Nuh tidak peduli dengan semua itu. Ia berani tampil beda dengan dunia apapun resikonya. Ia memilih untuk tidak mengikuti dunia yang rusak. Itu bentuk iman Nuh, yang memilih untuk taat sepenuhnya kepada perintah Allah. Penulis Ibrani kemudian menyinggung hal ini. “Karena iman, maka Nuh–dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan–dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya.” (Ibrani 11:7).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.