Melakukan Hal Nyata Bagi Bangsa (1)

Ayat bacaan: Yeremia 29:7
====================
“Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.”

69 tahun kita sudah merdeka, seperti apa bangsa kita saat ini? Secara hukum negara kita adalah negara yang berdaulat. Undang-Undang sudah dibuat dimana kesejahteraan rakyat atau warga negara yang hidup di dalamnya terjamin, mendapat kepastian hukum, keamanan dan keadilan. Selama 69 tahun negara ini berdiri, sudahkah semua itu ada? Jawaban mungkin beragam. Negara yang seharusnya makmur karena memiliki begitu banyak kekayaan alam ternyata masih terlilit hutang dan hasil buminya habis diporoti negara-negara lain yang lebih kuat. Harga bahan-bahan pokok atau kebutuhan primer terus ngebut naik sementara pendapatan merangkak kalau tidak bisa dibilang jalan di tempat atau bahkan menurun. Perlindungan kepada kaum minoritas masih terus menjadi kendala, ketidakberdayaan pemerintah menghadapi ormas-ormas atau kelompok-kelompok tertentu masih terlhat jelas, apalagi kalau mereka ini punya ‘backing’ kuat. Korupsi masih mewarnai berbagai lapisan dalam pemerintahan dari hulu sampai hilir. Semua masih menjadi pekerjaan rumah yang harus dipikirkan agar bisa menjadi negara seperti yang dicita-citakan para pendirinya. Tapi tidak adil juga kalau kita hanya terus melihat sisi-sisi buruk. Hal yang positif adalah bahwa trend negara ini terus menuju kepada kondisi yang lebih baik. Munculnya orang-orang bersih yang diberi kesempatan untuk memimpin beberapa daerah ternyata membuka mata kita bahwa masih ada orang-orang berintegritas yang peduli terhadap nasib bangsa, tidak hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya saja tetapi mau mendahulukan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadinya. Kepedulian terhadap penderitaan orang lain masih ada, dan orang-orang yang mengedepankan kebersatuan ditengah kemajemukan belum habis.

Bagaimana dengan kita? Kalau kita termasuk orang-orang yang memimpikan tatanan kehidupan yang jauh lebih beradab, lebih baik, lebih damai, lebih bersatu dan lebih-lebih positif lainnya, apakah kita sudah berbuat sesuatu untuk itu atau kita masih menjadi orang-orang yang hanya mengeluh tanpa mau mengambil langkah apapun? Ada orang yang pernah berkata kepada saya bahwa ia merasa tidak perlu berbuat apa-apa karena apalah artinya satu orang dibanding sekian ratus juta orang lainnya dalam membenahi perjalanan bangsa ini ke depan. Benarkah demikian? Salah seorang kandidat pemimpin negara pernah mengatakan bahwa ia mencoba terjun langsung ke gelanggang pemilihan karena ia tidak mau menjadi orang yang hanya berpangku tangan dalam impiannya akan sebuah negara yang lebih baik. Ia tidak mau hanya menjadi komentator atau jago mengeluh, tapi ia memilih untuk terjun langsung agar bisa membenahinya. Ini adalah sebuah sikap yang sangat baik karena Tuhan sendiri tidak mau kita hanya diam saja tetapi iman yang ada di dalam diri kita wajib dicurahkan lewat berbagai bentuk tindakan nyata. Mungkin kecil, mungkin terlihat tidak membawa perubahan apa-apa dalam waktu singkat, tetapi percayalah apapun yang baik yang kita lakukan sesuai dengan ketetapan dan kebenaranNya, seturut kehendakNya, sesuai panggilan kita masing-masing dan dilakukan demi namaNya tidak akan pernah berakhir sia-sia. Kalaupun di dunia ini belum berdampak besar, setidaknya di mata Tuhan itu akan punya nilai dan akan sangat diperhitungkan.

Firman Tuhan banyak berbicara akan hal ini. Bahkan ada ayat-ayat yang menggambarkan bahwa meski sedikit, kalau memang yang sedikit itu benar-benar mengamalkan firman Tuhan secara nyata, maka itu mampu mencegah turunnya murka Tuhan dan berkenan mencurahkan berkatNya bagi seisi bangsa. Itu bisa kita lihat lewat kisah pada saat Abraham memohon kepada Tuhan agar Dia mengurungkan niatNya memusnahkan Sodom beserta isinya dalam Kejadian 18. Abraham memohon: “Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?” (Kejadian 18:25). Tuhan meresponnya seperti ini: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (ay 26). Ternyata disana saat itu jumlah orang benar ada dibawah 50 orang. Tawar menawar terus terjadi, hingga “Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (ay 32). Seandainya ada 10 orang saja yang sungguh-sungguh hidup benar maka Tuhan tidak akan menghukum Sodom sekeras itu. Mengingat bahwa Tuhan memutuskan untuk menghukum Sodom, artinya jumlah orang benar yang hidup disana sudah teramat sangat kecil, atau mungkin malah tidak ada sama sekali lagi. Padahal jika ada 10 orang saja, 10 orang benar, orang peduli dan tidak apatis, orang yang taat dan takut akan Tuhan, Tuhan akan mengampuni bangsa Sodom beserta semua orang yang hidup didalamnya.

Seperti apa orang benar yang dimaksud Tuhan ini? Orang benar bukanlah sekedar orang yang mengaku percaya saja tetapi mereka yang mengamalkan, menerjemahkan atau mewujudkan imannya ke dalam bentuk-bentuk perbuatan nyata. Bukan sekedar mengaku lantas di saat yang sama ikut melakukan perbuatan-perbuatan buruk, bukan sekedar mengaku lalu hidupnya masih sama sekali tidak mencerminkan pribadi Kristus, bukan pula orang-orang yang tampak seolah suci tetapi hanya diam saja tanpa melakukan apapun bagi bangsanya. Jadi bisa saja ada ribuan bahkan jutaan orang yang mengaku sebagai umatNya, tetapi kalau tidak berbuat apa-apa atau malah masih lemah sehingga terus terseret ke dalam berbagai penyimpangan kebenaran firman dan belum aktif sebagai pelaku firman, maka semuanya akan sia-sia saja.

Dalam kitab Yeremia ada sebuah ayat yang menunjukkan peran orang percaya dalam hubungannya dengan kesejahteraan kota dimana kita/mereka tinggal. “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” (Yeremia 29:7). Bagi saya ayat ini berbicara sangat banyak meski bentuknya hanya terdiri atas satu kalimat singkat saja. Ijinkan saya mengulasnya satu persatu.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.