Meja Makan tanpa Tahu Tempe: Masih Bisa Berbangga Diri? (2)

ANEH juga, kalau para pejabat tinggi di negeri ini masih berani mengklaim Indonesia  sebagai negara agraris dan kepulauan. Padahal, sudah bertahun-tahun lamanya Indonesia terang-terangan mengimpor beras, kedelai dan beberapa komoditi penting lainnya.  

Padahal,  dulu kita mengenal Nusantara  ini sebagai negeri insuler dengan sejarah panjang tentang kisah kedigdayaan para pelaut tradisional. Mereka telah gagah berani membelah perairan tanpa batas hingga berhasil mendarat kemana pun angin membawa mereka pergi. Namun, sekarang di lautan pun kita  justru sudah menjadi pecundang di negeri sendiri.  Seorang Kepala Staf TNI AL bahkan dengan nada seloroh pernah berujar serius menggambarkan ide kontras antara semboyan dan kenyataan riil di lapangan. 

Yang mestinya “Di Lautan Kita Berjaya” —kata laksamana bintang empat itu beberapa tahun silam—ternyata “Di Lautan pula, kita malah memble”.  Ikan dicuri, lahan subur telah secara massif dibuat jadi areal permukiman, sungai dicemari limbah, dan masih banyak lagi kisah sedih lainnya. 

Tanpa identitas

Bolehlah saya berkata, Indonesia tanpa tahu-tempe ibarat seperti sebuah negara tanpa identitas. Bukan karena kita tidak punya ideologi, melainkan karena kehadiran tahu-tempe itulah yang membuat roda ekonomi  jutaaan orang Indonesia berjalan.  

Ingat juga, bahwa berkat tahu-tempe itu pula warna-warni hidup sosial  masyarakat ikut bersorak senang.  

Pacaran tanpa makan tahu pong, jelas ampyang. Jalan jauh dan kemudian lapar, maka tahu Sumedang menjadi pilihan paling enak dan pas untuk ngemil dalam perjalanan. Mau makan sedikit pedas, ya belilah tahu gejrot asli Cirebon. Makan pecel tanpa tahu petis Surabaya, kok ya jadi kurang lengkap. 

Ada urap tapi  tanpa sayur lodeh tahu-tempe, maka orang di kampung akan mengeluh tidak enak. Juga kalau di rumah tidak ada sayur tumpang atau lethok menurut lidah orang Klaten, tak urung saya pun jadi mrengut  karena sayur lethok adalah makanan favorit saya setiap kali mudik menjenguk tanah kelahiran. 

Balada tahu-tempe ternyata menyentuh elemen paling dasariah setiap orang Indonesia.  

Berkat tahu-tempe, kita menjadi sehat. Berkat tahu-tempe itulah, mas-mbak penjual sayuran keliling menjadi murah senyum karena dagangannya laku keras. Karena tahu-tempe, aneka resto senantiasa buka pintu untuk menjual aneka jajanan tahu dengan label menu kuliner asli Indonesia. Maka lalu ada tahu gejrot, petis, pong, Sumedang, sayur lethok, tumpang, sambel tempe bawang, tempe goreng.  

Wisata di Kaliurang, Yogya pun bisa kena imbas. Tanpa tahu-tempe bacem –menu kas kuliner asli Telogo Putri— maka menikmati gurihnya jadah di malam yang dingin di Kaliurang ibarat menyaksikan gadis muda rupawan jalan di depan kita tanpa segurat senyum manis tersembul di ujung bibirnya. 

Saya jadi sedih karena tahu-tempe  mulai hilang di pasaran, termasuk di meja makan rumah.  Dan saya menjadi lebih murung lagi,  setelah tempe, nantinya  tahu pun akan diklaim negeri jiran sebagai makanan tradisional asli Malaysia. 

Duh Gusti…, paringana sabar!

Artikel terkait: Meja Makan tanpa Tahu Tempe (1)

Photo credit: Sekeluarga pengrajin tahu tradisional di Singkawang, Kalimantan Barat (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.