Meditasi Seorang Politisi: Berpolitik dengan Kasih

Menjadi politisi by Wikihow

SEKALIPUN aku fasih bicara dengan dialek rakyat yang aku layani, dan berkampanye dengan kuasa orator ulung; sekalipun seperti seorang insinyur aku mengkalkulasi setiap detil dengan cemerlang; sekalipun janji politikku menggetarkan ribuan pendengarku; sekalipun seperti guru besar aku mampu merumuskan visi misi yang spektakuler namun tanpa kasih, pesanku itu kosong.

Meskipun aku memiliki kharisma kepemimpinan, kelihaian diplomatik dan administrator dalam musyawarah nasional dan lobi-lobi, meski aku memiliki talenta untuk mengumpulkan dana yang besar, meski aku mampu mengumpulkan sekutu-sekutu politik, meski aku berhasil meng-golkan manifesto dan undang-undang namun tanpa kasih, aku tidak terlalu berarti apa-apa.

Meskipun aku menyumbangkan gajiku untuk mereka yang miskin, namun aku tidak membantu orang-orang terdekatku menjadi jujur, sepi ing pamrih dan bertumbuh kian kuat dalam panggilan politik sejati, aku pada dasarnya tidak mencapai apa-apa.

Kasih, apabila sungguh murni dalam hidup dan karya politikus, mestinya sabar dan konstruktif.
Kasih itu jujur dan tidak korup.
Kasih tidak mencari kekuasaan, posisi maupun prestise.
Kasih itu bahagia melihat sesama yang berkompeten maju berkembang dan tidak iri hati.
Kasih itu mendorong kepemimpinan rekan muda.
Kasih tidak mengagungkan ide-ide kehebatan sendiri.
Kasih tidak cemas apabila rekan lain dianggap lebih penting.
Kasih berbela rasa dengan sesama terutama wong cilik dan tidak pernah arogan serta berpusat pada diri sendiri.

Kasih yang murni tidak pernah meremehkan siapa pun. Kasih itu tidak mengumpulkan statistik kesalahan rekan bahkan lawan politik, litani keluhan atau data negatif untuk kampanye hitam. Kasih itu berusaha menanggung sukacita dan kesulitan, kegagalan dan kesuksesan dalam cara yang membangun. Kasih tidak akan mudah terprovokasi ketika ada perbedaan ide, cara menyelesaikan masalah, pendekatan politik, serta perbedaan kultural yang ada. Kasih juga tidak mudah terprovokasi ketika rumor tersebar, gossip dibumbui. Kasih tidak menggunakan kekerasan dengan isu SARA.

Kasih percaya apa yang paling baik.

Kasih itu apabila murni berarti suatu partnership. Lebih baik gagal namun dikerjakan dalam spirit kerjasama ketimbang sukses namun dikerjakan sendiri. Kasih itu terbuka pada yang lain, tidak menyembunyikan perasan luka. Kasih tidak memblokade pemahaman, kasih itu bersuka hati dalam sharing kebenaran.

Kasih apabila berwawasan terbuka berarti mau mencoba metode baru dalam menjalankan sesuatu. Kasih tidak mengagungkan masa lampau sehingga membatasi visi baru. Kasih memberi keberanian untuk mengubah cara lama ketika dibutuhkan, fleksibel mengadaptasi bentuk baru yang terpercaya agar mampu menjawab konteks politik kultural yang baru. Jika kita tidak siap untuk beradaptasi dan berubah, kita akan memiliki banyak pendukung sistem lama namun kita tidak punya suara baru, kita memiliki penanggungajwab partai atau institusi namun bukan pencari kebenaran, kita memiliki orator namun tidak memiliki nabi. Kita menjaga semak belukar rapi terpotong dengan menyewa tukang kebun dan perlengkapan modern namun dalam semak itu tidak ada nyala api.

Kasih yang mempercayai seperti anak kecil tidak pernah gagal. Partai besar mungkin hancur, gurita bisnis bisa bangkrut, sekolah atau perguruan tinggi yang kaya dan terkenal dalam mendidik murid menjadi pandai bisa tutup. Namun kebijaksanaan yang mengarahkan orang pada kebenaran tidak pernah gagal. Pengetahuan manusia tidak akan pernah lengkap tanpa DIA, yang adalah “jalan, kebenaran dan hidup”. Kasih yang tidak memiliki keinginan apa pun kecuali percaya, tidak akan gagal.

Kita berada dalam periode perubahan dan transisi. Kita ingin tahu kemana kita menuju dan apa yang akan terjadi dengan bangsa dan negara kita.

Ketika negara masih dalam tahap kanak-kanak, hidup berbangsa masih sederhana dan mungkin belum demokratis. Kekuasaan dan otoritas ada di tangan segelintir orang. Namun sekarang ketika negara telah bertumbuh berabad lamanya dan mengarah ke kedewasaan, ketergantungan kekanak-kanakan harus dibuang jauh. Kini di tanah rakyat, harus ditanam dalam-dalam nilai Kasih yang hidup, bergelora dan membumi. Rakyat bukan hanya mampu menghidupi diri sendiri, mampu mengembangkan diri namun juga memimpin diri sendiri menuju bangsa yang bermartabat dan sejahtera.

Namun apapun yang terjadi, apapun arah angin perubahan akan mengantar, ada satu kepastian: Tuhan kita tidak akan meninggalkan karyaNya tanpa saksi-saksi. Melalui penciptaan dan penebusan, Dia menyempurnakan rencanaNya dalam dan melalui sejarah meskipun segala sesuatu nampaknya membingungkan, mengherankan dan kadang tanpa harapan.

Yakinlah bahwa institusi mungkin akan hilang namun pekerja yang merajut karyanya dengan tangan yang terulur bagi mereka yang membutuhkan serta mewartakan pesan keselamatan Kristus, yang mati dan bangkit lagi serta hidup, tidak akan pernah mati. Dalam hidup ini hanya ada tiga keutamaan yang mengagumkan yakni iman, harapan dan kasih. Namun yang terbesar adalah kasih.

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.