Media Kristen, Mana Suaramu?

Posted on

SUDAH  kita ketahui bersama media-media Kristen atau majalah yang dikelola gereja diterbitkan sebagai media komunikasi masing-masing gereja. Akan tetapi tak dapat dipungkiri kehadiran media tersebut kebanyakan “asal ada”  dalam arti  dikelola secara  “sambilan”. Hanya segelintir yang dikelola secara profesional.

Para pekerjanya selain berbekal kemampuan jurnalistik seadanya selalu bertugas merangkap-rangkap mulai dari menulis sampai mendistribusikan sendiri majalahnya sehingga jauh dari etos kerja profesionalisme jurnalistik sesungguhnya.

Akibatnya info-info yang ditulis tak membumi dan jauh dari realitas. Jikalau ada hasilnya kebanyakan hanya mengutip dari media yang sudah ada sehingga keberadaan media-media Kristen seperti di antara penting dan tidak penting.

Terlambat terbit  dianggap lumrah,  tepat waktu  biasa saja meskipun pada sampul-dalam-depan dimunculkan sederet nama penting.

Penerbitan buku-buku Kristen juga tak banyak bergerak menjadi karya yang progresif karena lebih banyak jatuh pada khotbah semata. Penulis-penulis Kristen yang baik memang ada tapi tak banyak buku atau artikel bermutu yang dihasilkan karena buku yang diterbitkan kebanyakan (selalu) hanya karya para pendeta saja.

Regenerasi penulis Kristen akibatnya tak tampak. Untuk hal ini kita bisa iri pada keberhasilan komunitas Forum Lingkar Pena yang berhasil menelurkan regenerasi penulis Islami di samping berhasil membentuk jaringan luas.

Penyusunan program acara bernuansa Kristiani di televisi juga menyimpan masalah yang sama. Film atawa sinetron yang hanya muncul di hari Paskah atau Natal digarap dengan tidak menarik karena pesan moral yang disampaikan terlalu gamblang sehingga jauh dari realitas akibat talenta-talenta Kristen yang baik di bidang seni maupun media terpencar-pencar dan asyik dengan dunianya sendiri sehingga tenaga kreatif yang diambil bukan yang terbaik.

Kritik maupun harapan sudah kerap kali dilontarkan namun semuanya tak dapat dipungkiri menguap begitu saja.
Eksistensi media Kristen menjadi profesi tersendiri yang bermanfaat dalam ruang kosong. Ia mencari dan ditemukan publiknya sendiri, tapi nyaris tak bisa keluar dari dunia yang sempit ruang geraknya sehingga angan-angan media Kristen membawa misi perdamaian yang bermuara pada gagasan besar yaitu pluralisme dan perdamaian yang sejatinya sedang saat dibutuhkan nyaris tak terdengar.

Kita memang harus bekerja lebih keras lagi untuk menghasilkan media Kristen yang bermutu. Hendaknya wawasan ilmu lain serta keterbukaan diri perlu ditingkatkan lagi oleh kita sendiri di masa mendatang.

Sebenarnya untuk mendapatkan gagasan yang baik kita tak harus mengintip dari pojok yang gelap atau bertindak sebagai detektif ulung atau menjadi manusia yang jenius, begawan pemikir yang penuh dengan ide-ide jempolan.
Untuk memperoleh gagasan yang baik itu hanya tinggal kita bersedia mengamati kondisi yang ada di sekitar kita.

Ingatlah, segala sesuatu harus diselesaikan pada kesempatan pertama kali meskipun ide itu pernah digunakan orang lain. Tidak beralasan untuk kita untuk tidak memakainya kembali. Dalam Yakobus 2:17 “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka pada hakekatnya adalah mati.” Maka baiklah kita segera bergerak. Pertanyaannya sekarang siapa yang mau bergerak kalau bukan kita sendiri?

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.