Marta dan Maria

Ayat bacaan: Lukas 10:39
=====================
“Perempuan itu mempunyai seorang saudara yang bernama Maria. Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya”

Alkisah seorang anak yang terus melayani ayahnya dengan rajin. Setiap ayahnya pulang kerja ia menyiapkan segelas kopi hangat, camilan kesukaan sang ayah dan koran. Ia terus sibuk memastikan ayahnya bisa melepas lelah dengan nyaman, termasuk merapikan ruang tamu agar ayahnya bisa dengan santai menonton televisi. Beberapa kali si ayah memanggil anaknya agar duduk disana bersamanya, tapi anak ini seolah tidak punya waktu untuk itu dan terus menyediakan bermacam-macam hal yang ia anggap bisa menyenangkan hati ayahnya. Si ayah kemudian datang menghampirinya. Sambil tersenyum ayah berkata: “Nak, ayah senang kamu sudah bersusah-payah melakukan hal-hal yang baik untuk ayah, tapi ayah akan jauh lebih senang kalau kamu mau berhenti sejenak dan duduk ngobrol sama ayah. Ada banyak yang ingin ayah sampaikan kepadamu, pengalaman-pengalaman ayah, nasihat dan sebagainya yang ayah yakin bisa membantumu untuk menjadi orang yang berhasil dan berintegritas. Selain itu, kamu harus tahu bahwa tidak ada yang lebih menyenangkan hati ayah selain menikmati kebersamaan denganmu.”

Ilustrasi sederhana di atas sedikit banyak menggambarkan hati Bapa. Ada banyak orang yang salah kaprah mengira bahwa mereka harus sibuk melayani. Semakin terlihat sibuk, semakin baik pula mereka pastinya di mata Allah. Tidak jarang pula orang berpikir untuk ‘menyogok’ Allah lewat aktivitas pelayanan mereka. Lewat kesibukan melayani, mereka berpikir bahwa mereka akan memperoleh keistimewaan, pasti akan jauh dari masalah dan akan melimpahi mereka harta kekayaan di dunia. Usaha tidak akan bangkrut, hidup tidak akan kurang tapi melimpah, dan memperoleh jalan tol menuju surga lebih daripada orang lain. Ada banyak orang yang aktif melayani tapi tidak paham terhadap firman-firman Tuhan. Mereka hidup dengan gaya dunia, termasuk rentan terhadap perasaan-perasaan negatif seperti takut, gelisah, kuatir, juga sifat-sifat yang buruk seperti mudah curiga, menghakimi, menuduh, berburuk sangka, ketus, egois, merasa paling benar, mau menang sendiri dan lain-lain. Ini sebuah konsep yang sangat keliru, karena lewat kisah Yesus berkunjung ke rumah Marta dan Maria kita bisa melihat bahwa bukan kesibukan melayani yang membuat Tuhan senang, tetapi justru kerinduan kita untuk duduk di kakiNya dan mendengar perkataanNya.

Ketika Yesus datang berkunjung, kedua wanita ini memberi reaksi berbeda dalam menyikapi sebuah kehormatan menerima Tuhan datang ke rumahnya. Reaksi yang timbul dari Marta sepertinya mewakili kebanyakan orang. Jika ada seorang pemimpin negara datang ke rumah anda, bagaimana reaksi anda? Rata-rata orang akan segera sibuk-sibuk bergerak melayani dan memberikan yang terbaik yang mereka miliki agar tamu istimewa itu betah dan nyaman disana. Kalau kedatangan pemimpin negara saja bisa membuat kita repot bukan main, ini yang datang Raja diatas segala raja. Tentu kita akan jauh lebih sibuk lagi mondar mandir kesana kemari memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Seperti itulah yang dilakukan Marta. Mendapat kunjungan dari Yesus, Marta langsung sibuk melayani. Ia ingin menunjukkan bahwa ia sangat menghargai kunjungan Yesus lewat cara menyediakan segala hal yang dia anggap akan menyenangkan hati Yesus. Marta melakukan itu, tapi tidak dengan Maria. Ia ternyata punya pemikiran yang beda. Ia tahu bahwa kedatangan Yesus secara pribadi ke rumahnya tidak terjadi setiap hari, bahkan mungkin tidak akan terulang lagi. Itu sebuah kesempatan yang sangat istimewa yang tidak boleh dilewatkan begitu saja, karena ada banyak yang bisa ia dapatkan dengan mendengar langsung dari Yesus sendiri. Maka Maria memutuskan untuk duduk diam di dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataanNya.

Melihat Maria seperti itu, Marta menganggap Maria malas karena tidak membantunya dalam melayani. Ia bahkan meminta Yesus mengingatkan Maria untuk membantunya. Tapi ternyata Yesus malah menegurnya dengan halus. Kata Yesus, “Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara,tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (Lukas 10:41-42).

Banyak orang yang terjerbak pada motivasi keliru dalam melayani. Mereka mengira bisa mendapat berbagai keistimewaan termasuk jaminan keselamatan dengan berusaha melayani sesibuk mungkin. Ada pula yang melayani demi popularitas diri sendiri dan bentuk-bentuk mencuri apa yang menjadi hak Tuhan lainnya, Semua ini merupakan motivasi keliru yang hanya akan sia-sia saja. Benar kita wajib menjadi saluran berkat dan wajib pula melayani Tuhan, tetapi jangan lupa bahwa yang terpenting adalah menyisakan cukup waktu untuk duduk berdiam di kakiNya dan merasakan betapa Tuhan begitu dekat dan begitu mengasihi kita. Kita harus tahu kapan kita harus diam, mengambil momen khusus untuk bersekutu denganNya, menikmati hadirat Tuhan yang kudus dan membangun kedekatan hubungan yang erat dengan Tuhan seperti layaknya antara ayah dan anak. Hanya sibuk melayani tapi lupa membangun hubungan secara pribadi dengan Tuhan akan membuat kita menjauh dari kebenaran. Kita tidak mengenal pribadi Bapa sesungguhnya, tidak mendengar suaraNya, pesan-pesan, nasihat-nasihat dan teguran-teguranNya, merasa asing dengan kebenaran firmanNya dan itu tentu akan sangat merugikan bahkan berbahaya bagi kita dalam menjalani kehidupan. Kehilangan fokus dan motivasi dalam melayani, salah menyusun prioritas dan rentan untuk terjebak pada banyak perbuatan dosa akan menjadi akibat apabila kita memiliki persepsi salah akan hal ini.

Sebuah pelajaran penting bisa kita petik dari kisah kedatangan Yesus ke rumah Marta dan Maria, yaitu bahwa lebih dari segala pelayanan yang kita lakukan, Tuhan merindukan waktu-waktu yang kita ambil secara khusus untuk datang kepadaNya dengan telinga yang siap mendengar dan hati yang siap menerima. Kita bisa saja sibuk bekerja, bersosialisasi, bermain, belajar dan sebagainya, termasuk melayani, tapi jangan abaikan pentingnya menginjak rem dari kesibukan kita lalu mempergunakan waktu tersebut untuk duduk diam di kaki Tuhan, menyatakan betapa kita mengasihiNya dan bersyukur atas segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Disana kita bisa merasakan kasihNya yang begitu damai, mendengar suaraNya menyampaikan hal-hal yang ingin Dia katakan pada kita, menikmati persekutuan pribadi yang indah dengan Bapa. Yesus sendiri sudah mengatakan bahwa inilah bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari kita.

Tuhan rindu menikmati saat-saat teduh bersama anak-anakNya, Tuhan rindu memeluk anak-anakNya, berbicara dengan kita, dan itu tidak akan terjadi jika kita tidak tahu kapan saatnya menghentikan ritme kesibukan kita sehari-hari. Tuhan tidak pernah terlelap, tidak pernah lengah menjaga kita, dan sangat tahu apa yang kita butuhkan. Dia mengerti segala pergumulan kita dan Dia akan selalu siap menjadi sumber pertolongan. Tapi yang menjadi masalah, apakah kita sudah tahu apa yang paling menyenangkan hati Bapa? Apakah kita peduli akan hal itu, atau masih menganggap Tuhan sebagai bodyguard, provider uang, pertolongan dan sebagainya, yang hanya kita datangi saat kita butuh sesuatu? Apakah kita masih berpikir bahwa jumlah pelayanan akan menentukan posisi kita di mata Tuhan? Saatnya bagi kita untuk duduk diam dan mendengar apa yang hendak Tuhan nyatakan dalam hidup kita. Duduk di kakiNya, memandang wajahNya dan mendengar suaraNya, itulah bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari kita.

Berikan waktu terbaik untuk duduk diam di kakiNya, memandang wajahNya dan mendengar suaraNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.