Mari Saling Memberi Salam Sejahtera

Rabu, 11 Juni 2014: PW St. Barnabas
Kisah 11:21b-26;13:1-3; Mazmur 98:1-3ab.3c–6; Matius 10:7-13

“Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.” (Matius 10:12)

TADI malam, sekitar pukul 21.14, sahabat saya, Kang Muhammad Syukron menyapa saya, “Assalamu’alaikum Romo…”

Saya pun menjawab, “Walaikum salam Kang Syukron…

Kados pundi (bagaimana?)”

Beliau menjawab, “Nuwun sanget inspirasinipun.

Kata mutiara hari ini apa Romo?”

Saya pun menjawab, “Hahaha apa ya… ‘Nyalakan damai-sejahtera di tengah kegelapan, jangan padamkan nyala lentera yang berkedip-kedip’ hihihi.”

Kang Syukron pun menjawab, “Suwun (terima kasih) Romo.

Dinantikan wejangannya setiap hari… (simbol senyum). Saya pun menjawab “Hihihi amin amin amin ya robiallamin…” Eh ternyata, kata mutiara itu oleh Kang Syukron di-tagged ke saya “in a post” jadi #wejangan1 Romo Aloys Purnomo di status beliau.

Kang Syukron membuka jalan jiwa saya untuk membaca Injil yang hari ini diwartakan di seluruh Gereja Katolik sedunia dalam segala bahasa. “Apabila kamu masuk rumah orang, berilah salam kepada mereka.” (Matius 10:12)

Yang dimaksud dengan “salam” adalah “shalom”, salam yang berisi damai-sejahtera. Yang dimaksud dengan rumah orang tak hanya bangunan gedung tetapi juga dan terutama adalah orang-orang yang ada di dalamnya, ya pemilik rumah dan seluruh anggota keluarga serta seisinya.

Perjumpaan kita dengan seseorang atau seluruh anggota keluarga di dalamnya, termasuk para sahabat yang ada di dalamnya menjadi kehadiran yang penuh damai-sejahtera. Kita memberi salam tak hanya sekadar basa-basi tetapi untuk berbagi damai-sejahtera.

Maka, sangat aneh dan mengherankan bagi tuan dan pemilik rumah kalau ada orang yang masuk rumah seseorang lalu berkata-kata buruk di dalamnya, atau menjelek-jelekkan sang pemilik dan tuan rumahnya! Para sahabat tuan rumah pun pasti merasakan hal yang sama. Kalau bukan orang gila, paling tidak ia masuk kategori orang tidak waras secara mental, moral maupun spiritual!

Di era gadget dan “IT” (baca: ai-ti), rumah juga bisa berarti komunitas-komunitas digital entah itu facebook, whatsApp group, twitter, milist-milist dan sejenisnya. Ambil contoh rumah facebook yang dewasa ini sudah sangat umum. Pemanfaatan facebook sebagai aktivitas dialog dan persahabatan yang baik dan saling memperkaya secara rohani, meneguhkan persaudaraan sejati lintas iman dan memperkembangkan hidup bersama dalam arti tertentu menjadi “rumah” pula. Ada pemilik rumah, ada pula para sahabat tuan rumah.

Para sahabat pun diterima bukan dengan paksaan tetapi melalui “friend requests”. Seseorang meminta menjalin relasi dan persahabatan dengan sukarela tanpa paksaan dan diterima dengan suka rela dan tanpa paksaan juga. Maka, menjadi sangat aneh dan tidak sesuai etika bila seseorang mendaftar sendiri menjadi sahabat, begitu terima justru menuliskan kata-kata hujat dan bukan berkat.

Atas alasan itulah, maka dalam status facebook saya kemarin siang, saya tulis begini, “Terima kasih para Romo, Suster, Bruder, Frater dan para sahabat baru yang berkenan menerima persahabatan saya. Semoga saling memperkaya secara rohani, meneguhkan persaudaraan sejati dan memperkembangkan hidup bersama. Salam n Tuhan memberkati.”

Dalam rangka hari Minggu Komunikasi Sosial sedunia ke-48 (1/06/2014) lalu, Paus Fransiskus menulis pesan demikian, “Dunia digital dapat menjadi suatu lingkungan bukanlah untaian kabel-kabel, tetapi hubungan jejaring antarumat manusia. Media membantu kita untuk merasa lebih dekat satu sama lain, dengan menciptakan suatu makna persatuan keluarga manusiawi yang pada gilirannya dapat mengilhami solidaritas dan upaya-upaya serius untuk menjamin suatu hidup yang lebih bermartabat bagi semua orang.

Komunikasi yang baik membantu kita tumbuh lebih dekat, saling mengenal lebih baik, dan akhirnya berkembang dalam persatuan dan kerukunan. Tembok-tembok yang memisahkan kita diruntuhkan.”

Mari kita jadikan perjumpaan dan persahabatan dalam media sosial apa pun untuk saling menjadi salam-sejahtera dan berkat, bukannya hujat, saling topang bukan saling serang, saling tebar berkah bukan saling tebar fitnah.

Dalam rangka Adorasi Ekaristi Abadi, saya mengalami bahwa gerakan Adorasi Ekaristi Abadi pun menjadi gerakan saling menjadi berkat melalui doa dan sembah sujud di hadirat Sakramen Mahakudus sebagai representasi sakramental Yesus Kristus yang hadir menyertai kita. Kapel Adorasi Ekaristi Abadi menjadi rumah yang terbuka 24 jam bagi siapapun yang ingin menimba sumber berkat agar hidupnya pun diberkati dan mampu jadi berkat bagi sesama dan semesta.

Semoga damai-sejahtera Tuhan Yesus Kristus senantiasa menyertai kita di mana pun berada, dalam karya pelayanan dan pekerjaan, kini dan sepanjang masa. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.