Mari Gunakan Hak Politik dengan Bertanggung Jawab!

Pemilihan Legislatif (9 April 2014) telah lewat. Hasilnya telah kita ketahui dengan PDIP sebagai pemenang dengan 18,95% suara. Kemudian diikuti oleh Golkar (14,75%), Gerindra (11,81%) dan Partai Demokrat (10,19%).

Partai-partai Islam meneguhkan kedudukannya sebagai partai kelas menengah kecuali PBB yang tidak memenuhi ambang batas Parlemen. Gerindra menunjukkan perkembangan besar. Terdapat partai baru yang memperoleh suara cukup signifikan, yaitu NASDEM dengan perolehan suara 6,72%.

Rekor perolehan Nasdem ini sudah diperkirakan, meskipun lebih kecil dari harapan. Itulah gambaran dari partai-partai yang menguasai DPR yang akan bertindak sebagai mitra Pemerintah.

Catatan kelam dari Pileg yang lalu adalah maraknya politik uang, kampanye hitam dan kampanye negatif. ‘Serangan fajar’ masih jadi andalan banyak Caleg yang bukan hanya berkompetensi melawan partai lain tetapi juga antar Caleg dari partai yang sama.

Suatu contoh adalah kekalahan Ketua Umum Gerindra yang tidak lolos ke DPR dikalahkan oleh Caleg Gerindra sendiri yang tergolong masih ‘baru’. Kejadian serupa terjadi juga di partai-partai yang lain. Banyak tokoh-tokoh lama terkenal yang tidak lolos ke Senayan yang secara terbuka mereka katakan kalah karena politik uang.

Menjelang Pilpres saat ini, kejadian serupa terjadi lagi, bahkan dalam intensitas yang lebih serius, mungkin disebabkan oleh situasi pemilihan yang langsung masuk final – head to head – Jokowi/Jusuf Kalla versus Prabowo Subiyanto/Hatta Rajasa. Kampanye hitam secara masif digunakan berikut kampanye negatif dan politik uang. Secara terbuka dan bangga Tim Sukses membagikan uang selain kaos dan lainnya.

Bahkan salah satu calon mengatakan dengan suara lantang dan tegas “terima saja, karena itu uang rakyat!”. Luar biasa!
Pemilihan Presiden (Pilpres) tanggal 9 Juli 2014 semakin dekat. Menyongsong Pilpres, Kantor Waligereja Indonesia (KWI) tanggal 26 Mei telah mengeluarkan Surat Gembala yang ditujukan kepada umat Katolik agar menjadi Indonesia 100% dan Katolik 100%.

Esensi sebenarnya dapat ditujukan kepada seluruh warganegara Indonesia agar tidak GOLPUT, memilih Calon yang punya Integritas moral dan agar rakyat mendukung siapapun Calon yang akan menang dalam pemilihan. Kita inginkan Pemimpin yang melayani dan yang memperjuangkan nilai-nilai hidup bersama sebagai bangsa sesuai dengan Ajaran Sosial Gereja (ASG), yaitu “menghormati kehidupan dan martabat manusia, memperjuangkan kebaikan bersama, mendorong dan menghayati semangat solidaritas dan subsidiaritas serta memberi perhatian lebih kepada warganegara yang kurang beruntung”.

Buku tulisan Sdr. Totok Suryaningtyas dari Litbang Kompas tentang Rekam Jejak Perjuangan Calon Presiden bisa menjadi acuan yang berguna dalam kita melakukan pemilihan, Rekam Jejak Partai Pendukung (Doni Koesoema A), Gereja dan Pilpres tulisan Romo YR Edy Purwanto Pr, Sekretaris Eksekutif KWI, Pentingnya Spiritualitas Politik dan Memilih Pemimpin yang Berintegritas Moral tulisan Paul Soetopo. Fokus pemikiran akan diakhiri dengan tulisan Sdr. Doni Koesoema A tentang tanggungjawab umat untuk membentuk nurani secara bertanggungjawab. [DOWNLOAD buku  Rekam Jejak Perjuangan Calon Presiden, klik di judul buku]

Pada rubrik curah gagasan terdapat tulisan Ketua umum ISKA (sdr Muliawan Margadana) yang berjudul Kepemimpinan dan Kejujuran, Presidium WKRI Pusat, Hildegard della Pradipta yang berjudul Membangun Indonesia yang Bermartabat dan Direktur Eksekutif Yayasan Bhumiksara (Royani Lim), Jadilah Mediator, Bukan Makelar.

Selain itu, kami muat pula tulisan dari Staf GSC yaitu Bapak Y Soedradjad Djiwandono (Penasihat) yang berjudul Menentukan Pilihan sebagai Pengikut Kristus, Saudara Paul Soetopo (Ketua) dengan judul Memberantas Wajah Korupsi dan Saudara L.Widarto (Staf GSC) yang membahas tentang pembunuhan karakter melalui kampanye hitam, dan Tantangan Pendidikan Capres tulisan Doni Koesoema A, yang mengamati tantangan persoalan pendidikan nasional yang perlu dijawab oleh para Capres/cawapres.

Mengingat pentingnya Pilpres, – seperti yang kami sampaikan menjelang Pemilihan Legislatif (Pileg) yang lalu – kami muat pula Lembar Simulasi untuk latihan sebelum memutuskan pilihan. Isi Simulasi mengacu kepada Kriteria yang tercantum dalam Ajaran Sosial Gereja (ASG).

Mari kita gunakan hak politik kita secara bertanggungjawab dengan menggunakan hati nurani cerdas memilih Presiden yang benar-bebar berjuang untuk kesejahteraan rakyat seluruhnya, bukan yang mengejar untuk mencapai kepentingan pribadi dan atau kelompoknya.

Selamat memilih dan Tuhan memberkati.
Salam dalam Kristus,

Paul Soetopo Tjokronegoro

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.