Manusia Berbau Harimau

tiger1

MALAM itu, H. Suwito dan temannya tergeletak di pinggir jalanan setapak. Sebagaimana biasa mereka melakukan perjalanan njajah desa milang kori, menembus kelebatan hutan. Sebagai guru desa SD, Suwito seringkali harus ke Tawangharjo, Grobogan untuk berdiskusi atau sekedar bersilahturahmi dengan teman-teman guru. Selain harus menembus kelebatan hutan, ia kadang berjalan atau bersepeda menyusuri jalanan setapak yang cenderung menanjak terjal berliku. Daerah Kemadohbatur tempat tinggalnya termasuk daerah pegunungan Kendeng selatan.

Setelah 17 km perjalanan kaki dari Tawangharjo itu, kelelahan yang amat sangat menyerang mereka. Tak ada rumah, warung apalagi penginapan di tengah hutan tempat mampir membaringkan tubuh. Tidak ada orang Samaria yang murah hati. Memang tidak ada begal kecu namun ada harimau yang mengendap-endap.

macan

Harimau itu mendekati dua orang yang terlelap tidur itu. Setapak demi setapak dalam gerakan yang gemulai. Dunia seolah berjalan begitu lambat. Sang macan berjalan hilir mudik tepat di atas tubuh mereka. Dengan killer instict-nya, ia mengendus-endus, siap menyantap. Hanya Tuhan yang tahu bagaimana tubuh kelelahan itu siap disantap tanpa membela diri. Macan itu terus mengendus dengan nafsu carnifornya.

Jalan setapak di tengah hutan itu merupakan satu-satunya penghubung Kemadohbatur dengan desa lain di sekitarnya. Tahun 1968, hutan antara Godan dan Kemadohbatur begitu lebat. Hutan jati milik pemerintahan daerah Grobogan itu menjadi kegentaran tertentu juga bagi mereka yang telah terbiasa melewatinya. Banyak hewan sebangsa kera berkelebat, babi hutan, berbagai burung dan juga harimau. Tumbuh-tumbuhan lebat nan tinggi. Belum lagi cerita mistik yang menyertainya.

Macan itu melewati tubuh tanpa sejumput pertahanan diri itu. Mereka tertidur. Tubuh mereka tenggelam dalam mekanisme keteraturan. Ia menyatu dengan alam. Tak ada emosi. Tak ada pemikiran buruk. Tak ada niat pembunuhan atas sang pemangsa yang hendak mencabut nyawa dan mencabik raga. Tubuh pasrah itu dilewati sang macan. Andai macan itu merenggutnya, entah siapa yang harus mengembangkan benih-benih pendidikan di sana. Kini, Suwito tidak sendirian lagi. Desa telah berkembang. Pendidikan pun demikian.

 

“Bau keserakahan”

Sekarang sulit sekali membayangkan hutan di tanah Jawa dengan segala kekayaan hayati dan hewaninya. Hutan dibabat, dieksploitir hingga gundul. Air menghilang. Banjir menerjang. Karena kengkuhannya, manusia merasa berhak menjajah alam semesta ini. Manusa tak menyatu lagi dengan alam. Sudah sulit mendengarkan lagu “Ilir-ilir” lagu anak-anak yang didalamnya terkandung ijo royo-royo, dedaunan hijau yang indah.

Kini yang lebih menakutkan bukan keangkeran hutan, keganasan macan melainkan para penjahat yang mencari makanan empuk di jalanan sepi. Orang tak aman dalam perjalanan. Kejahatan mengintai setiap orang setiap kali keluar rumah. Juga dalam rumah walau orang telah mengunci pintu rapat-rapat. Dulu, orang meninggalkan rumah tanpa mengunci pintu. Tatkala pulang pun tak secuilpun barang milik mereka hilang diembat pencuri. Kini kepercayaan antar manusia hilang, kemurnian hati sirna dan kebaikan musnah. Orang dirangsang memiliki termasuk milik sesamanya.

Orang kini tidak berbau macan melainkan berbau persaingan dan keserakahan. Karena persaingan, orang kian menekan satu sama lain, menjahati sesama terutama yang lemah. Persaingan menumbuhkan naluri ketidakadilan. Persaingan tidak mampu mengerem keserakahan manusia. Keserakahan membawa pencarian keduniawian dan menjauhkan sifat keilahian. Orang melihat harga namun tidak memandang nilai. Orang memandang harga pakaian yang dipakai, motor yang dikendarai, mobil yang disetir, kemewahan yang dikenakan. Semua itu obyek untuk diambil, dijambret dan dicuri. Keserahakan menimbulkan fenomena begal. Orang tidak hanya jauh dari alam semesta namun juga dengan sesama di sekitarnya, kaum keluarganya. Orang juga tak bersahabat dengan pertiwi lagi. Tatkala melihat kayu, orang sudah menghitung kekayaan. Tatkala melihat pegunungan Kendeng, yang dihitung adalah mengeruk kekayaan alamnya.

Bila kita melihat keganasan begal kita melihat zaman kita seolah menjadi panggung pentas drama kejahatan menang atas kebaikan. Kesengsaraan, kematian, penyakit justru mendominasi sejarah dunia yang luas ketimbang cerita kasih dan keutamaan. Kejahatan dengan bersenjatakan kekuasaaan dan kekayaan bisa hidup melenggang, mencari mangsa. Ketidaadilan memunggungi harkat keadilan dan kebenaran. Etika dan moral seolah menjadi barang lapuk yang harus dibuang. kita lihat nenek renta dibawa ke pengadilan karena mencuri kayu kecil atau coklat tiga buah. Kakek dibawa ke meja hijau karena menyingkirkan balok.

nenek

Kebaikan menjadi begitu problematis. Menjadi orang jujur tidak berarti mujur. Menjunjung tinggi keutamaan, nasib keluarga berantakan. Sementara mereka yang ikut arus berjaya. Sungguhkah orang diharuskan bertahan? Di manakah Tuhan yang menghendaki kebenaran dan keselamatan merajai muka bumi ini? Bila Ia maha kasih kenapa ia acuh tak acuh degnan penderitaan manusia? Bila Tuhan maha pengasih mengapa Ia tak ambil bagian dalam nasib dan tujuan hidup manusia?

Bila penderitaan masih ada dalam sejarah umat manusia, bukan berarti Allah tinggal diam. Allah sama sekali bukanlah seseorang yang tinggal di luar dunia puas ada dalam diriNya sendiri, Yang maha tahu dan maha kuasa. IA solider dengan duka derita manusia. KebijaksanaanNya dan kemahakuasaanNya dengan bebas digunakan untuk membantu mahkluk. Allah menciptakan manusia sebagai mahkluk yang memiliki akal budi dan kebebasan. Penderitaan individual dan kolektif disebabkan oleh daya-daya alam dan kehendak manusia yang tak terkendali sebagaimana kita lihat dalam perang, pembantaian serta kejahatan lainnya. Bagaimanapun juga manusia mesti berbuat baik dan menghindari yang jahat.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.