Malas

Ayat bacaan: Pengkotbah 10:18
=================
“Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”

Mencari kerja di jaman sekarang ini tidaklah mudah. Ada begitu banyak pesaing, dan seringkali perusahaan hanya mencari sarjana tanpa memperhatikan latar belakang pendidikan si pelamar. Kesulitan makin bertambah dengan kondisi ekonomi yang tidak kondusif sehingga alih-alih membuka lowongan, perusahaan mungkin malah harus mengurangi pekerjaannya agar tidak sampai gulung tikar. Jadi memang tidak mudah, tapi jangan lupa pula bahwa ada banyak orang yang menganggur bukan karena tidak kunjung mendapat pekerjaan melainkan karena malas. Ada yang cepat putus asa kemudian patah arang, ada pula yang menghindari pekerjaan-pekerjaan yang dirasa berat, hanya mencari yang ringan dengan gaji tinggi. Malas, itu intinya. Malas bekerja keras, bahkan malas mencari kerja. Orang-orang seperti ini hanya duduk menanti tanpa mau berusaha, kalaupun berusaha cuma sekedar saja, tidak serius. Ironisnya, tidak jarang diantara tipe orang seperti ini yang kemudian menyalahkan keadaan atau malah berani menyalahkan Tuhan. Ada seorang pemuda yang tinggal tidak jauh dari saya sudah menganggur selama 3 tahun. Ketika saya tanya kenapa begitu lama menganggur ia berkata “mungkin sudah takdir saya mas..” Takdir, itu artinya ia menganggap Tuhan menciptakannya memang untuk menganggur. Itu tentu keliru. Lantas saya tanya lagi apakah ia sudah berusaha cukup keras untuk mencari kerja, ia berkata: “kalaupun ada semuanya susah-susah mas.. terlalu berat, jadi malas.” Ini contoh dari apa yang saya sebutkan tadi, bahwa ada orang yang menganggur bukan karena apa-apa tapi justru masalahnya berasal dari kemalasan yang terus mereka pupuk. Kambing hitam bisa banyak, tapi problem sebenarnya ada pada diri sendiri.

Jika kita membaca seluruh isi Alkitab, kita tidak akan menemukan satupun orang yang dipakai Tuhan ketika sedang bermalas-malasan. Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak suka orang yang malas. Seharusnya, semakin sulit kondisi, kita justru harus makin giat dan makin tertantang. Semangat juang harus ditingkatkan, demikian pula sikap optimisme dan sikap pantang menyerah. Tetapi yang sering terjadi malah sebaliknya. Semakin banyak saja orang yang malas berusaha untuk memperjuangkan hidup mereka. Para pemalas ini biasanya tidak mau repot-repot mengeluarkan tenaga atau mempergunakan pikiran mereka. Mereka terbiasa menunda pekerjaan atau bahkan melupakannya sama sekali. Apakah mereka tidak punya impian? Tentu saja punya. Mereka juga sama seperti kita, punya impian tinggi, tetapi yang membedakannya adalah cara pandang, sikap dan keputusan dalam menyikapi hidup. Jika orang rajin akan berusaha dengan sekuat tenaga dan sungguh-sungguh untuk mencapai impian mereka, si pemalas berhenti hanya pada bermimpi. Mereka berharap bisa mencapai cita-citanya dengan cara yang paling mudah tanpa harus mengeluarkan setitik keringat pun. Jika tidak? Mereka biasanya akan terus mencari kambing hitam, tidak jarang pula mereka berani menyalahkan Tuhan atas keadaan mereka. Firman Tuhan sudah menyatakan bentuk sikap seperti ini. “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.” (Amsal 13:4). Lihatlah bahwa Tuhan akan dengan senang hati melimpahi orang yang rajin, tetapi orang malas hanya akan berakhir sia-sia. Sikap-sikap seperti ini tidak boleh menjadi bagian dari diri anak-anak Tuhan, karena ada begitu banyak firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk bekerja dan berusaha serius untuk mencapai sebuah tujuan.

Selain ayat di atas, kitab Amsal berisi begitu banyak firman Tuhan lainnya yang menyinggung soal kemalasan ini. Salah satu bagian yang lumayan banyak menyinggung soal malas bisa kita lihat pada Amsal 6. Dalam pasal ini dikatakan bahwa kita seharusnya bisa belajar mengenai kerajinan dari seekor semut, binatang yang paling lemah yang akan mati dengan sekali pencet saja. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak.” (Amsal 6:6). Mengapa harus semut? Kalau kita memperhatikan semut, kita akan melihat bagaimana semut selalu bergerak dan bekerja dengan rajin. Semut mampu mengangkat makanan yang berukuran jauh lebih besar darinya, kalaupun tidak kuat mereka akan bergotong-royong mengangkutnya bersama-sama dengan menempuh jarak yang seringkali sangat jauh menurut ukuran seekor semut. Dan firman Tuhan berkata “biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.” (ay 7-8). Dan hal ini sungguh berbanding terbalik dengan tipe manusia pemalas yang membuang-buang waktu dalam kemalasannya. “Hai pemalas, berapa lama lagi engkau berbaring? Bilakah engkau akan bangun dari tidurmu? Tidur sebentar lagi, mengantuk sebentar lagi, melipat tangan sebentar lagi untuk tinggal berbaring.”(ay 9-10). Ketika ini yang menjadi sikap hidup kita, “maka datanglah kemiskinan kepadamu seperti seorang penyerbu, dan kekurangan seperti orang yang bersenjata.” (ay 11). Demikianlah kemalasan yang terus dipupuk akan membawa kita masuk ke dalam kemiskinan dan kekurangan.

Hidup tidak akan pernah bisa tumbuh menjadi lebih baik apabila kita terus membiarkan rasa malas menguasai diri kita. Kemalasan bahkan bisa membuat kita menjadi semakin rapuh dan gampang rontok. Sebuah firman Tuhan dalam Pengkotbah mengatakannya seperti ini: “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.” (Pengkotbah 10:18). Kegagalan dan kehancuran seringkali berawal dari kemalasan yang terus dibiarkan berkuasa atas diri kita. Kemalasan sesungguhnya tidak statis tapi bisa meningkat kadarnya. Coba perhatikan ketika kita membiarkan diri kita tidur lebih dari biasanya dan terus menambah jam tidur, bukankah tubuh kita malah menjadi lemas dan kita akan merasa semakin malas untuk melakukan sesuatu? Terlalu singkat tidur itu tidak sehat, tetapi terlalu banyak pun tidak baik pula. Singkatnya, kita memerlukan istirahat, tetapi jangan sampai istirahat itu menjadi yang terbanyak menyita waktu kita.

Untuk itulah kita harus melatih diri sedini mungkin untuk menjadi orang-orang dengan semangat yang kuat dan giat dalam berusaha. Ingatlah bahwa Tuhan menyukai orang-orang yang rajin bekerja, dan usaha rajin tersebut akan menggerakkan Tuhan melimpahi kita dengan berkatNya dengan senang hati. Kepada jemaat Tesalonika Paulus mengingatkan dengan sangat keras: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10). Lalu bandingkan dengan ayat berikut: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia.” (Kolose 3:23) Ini adalah sebuah panggilan untuk melakukan apapun yang kita perbuat dengan segenap hati seperti sedang melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Artinya keseriusan, kesungguhan dan kerajinan kita sangatlah dibutuhkan. Kemalasan tidak akan pernah masuk dalam konteks ayat-ayat diatas, karenanya jangan sampai kemalasan menjadi bagian dalam hidup kita.

Benar, semuanya berasal dari Tuhan. Keberhasilan, kemakmuran, kesuksesan, itu semua datang dari Tuhan. Tetapi itu bukan berarti bahwa kita diperbolehkan untuk duduk bermalas-malasan sepanjang hari. Meski Tuhan sanggup menurunkan berkat secara instan dari KerajaanNya, tetapi Tuhan lebih suka untuk memberkati lewat pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan dengan rajin dan sungguh-sungguh. Tuhan tidak memberi ikan bakar yang lezat di atas piring, tetapi Dia lebih suka memberi kail atau pancing dan laut/sungai yang penuh ikan. Tuhan membekali kita dengan talenta tersendiri, tapi talenta harus kita asah dan kemudian harus dipergunakan dengan sebaik-baiknya. Jika itu kita lakukan, Tuhan akan dengan senang hati memberkati usaha kita dengan melimpah.

Mari kita periksa diri kita. Apakah ada hal-hal yang belum dicapai yang diakibatkan oleh belenggu kemalasan yang masih mengikat anda? Apakah anda masih termasuk orang yang suka menunda-nunda sesuatu, malas merancang masa depan anda, malas untuk melangkah dan sebagainya dengan banyak alasan? Apakah anda lebih menyukai tidur-tiduran ketimbang mulai melakukan sesuatu? Jika ini masih menjadi bagian dari diri anda saat ini, berhentilah dan mulailah melakukan perubahan. Kemalasan hanya akan mendatangkan kemiskinan dan kekurangan, yang cepat atau lambat akan meruntuhkan kita sampai habis. Sebelum itu terjadi, bangkitkan kerajinan anda agar anda bisa menuai segala kebaikan yang sudah direncanakan dan dipersiapkan Tuhan sejak awal untuk anda.

Tuhan suka memberkati kita lewat setiap pekerjaan yang kita lakukan dengan serius dan sungguh-sungguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.