Malaria dan HIV, Tantangan Riil Mendidik Remaja Papua (2)

Anak-anak Sagare Agats

PERMASALAHAN di tanah Papua sangat kompleks. Mulai dari masalah kesehatan, kemiskinan sampai pendidikan. Dari minimnya fasilitas kesehatan sampai pada terciptanya iklim pendidikan belum benar-benar dirasakan masyarakat.

Kita tahu bahwa Papua adalah daerah endemik malaria. Banyak kasus malaria yang menyebabkan meninggalnya seseorang. Dengan mata kepala sendiri, saya pernah menyaksikan seorang anak didik yang menggunakan cara tradisional dalam proses penyembuhannya.

Mereka menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya, sambil duduk di dekat baskom dengan air mendidik. Dari uap air yang mendidih tersebut, keringat akan mengucur deras. Sehingga badan pun akan terasa enak.

Itu pun masih membutuhkan proses lanjutan. Terkadang cara-cara tradisional ini lebih dipercaya dikarenakan sosialisasi kesehatan tidak menjangkau dan mengubah pola pikir masyarakat di pedalaman.

Padahal kalau malaria sampai dialami anak didik, bisa sampai berminggu-minggu mereka merasakan ganasnya malaria. Hal ini sangatlah mengganggu jalannya proses pendidikan.

Bagaimana tidak, mereka tidak bisa berpikir dan mengikuti pelajaran. Kalaupun dirasa sembuh, sebenarnya malaria hanya menurunkan tingkat aktitifitasnnya di dalam tubuh. Suatu saat bisa kambuh kembali. Dengan sering absennya mereka ke sekolah tentu banyak mata pelajaran akan tertinggal. Lebih parah lagi mereka bisa putus sekolah, dikarenakan sudah berbulan-bulan tidak masuk. Mereka akhirnya mundur karena tidak kuat bertahan dengan malaria.

Masalah kesehatan selain malaria adalah HIV dan AIDS. Papua menempati urutan cukup tinggi dalam hal populasi yang terdeteksi. Belum lagi, mereka yang tidak diketahui terdeteksi atau belum.

Mengingat HIV dan AIDS ini merupakan fenomena gunung es, maka tentu saja hanya di permukaan saja yang dapat diketahui. Untuk itu, perlu sosialisasi dalam bentuk komunitas yang mengkaji lebih jauh tentang HIVdan AIDS.

Anak-anak membutuhkan pemahaman dan mengenal apa itu HIV dan AIDS. Bagaimana cara penyebarannya? Dan bagaimana cara menanggulanginya.

Di Nabire

Di Papua banyak LSM yang bergerak di bidang ini. Di Nabire salah satunya adalah PCI (Project Concern International) dan Primari. Melalui mereka, sekolah bekerja sama, membentuk komunitas yang peduli HIV dan AIDS.

Selain itu, komunitas ini diharapkan menjadi sarana belajar membentuk pribadi yang mandiri berkualitas melalui ajang kreatifitas (Seminar, forum diskusi, cerdas cermat dan pendidikan seks bagi remaja). Ajang kreatifitas ini menjadi sarana pendidikan dalam membuka wawasan dan membuka pola pikir mengenai keprihatinan yang harus diselesaikan.

Tentu tidak cukup satu atau dua halaman saja, bercerita mengenai tanah Papua. Masih banyak problem yang bisa disharingkan disini. Namun alangkah bijaknya, kalau kita melihat sisi lain terkait dengan prestasi yang ditorehkan oleh anak-anak asli Papua di ajang internasional. Kita seharusnya bangga, dengan keprihatinan yang ada, toh mereka masih setia berjuang di jalur pendidikan.

Biarkanlah problem yang ada menjadi pemicu, memotivasi setiap pribadi anak-anak Papua untuk memperjuangkan hidupnya melalui pendidikan. Mereka masih meyakini bahwa pendidikan adalah sarana melihat luasnya pengetahuan. Yang pasti harapan harus selalu diletakkan di setiap kehidupan.

Karena harapan adalah roh untuk membawa setiap pribadi memasuki segala tantangan. Semoga ke delapan anak yang saya jumpai maupun anak-anak Papua yang lain, menjadi pejuang-pejuang teladan yang memunyai kompetensi, suara hati dan bela rasa bagi bangsa dan generasi Papua yang masih mengeyam pendidikan di pedalaman.

Bagaimana pun, mereka memiliki potensi dan keunggulan intelektual yang harus diapresiasi, mengingat semangat mereka menjadi inspirasi buat banyak orang.

Kredit foto: Ilustrasi tentang anak-anak Papua di pedalaman Sagare, sekitar 7 jam perjalanan dengan speedboat dari  pusat kota di Kabupaten Agats; Kabupaten Agats ditempuh 10 jam dengan kapal dari Timika atau 45 menit dengan pesawat ultra light Pilatus.  (Mathias Hariyadi/Sesawi.Net)

 

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.