Makna Spiritual Dibalik Bekerja (1)

Ayat bacaan: Kolose 3:23
===================
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia.”

Kerja ya kerja, rohani ya rohani. Ada banyak orang yang membagi kedua hal ini menjadi bagian yang benar-benar terpisah dan berbeda. Bekerja itu murni dan mutlak untuk menyambung hidup, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Artinya, tidak ada makna spiritual apapun yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi kita sehari-hari. Bicara soal rohani beda lagi, yang dipikirkan adalah doa, pujian dan penyembahan, saat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Menjadi pendeta, misionaris, diaken atau jabatan-jabatan pelayanan lainnya. Itulah urusan rohani, sedangkan dalam bekerja tidak ada kaitan sama sekali dengan itu. Ini adalah sebuah pemikiran yang keliru atas konsep bekerja dan berdoa yang benar.

Hari ini saya ingin melanjutkan sedikit lagi mengenai ora et labora, alias berdoa dan bekerja. Benar bahwa kita bekerja untuk menyambung hidup. Benar bahwa kita harus bekerja untuk mencari nafkah, mencukupi kehidupan rumah tangga dan kebutuhan istri dan anak-anak. Alkitab pun berkata dengan keras mengenai sebuah keharusan untuk giat bekerja. “Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan.” (2 Tesalonika 3:10).

Tidak ada kemalasan dalam kamus kehidupan kekristenan. Jika kita melihat orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang alkitab, kita pun akan menemukan bahwa mereka yang dipakai Tuhan adalah orang-orang yang kedapatan sedang bekerja. Tuhan tidak memakai orang malas, Dia tidak pernah berkenan kepada sesuatu yang bernama kemalasan ini. Namun ingatlah bahwa prinsip kekristenan memandang kerja bukan hanya sekedar untuk menyambung hidup atau mencari nafkah saja, melainkan juga untuk memuliakan Tuhan di dalamnya. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, bekerja seharusnya juga memiliki makna spiritual di dalamnya.

Pertama, mari kita lihat hal berikut ini. Apa yang menjadi tugas manusia yang diberikan Allah lewat Adam? Dalam Kejadian 2 kita bisa membaca bahwa Adam ditugaskan untuk “mengusahakan dan memelihara taman Eden” (Kejadian 2:15), lebih lanjut juga ditugaskan seperti ini: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (1:28).

Perhatikan bahwa Adam bukan ditugaskan untuk berdoa, menyanyi dan menari untuk Tuhan, tetapi untuk melakukan serangkaian tugas seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Artinya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan kita bukan hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan kerohanian semata, tapi lewat pekerjaan atau profesi kita sehari-haripun kita harus memperhatikan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan hati Tuhan dan memuliakanNya.

Selanjutnya mari kita lihat sosok Paulus dan etos kerjanya. Paulus adalah seorang yang radikal dalam mewartakan berita keselamatan kemanapun ia pergi. Dia tidak takut, dia tidak bersungut-sungut, dia tidak hitung-hitungan untung rugi, semua dia lakukan karena ketaatan dan kasih yang besar kepada Kristus. Bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi menjalankan apa yang telah ditugaskan kepadanya.

Menurut kita itu sudah sangat luar biasa dan lebih dari cukup bukan? Tapi tidak bagi Paulus. Adalah sebuah fakta bahwa Paulus masih tetap bekerja. Paulus bekerja sebagai pembuat kemah (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan itu dia gunakan untuk membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani. (20:34).

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.