Makna Logo Indonesian Youth Day 2016 (IYD) di Keuskupan Manado

BENTUK  dasar logo adalah sebuah lingkaran oval. Ini mengandung pelbagai makna, mulai dari kebulatan, kepenuhan, kesempurnaan yang adalah panggilan hidup orang muda, menjadi utuh, penuh, menjadi holy and whole, rohani jasmani, jiwa dan raga, iman dan perbuatan, kata dan karya. Panggilan menuju integritas manusiawi dan kristiani.

Bentuk lingkaran mengungkapkan kerinduan untuk bersekutu, bersaudara, saling merangkai tangan, menyelaraskan rasa, budi dan tindakan, membangun sebuah persekutuan persaudaraan. Kebersamaan bukan lagi atas dasar keturunan/darah, tetapi atas dasar kesatuan keterciptaan, oleh Tuhan yang satu dan esa. Lingkaran ini adalah sebuah panggilan menuju hidup yang bersekutu, dalam pluralitas budaya, suku, agama, bahasa, panggilan.

Sebuah persaudaraan lintas batas-batas, sebuah kebersamaan tanpa dinding.

Batang kelapa

Lingkaran, yang menggaungkan panggilan kesempurnaan dan persaudaraan, dibentuk oleh lengkungan pohon kelapa dan samudra biru yang membentang. Pohon kelapa yang keras, oleh tiupan dan hembusan angin bisa melengkung, mengisyaratkan falsafah fortiter in re, suaviter in modo: OMK dipanggil untuk teguh dalam prinsip, tetapi lemah lembut dalam cara. Sekaligus panggilan hidup tanpa kekerasan, sebab tak ada yang terlalu keras [seperti batang kelapa] yang tidak bisa dilembutkan/diubahkan.

Batang kelapa ini mengambil warna cokelat, warna tanah, warna kemanusiaan, warna kerendahan hati, yang mengingatkan kita, setinggi nyiur melambai langit, ingatlah manusia, ingatlah engkau juga adalah debu dan akan kembali menjadi debu tanah. Tanah ini, membentuk kesatuan dengan air, samudara, laut biru yang lembut melingkupi hidup kita.

Serentak biru laut dan biru langit ini mengingatkan kita ada dalam lindungan sang Pencipta laut dan langit, Tuhan yang perkasa, sekaligus dalam pengayoman Sang Bintang Kejora dan Bintang Laut, Maria, Bunda kita, yang memastikan kita ada dalam selendang birunya.

Kembali ke pohon kelapa, yang selain sangat akrab dan mengungkapkan propinsi Sulawesi Utara sebagai daerah nyiur melambai, ungkapan kekerabatan, hospitalitas, perdamaian, adalah juga symbol pentahbisan episkopal dari Uskup Manado sendiri, dengan segala maknanya.

** Naskah lengkap artikel ini bisa diakses di website Dokpen KWI di sini. 

Romo Terry Ponomban Pr, imam diosisan Keuskupan Manado; sekarang Direktur KomKat Keuskupan Manado dan pernah menjabat Direktur Komisi Kepausan Indonesia (KKI) di KWI kurun waktu 2000-2010.

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.