Make a Change

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 7:14
========================
dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.

make a chance, doa bagi bangsa

Kapan bangsa kita makmur? Tanyakan ini kepada orang, atau pada diri sendiri, mungkin senyum saja yang keluar. Banyak dari kita sudah merasa tidak lagi ada harapan untuk melihat bangsa ini bisa mencapai kemakmuran. Nyatanya kebebalan memang menjadi salah satu masalah utama di negeri ini. Seperti tidak ada kapok-kapoknya, meski dimana-mana kehancuran terjadi, kesenjangan sosial makin parah, jumlah orang miskin terus bertambah, kriminalitas meningkat, tapi orang jahat bukannya bertobat,tapi malah semakin jahat. Membunuh orang yang berbeda paham dianggap legal, dan ironisnya justru mengatasnamakan Tuhan untuk melakukan kekejian. Bagaimana dengan korupsi? Mau ada berapa lembaga antikorupsi sekalipun, orang yang tergoda untuk mencari keuntungan sesaat tetap saja bertambah. Korupsi sudah menjadi bagian budaya, sehingga malah aneh jika melihat ada orang yang masih memilih untuk hidup bersih. Tidak jarang mereka yang bersih malah disingkirkan akibat dianggap menyusahkan arus mayoritas yang ramai-ramai korupsi. Tidak setia, tidak jujur, tidak peduli dan sebagainya, itu menjadi warna khas bangsa ini. Dan sayangnya warna itu bukan semakin memudar, tapi malah semakin tajam. Maka hela nafas atau senyum pasrah mungkin menjadi jawaban atas pertanyaan di atas. “Ya percuma saja, memangnya saya siapa untuk bisa memperbaiki kondisi negeri ini?” Demikian kata teman saya sambil tertawa. Mungkin pandangan yang sama dimiliki oleh banyak orang, termasuk orang percaya. Akibatnya meski kita sudah hidup taat, hidup bersih dan jujur, kita hanya bersikap apatis dalam menyikapi keadaan negeri kita yang semakin hari semakin compang camping.

Apakah benar kita tidak bisa berbuat apapun? Menurut pandangan banyak orang mungkin ya, karena mereka beranggapan bahwa dibutuhkan banyak orang benar untuk memperbaiki satu negara. “Bagaimana mungkin sedikit orang seperti kami bisa mengubahkan seluruh bangsa?” Itu menjadi pemikiran banyak orang percaya. Betapa sulitnya untuk percaya bahwa sedikit orang benar dan peduli akan mampu membuat perbaikan. Tapi mari kita balik. Mungkinkah satu orang jahat bisa mengubahkan sebuah bangsa untuk tujuan buruk? Jawabannya pasti sangat mungkin. Hitler telah membuktikannya. Sangat sulit untuk melepas citra buruk yang ditimbulkan Hitler bagi Jerman,  bahkan hingga berpuluh tahun sesudahnya. Jika kuasa iblis atas seorang manusia saja dapat mengubahkan sebuah bangsa untuk tujuan buruk, tentu hal sebaliknya pun mungkin terjadi. Sekelompok orang percaya, berapapun jumlahnya, akan mampu mengubahkan sebuah bangsa ke arah yang lebih baik.

Firman Tuhan berkata: “dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka.” (2 Tawarikh 7:14). Lihatlah bahwa Tuhan tidak sedang berbicara engenai kelompok yang besar. Dia tidak menekankan bahwa dibutuhkan setiap individu dalam sebuah bangsa untuk mengubahkan segala sesuatu. Apa yang Tuhan tekankan adalah umatNya. Bukan soal jumlah, tapi orang percaya, yang berjalan atas nama Tuhan, yang mau merendahkan diri, tekun berdoa dan selalu rindu mencari wajahNya, dan sudah memutuskan untuk bertobat dari jalan-jalan yang salah. Orang-orang seperti inilah yang akan didengar Tuhan, dan pemulihan sebuah negeri akan dapat terjadi. Sekali lagi, biarpun sedikit sekali, tapi itu bisa terjadi. Syaratnya adalah jika ada sekelompok umat Tuhan, yang berjalan atas namaNya, yang mau merendahkan diri, mau berdoa, mencari wajah Tuhan dan hidup di jalan yang benar. Orang-orang seperti inilah yang bisa melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Jika orang seperti ini peduli, dan mau mendoakan negerinya, maka Tuhan pasti mendengar. Pengampunan dan pemulihan pun akan segera terjadi.

Berdoa. Berdoalah untuk negeri kita. Sebelumnya pastikan bahwa hidup kita sudah tidak lagi menyimpang dari kebenaran. Jumlah orang bukanlah menjadi prioritas utama Tuhan. Sedikit, tapi benar, itu jauh lebih baik ketimbang banyak tapi suam-suam kuku. Kita bisa melihat contoh lain ketika Tuhan memutuskan untuk melenyapkan Sodom. Bacalah Kejadian 18:16-33 dan lihat bagaimana proses “tawar menawar” Abraham terhadap Tuhan yang memohon agar Sodom jangan sampai dimusnahkan. Abraham memulai dari 50 orang benar. Jika ada 50 orang benar, Tuhan siap mengampuni kota itu.  “TUHAN berfirman: “Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.” (ay 26).  Tapi ternyata tidak ada 50 orangpun yang benar. Abraham terus menawar hingga jumlah orang benar mencapai 10 orang. Dan untuk 10 orang pun Tuhan mau mengampuni Sodom. “Katanya: “Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?” Firman-Nya: “Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu.” (ay 32). Lihatlah, iman 10 orang pun akan mampu membuat perbedaan. Namun sayangnya ternyata 10 orang pun tidak ada disana untuk menopang kotanya dalam doa. Akibatnya, Sodompun dimusnahkan Tuhan.

Tugas ada di pundak kita, orang-orang percaya. Apakah kita ingin negeri kita mengalami pemulihan atau terus membiarkannya menuju jurang kehancuran, itu semua tergantung dari seberapa jauh kepedulian kita untuk mendoakan bangsa ini, dan seberapa jauh kita hidup dengan benar. Sejauh mana kita bisa menjadi umat Tuhan yang berkenan di hadapanNya, yang peduli terhadap nasib negeri kita. Doakan, doakanlah terus. Naikkan doa syafaat bagi negeri kita dan para pemimpin, agar mereka bisa memimpin dan mengelola negeri ini dengan baik dan takut akan Tuhan. Paulus pun mengingatkan hal ini. “Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan.” (1 Timotius 2:1-2). Bukan kita yang sanggup melakukan pemulihan, melainkan Tuhan. Tapi kita bisa menjadi penggeraknya, lewat doa-doa kita. Tuhan mampu memulihkan negeri kita. Tugas kita adalah berdoa, percaya, hidup benar dan mencari wajahNya. Jangan tunggu sampai negeri kita harus mengalami hal yang sama seperti Sodom. 10 umat Tuhan yang benar-benar percaya dan peduli pun sudah bisa mendatangkan perubahan positif. Jangan tinggal diam, jangan berpikir pesimis bahwa anda hanyalah minoritas yang tidak bisa berbuat apa-apa, sebab itu bukanlah gambaran yang diinginkan Tuhan. Datanglah pada Tuhan hari ini dan berdoalah bagi negeri kita. Tuhan akan mendengar dan siap memulihkan.

Sedikitpun asal benar mampu menggerakkan hati Tuhan untuk mengampuni dan melakukan pemulihan

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.