Mahkota Kemuliaan dan Hormat

Ayat bacaan: Mazmur 8:6
===================
“Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”

Siapakah yang berhak memakai mahkota? Hiasan kepala yang khas dan seringkali bertahtakan berlian atau logam-logam mulia yang berharga lainnya seperti emas ini dahulu dipakai oleh raja, ratu atau orang-orang besar yang berkuasa. Mahkota dipergunakan sebagai lambang kekuasaan, kedaulatan dan kehormatan. Belakangan mahkota juga dipakai sebagai lambang kemenangan seperti yang sering kita lihat pada kontes-kontes seperti Miss World, Miss Universe dan sebagainya. Siapapun yang memakai atau menganugerahkan, satu hal yang pasti adalah bahwa mahkota tidak dipakai oleh sembarang orang. Hanya orang-orang berkuasa atau yang berhasil meraih pencapaian-pencapaian tertentu saja yang boleh memakainya. Anda mungkin sama seperti saya, bukan seorang raja/ratu atau pemenang salah satu kontes besar internasional sehingga saat ini anda tidak memakai mahkota di kepala. Tapi tahukah anda bahwa Sang Pencipta memberi manusia sebuah mahkota yang sangat istimewa, sebuah mahkota dengan kemuliaan dan hormat?

Daud tampaknya merupakan pribadi yang suka melakukan perenungan dan suka mengamati secara mendalam akan apa yang ia lihat. Kecintaannya terhadap alam pun sangat besar, dimana dalam banyak kesempatan kita menemukan tulisan-tulisan perenungan yang muncul dari pengamatannya akan alam yang indah hasil ciptaan Tuhan. Pada suatu malam Daud menerawang memandang langit di malam hari yang dipenuhi bintang-bintang. Daud tidak sekedar melihat atau memandangi saja, tetapi ia mengambil momen untuk merenungkan eksistensi manusia dibandingkan dengan langit yang bertahtakan bintang kerlap kerlip. Hasilnya bisa kita baca dalam kitab Mazmur. Katanya: “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5). Pemikiran Daud sangat sederhana tapi dalam. Jika kita hanya mengagumi keindahan langit, ia berpikir lebih jauh dengan membandingkan keindahan langit penuh bintang dan cahaya bulan dengan keberadaan manusia. Siapakah kita manusia? Ketika langit di malam hari diciptakan Tuhan dengan sangat indah, manusia terus merusak hasil ciptaan Tuhan dan menyakiti hatinya. Tapi Daud menyadari bahwa keberadaan kita manusia ternyata jauh lebih indah dan spesial di mata Tuhan dibandingkan ciptaan terindah manapun yang sudah atau pernah Tuhan buat. Lihatlah kelanjutan ayat diatas. “Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.” (ay 6). Tidak terkira keindahan dan kesempurnaan alam semesta ini diciptakan, tetapi manusia tetap ciptaan Tuhan yang berbeda. Teristimewa dibandingkan ciptaan-ciptaan lainnya. Begitu istimewa bahkan dikatakan bahwa kita Tuhan mahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dibuat mirip Allah dan memiliki citra Allah dalam diri kita. Kita dibentuk secara unik dari debu tanah langsung dari tanganNya, lalu menghembuskan nafas hidup ke dalam kita. (Kejadian 2:7). Itu menyatakan dengan jelas bahwa manusia adalah ciptaan Tuhan yang teristimewa. Dan kepada kita diberikan kuasa. Daud mengatakannya seperti ini: “Engkau membuat dia berkuasa atas buatan tangan-Mu; segala-galanya telah Kauletakkan di bawah kakinya.” (Mazmur 8:7).

Kelak Petrus menyebutkan hal ini juga. “Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.” (1 Petrus 2:9). Kita disebutkan sebagai yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa kudus, milik Allah sendiri. Sebegitu istimewanya kita diciptakan, karenanya kita pantas bersyukur setiap saat dalam keadaan seperti apapun. Tetapi ayat ini juga seharusnya mengingatkan kita bahwa ada tugas yang disematkan untuk menyatakan kemuliaan Tuhan di dunia, menjadi penyampai berita perbuatan-perbuatan besarNya. Menjadi sosok anak-anak terang yang mewakili nama baik Bapa kita, Raja diatas segala raja.

Kita dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, kita terpilih sebagai imamat yang rajani, kehidupan kita pun seharusnya mencerminkan prinsip Kerajaan dan menggambarkan citra Sang Raja. Kita harus selalu menjaga agar jangan sampai mahkota yang dipakaikan Allah atas kita, yang penuh kemuliaan dan hormat itu sampai membuat muka Sang Pemberi tercoreng akibat perilaku kita yang buruk. Ingatlah bahwa kepada setiap manusia Tuhan sudah memberi kita kuasa penuh atas segala ciptaan Tuhan lainnya, baik ikan di laut, burung di udara dan atas segala hewan darat lainnya. “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kejadian 1:28). Bukan hanya menguasai, tapi juga taklukkan. Itu bukan berarti bahwa kita boleh sembarangan atau seenaknya mengeksploitasi semuanya, tapi kita justru diminta untuk menjaga kelestarian alam beserta isinya sebagai bentuk pertanggungjawaban atas kuasa yang telah Dia berikan atas kita semua. Mahkota kemuliaan dan hormat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia jangan sampai disia-siakan atau tidak dihargai.

Jika anda memenangi sebuah mahkota, anda tentu akan bangga dan menjaga agar mahkota itu tetap baik dan terlihat indah di atas kepala anda bukan? Seperti itu pula kita seharusnya menyikapi mahkota yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Kita diciptakan dengan tujuan mulia secara istimewa. Oleh karena itu kita harus belajar untuk hidup sesuai prinsip Kerajaan, menjadi anak-anakNya yang benar-benar menghidupi segala hak-hak yang telah diberikan kepada kita dan melakukan tanggung jawab kita pula. Sudahkah kita benar-benar menghayati jati diri kita sebagai ciptaan spesial yang segambar dengan Allah? Sudahkah kita menghargai mahkota yang Dia berikan lewat cara hidup yang berkenan dihadapanNya? Hendaknya perenungan Daud ini membuka cakrawala baru dalam pemikiran kita bahwa kita diciptakan seperti gambar dan rupaNya, kita dimahkotai kemuliaan dan hormat sehingga tidak satupun manusia yang boleh merasa rendah diri atau tidak berharga. Kemudian renungkan pula bahwa layaknya sebuah mahkota kehormatan, penghargaan itu harus kita jaga dengan baik, apalagi jika menyadari bahwa Tuhan sendiri yang memberikan, bukan manusia lain yang hidup di dunia yang sama dengan kita. Kita mungkin tidak melihat ada mahkota di atas kepala kita, tetapi ketahuilah bahwa Tuhan memberikan itu kepada kita semua tanpa terkecuali. So let’s ask ourselves this question: as a crowned human, what should we do, and what can we do to glorify Him? 

We are the crown of creation

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.