Luas Jangkauan Kasih

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 11:18
========================
“Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”

luas jangkauan kasih

Apakah anda termasuk orang yang merasa tidak nyaman ketika berada di tengah-tengah kumpulan orang yang masih asing bagi anda? Jika ya, anda tidak sendiri. Sebab justru kebanyakan orang akan merasa seperti itu jika mereka berada di antara orang yang tidak mereka kenal. Ketika berada di sebuah pesta misalnya, dimana anda merasa terasing, maka secara reflek kita akan segera mencari “zona nyaman” keluar dari kerumunan. Mungkin duduk atau berdiri dipojokan, mengutak utik handphone atau berusaha menyibukkan diri dengan berbagai cara. Jarang ada orang yang bisa lekas merasa nyaman dan langsung berbaur dengan mudah dengan sekumpulan orang yang baru saja dikenal. Akan berbeda jika kita berada disekitar orang-orang yang kita kenal baik, di lingkungan teman atau keluarga. Mengapa saya memulai renungan hari ini dengan ilustrasi diatas? Karena itu membuktikan bahwa sebenarnya ruang lingkup atau luas jangkauan kasih kita sesungguhnya sempit.

Pada jaman ketika jemaat mula-mula mulai tumbuh, mereka pun hidup dengan jangkauan kasih yang sempit. Sebagai orang Yahudi, mereka merasa keselamatan hanyalah milik mereka dan akibatnya mereka menganggap diri eksklusif dan memandang rendah orang-orang yang berada diluar lingkar mereka. Masuk ke rumah orang non Yahudi saja sudah dianggap haram, apalagi makan dan membaptis mereka? Jelas itu sebuah dosa besar menurut mereka. Kita bisa membaca gambaran ini dengan jelas dalam Kisah Para Rasul 11:1-18. Disana kita bisa melihat bagaimana mereka menghujat Petrus yang pergi ke rumah orang-orang bukan Yahudi dan membaptis mereka. Sampai-sampai Petrus harus menjelaskan panjang lebar mengapa dia melakukan itu. Petrus menjelaskan bahwa masalah halal dan haram itu adalah urusan Tuhan, yang tidak boleh kita ubah-ubah sesuai pemikiran kita. Suara Tuhan turun kepada Petrus berbunyi: “Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!” (Kisah Para Rasul 11:9). Tidak hanya sekali, hal yang dialami Petrus itu ternyata diulang sampai tiga kali. (ay 10). Ini menunjukkan bahwa apa yang diingatkan Tuhan ini sangatlah penting mengingat kecenderungan manusia yang begitu mudah menghakimi dan menganggap diri paling benar. Ketika Petrus menjumpai orang-orang non Yahudi dan masuk ke rumah mereka, kita kemudian melihat bahwa lawatan Roh Kudus turun atas mereka, sama seperti kepada orang-orang Yahudi. “Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.” (ay 15). Lihatlah bahwa lawatan Roh Kudus Tuhan curahkan secara sama. Petrus menyaksikan hal ini secara nyata, dan jelas hal ini merubah paradigma yang selama ini ia pikir sebagai sesuatu yang benar. Petrus pun berkata “Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?” (ay 17). Dan ketika hal ini ia jelaskan kepada orang-orang Yahudi yang menghujatnya, mereka pun akhirnya bisa mengerti akan hal itu. “Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.” (ay 18).

Paulus juga mengingatkan hal yang sama, agar kiranya sebagai orang-orang percaya kita jangan sampai meletakkan diri secara eksklusif dan menganggap orang-orang lain sebagai musuh yang sudah sepantasnya binasa. Jika bagi kita dianugerahkan keselamatan, hal yang sama pun berlaku bagi mereka secara sama. “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya.” (Roma 10:12). Siapapun yang berseru kepada Tuhan akan diselamatkan (ay 13). Kata siapapun artinya berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali. Tetapi ingatlah, “..bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Sesungguhnya ini penting untuk kita renungkan. Apakah dengan bersikap ekslusif kita mampu menyampaikan Injil keselamatan kepada orang lain? Apakah ada orang yang bisa mengenal Kristus jika tidak ada yang memberitakannya? Ini seharusnya menjadi tugas kita, orang-orang yang mengemban Amanat Agung sesuai yang digariskan Kristus sendiri. Dengan menganggap diri sendiri paling layak sedang yang lain tidak itu artinya kita memasang batas lingkaran kasih yang begitu sempit. Dan apabila ini kita lakukan, maka kita tidak akan pernah menjalankan tugas kita seperti yang diperintahkanNya.

Yesus berkata bahwa bukan saja orang yang baik yang mendapat anugerah Tuhan, tetapi orang jahat pun tidak luput dari perhatian dan kepedulianNya. “..kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Matius 5:45). Selanjutnya Yesus mengatakan “Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?” (Matius 5:46-47). Semua ini jelas menjadi peringatan bagi kita agar tidak bersikap eksklusif dan mementingkan diri sendiri. Lingkaran atau daya jangkau kasih kita harus diperluas, tidak hanya mampu menjangkau keluarga atau teman-teman saja, tetapi orang asing yang tidak kita kenal sekalipun seharusnya mampu merasakan jamahan Tuhan lewat diri kita. Sebab kalau bukan kita, siapa lagi? Mengalirkan kasih kepada orang lain sesungguhnya sangat penting, karena “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.” (1 Yohanes 4:8).

Siapkah kita meruntuhkan tembok-tembok pembatas atau penghalang yang selama ini membuat kita enggan untuk menjangkau orang-orang asing? Mampukah kita keluar dari zona nyaman kita dan mulai belajar untuk berinteraksi dengan orang dalam jarak jangkau yang lebih luas? Maukah kita membangun persahabatan dengan orang-orang yang berbeda suku, agama, ras, budaya, status sosial dan sebagainya? Ini penting untuk kita tanamkan, sebab keselamatan bukan hanya milik kita semata, tetapi kesempatan yang sama juga Tuhan berikan kepada orang-orang lain. Jika kita bisa selamat, mereka pun bisa. Dan tugas itu ada di tangan kita sebagai anak-anak Tuhan, agen-agenNya di muka bumi ini. Sekarang saatnya bagi kita untuk memperluas pergaulan kita agar bisa menjangkau mereka yang masih berada jauh diluar keselamatan. Seberapa banyak kita bisa menjadi berkat akan sangat ditentukan dari seberapa luas jangkauan kasih yang kita buat.

Perluas daya jangkauan kasih agar bisa menyentuh orang-orang diluar lingkaran pergaulan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.