Live-in di Stasi Ajibarang dan Bumiayu, Para Romo dan Bruder MSC ‘Turun Gunung’ ke Permukiman Pedesaaan

SALAM damai saudaraku, kali ini saya kirim tentang kiprah para romo dan bruder MSC yang ‘turun gunung’ ke Stasi Ajibarang dan Bumiayu untuk melakukan live-in. 

Sudah 2 hari ini, mulai Rabu-Kamis pekan ini, kami –para romo dan bruder MSC—tinggal bersama para keluarga katolik di permukiman pedesaan. 

Saya sendiri tinggal bersama keluarga Pak Mul-Lie Hwa yang pernah saya kenal baik saat saya menjadi pastor Paroki Katedral tahun 1994 silam. Tentu saja, yang namanya tinggal menetap bersama keluarga, maka saya pun juga mengikuti acara makan, minum, tidur, bercakap-cakap santai seturut irama kehidupan keluarga ini. 

Pukul 03.30 pagi-pagi buta, keluarga ini sudah mengawali harinya dengan bangun pagi untuk segera bisa bersiap-siap berjualan kebutuhan sembako. Mereka berjualan di pasar tradisional tak jauh dari rumah mereka.  Baru menjelang petang hari sekitar pukul 16.00, mereka pulang kerja.

Bersama Pak Mul, saya diajak jalan-jalan mengeliling permukiman untuk melakukan kunjungan keluarga.

Sayabisa merasa enjoying life dengan kegiatan ini dan have a good day.

Photo credit: Ilustrasi suasana pasar tradisional (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.