Lip Sync vs Inner Beauty (1)

Ayat bacaan: Yakobus 2:9
====================
“Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.”

Lip Synchornization atau yang lebih dikenal dengan sebutan pendeknya lip sync merupakan salah satu metode yang kerap dipakai oleh artis-artis yang kurang percaya diri agar bisa terlihat tampil maksimal di panggung. Saya masih ingat betul di awal tahun 90an bagaimana gegernya dunia musik dunia ketika duo terkenal Milli Vanilli ketahuan melakukan lip sync dalam penampilannya. Penggemar musik terkejut ketika mengetahui bahwa mereka bukanlah penyanyi aslinya. Penampilan dan rupa yang bagus mereka pakai untuk mengecoh penggemar. Mereka komat kamit seolah bernyanyi padahal itu hanyalah rekaman dari suara orang lain yang bernama Morvan dan Pilatus.

Kasus yang sama kembali terulang hampir 20 tahun setelah era Milli Vanilli. 2 dekade setelahnya ternyata penampilan fisik masih diagung-agungkan dunia sebagai sesuatu yang jauh lebih penting dari inner beauty atau keindahan dari dalam. Pada tahun 2008 di Olimpiade Beijing 2008 skandal kembali terjadi. Pada saat itu seorang anak perempuan cantik dan lucu bernama Lin Miaoke tampil menyanyikan “Ode to the Motherland” secara live pada acara pembukaan. Tapi kemudian penipuan ini pun terbongkar. Penyanyi aslinya ternyata bernama Yang Peiyi, yang penampilan luarnya tidak seperti Lin Miaoke. Kalau kita lihat di panggung-panggung live di televisi hari ini masih saja banyak yang melakukan hal itu. Meski tidak separah Milli Vanilli karena mereka sendiri yang bernyanyi, tetap saja lip sync dipakai agar penampilan di depan orang banyak bisa terlihat sempurna. Saya suka tertawa melihat kepura-puraan mereka yang sering tidak pas dengan suara yang terdengar, atau bahkan terang-terangan di akhir lagu musiknya fade-out atau mengecil secara perlahan hingga berhenti.  Lagi-lagi lipsync, lagi-lagi penipuan yang didasarkan dari penampilan luar.

Sampai kapan dunia bisa belajar menghargai talenta atau bakat yang diberikan Tuhan? Sampai kapan dunia hanya mementingkan apa yang terlihat di luar ketimbang kecantikan atau keindahan dari dalam. Apakah berkat hanya berbicara tentang penampilan luar yang menarik, cantik, ganteng, sementara bakat-bakat atau potensi dalam diri manusia tidak dianggap sama sekali? Dunia saat ini adalah dunia yang cenderung menilai segala sesuatu dari penampilan luar. Sayangnya kita pun suka ikut-ikutan seperti itu. Banyak diantara kita yang masih saja seperti dunia, lebih tertarik pada penyanyi yang cantik dan menarik, meski suaranya pas-pasan atau bahkan tidak seharusnya dipakai untuk menyanyi. Sebaliknya penyanyi yang benar-benar bersuara emas jika tidak disertai dengan kecantikan luar seringkali dipandang sebelah mata. Tidaklah heran jika banyak artis yang aji mumpung memanfaatkan momen selagi bisa.

Saya bukan anti kepada orang yang penampilannya menarik, karena itu pun tentu berkat dari Tuhan. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa alangkah naifnya jika kita hanya menilai semata-mata dari sudut yang terlalu sempit saja, hanya dari fisik luar. Siapapun manusia, semuanya diciptakan Tuhan dengan tujuannya masing-masing. Ada rencana Tuhan yang indah yang telah Dia anugerahkan kepada setiap orang tanpa terkecuali.

Tuhan tidak pernah memandang penampilan luar orang. Apa yang dilihat Tuhan adalah hati. Lihatlah ayat berikut: “Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Samuel: “Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.” (1 Samuel 16:7). Hati, itulah yang diperhitungkan Tuhan, “inner beauty” lah yang sesungguhnya yang bernilai di mata Tuhan.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.