Lima Anak SMA Hebat dalam Pelatihan Jurnalistik di Atambua

Para peserta Pelatihan Jurnalistik dan Lay Out di Atambua/ Foto: Dio Bowo

MESKI tidak didampingi oleh pastor atau guru yang juga hadir dalam pelatihan jurnalistik dan lay out di Wisma Emaus, Nenuk, Atambua, NTT, kelima anak SMA yang terdiri dari Putri, Stefania, Maria Flaviana, Luis J.P, Alex Alfa menghasilkan artikel yang paling bagus dan layak tayang bahkan tanpa perlu diedit.

“Gagasannya runut, pilihan kata dan bahasa sudah enak dan tepat di telinga. Demikian juga sudut pandangnya sudah jelas dengan intro dan pilihan judul yang menarik,”ujar Abdi Susanto yang memberi materi tentang menulis berita yang baik dalam pelatihan yang diselenggarakan oleh Komsos KWI selama 3 hari, dari 26-28 Februari 2015 di Atambua.

Selain kelima anak SMA ini ada beberapa anak SMP, mahasiswa dan enam pastor yang turut hadir dalam pelatihan yang berlangsung maraton dari pagi pukul 08.00 hingga 22.00 WITA. Jumlah semua yang hadir ada empat puluh tiga orang yang setia berlatih dari hari pertama hingga terakhir.

Justru ada satu kelompok yang terdiri dari beberapa pastor dan frater serta dua guru malah kurang maksimal menghasilkan sebuah artikel yang temanya seharusnya sudah menjadi bagian dari hidup sebagian besar anggota kelompok ini, yakni tentang pengembangan minat dan bakat di Seminari Menengah Sta. Maria Immaculata Lalian, Keuskupan Atambua.

“Kelompok ini seharusnya bisa bereskplorasi lebih luas dan dalam karena tema dan sudut pandang yang mereka pilih sudah menjadi bagian dalam kehidupan mereka,”ujar Abdi.

Meski begitu, artikel yang dibuat oleh Romo Coernelis Subani Pr, Rm. Arnold Lema Pr, Fr. Gabriel Fahik S.Fil, Marselina Bui, dan Brigita Ximenes Belo (kedua yang terakhir adalah para pendidik/guru) sudah layak terbit di majalah. “Baik yang kelompok SMA maupun kelompok sepuluh yang terdiri dari para romo dan frater ini tetap layak tayang meski harus dibenahi gaya bahasanya,”jelas Abdi.

Pada dasarnya, keberhasilan yang ditunjukkan pada siswa SMA ini karena sudah menjalankan prosedur yang sudah diajarkan dalam pemaparan sebelum praktik tentang teknik menulis berita dengan berbagai komponennya.

Mereka sudah mulai dengan berkumpul menentukan obyek yang hendak ditulis, mengambil sudut berita, menginventarisasi daftar pertanyaan, kemudian menentukan intro atau lead setelah wawancara berlangsung. Langkah-langkah ini kemudian diperkuat dengan teknik-teknik menulis efektif yang sudah diajarkan sehingga menghasilkan tulisan yang padat dan berisi serta enak dibaca.

Karena itu, kata Abdi, menulis bukanlah persoalan pengetahuan yang selesai problemnya ketika sudah dikuasai teorinya. Seperti ketrampilan lain, kuncinya ada pada latihan. “Kita harus terus menerus melatih diri dengan setiap hari menulis. Pelatihan ini hanyalah awal agar kita semakin rajin menulis dan menulis,”tegas Abdi.

Sekretaris Eksekutif Komsos KWI RD Kamilus Pantus menyebutkan bahwa kegiatan pelatihan dasar ini diharapkan dapat menjadi bekal bagi Orang Muda Katolik (OMK) terutama dalam aktivitas gereja lokal sehingga dapat ditulis, dijadikan berita. Dengan demikian pengalaman-pengalaman tersebut tidak hanya menjadi pengalaman dengan konteks paroki atau keuskupan saja, melainkan menjadi pengalaman Gereja Katolik Indonesia yang dapat dinikmati banyak orang.

“Dalam pandangan gereja, sangat penting diadakan pelatihan jurnalistik seperti ini, sebab banyak peristiwa penting di daerah termasuk di wilayah perbatasan Belu yang tidak dapat dikonsumsi masyarakat secara nasional karena keterbatasan wartawan atau penulis. Dengan demikian, dari pelatihan ini, para peserta diharapkan paling tidak bisa menjadi koresponden dan melaporkan setiap peristiwa yang terjadi,”ujar Romo Kamilus.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.