Lepaskan Tauratisme dan Farisiisme

Kamis 12 Juni 2014: Hari Biasa Pekan X
1Raja 18:41-46; Mzm 65:10-13; Matius 5:20-26

“Aku (= Yesus Kristus) berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga.” (Matius 5:20).

SAAT membaca kutipan itu, Ah, saya jadi ingat saat kemarin (11/06) saya pulang dari Muntilan ke Semarang. Ada pemandangan yang menarik di gerbang/pintu tol tembalang. Saat saya mau bayar tol; seorang sopir mobil box berjalan ke arah petugas setelah memarkir mobilnya di tepi jalan. Saya mendengar persis yang dikatakannya kepada petugas dan melihat tindakannya yang mengagumkan itu.

“Mas ini kembaliannya kelebihan tiga ribu rupiah!” Katanya kepada petugas dalam bahasa Jawa sambil menyerahkan uang Rp. 3.000,00 itu. Terus terang saya sangat terharu mendengar dan melihat adegan itu.

Ruaaarrrr biasa! Ia jujur, tulus dan ikhlas. Sikap itu sangat berlawanan dengan mentalitas para pejabat dan elite politik yang suka korupsi yang mirip para ahli Taurat dan orang Farisi.

Yesus bersabda, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:20). Apa yang dimaksud Yesus dengan sabda ini ya? Hidup keagamaan yang lebih benar dibandingkan dengan hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi itu yang seperti apa sih, hingga Yesus menyampaikan sabda itu?

Pada zaman Yesus, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi menghayati hidup keagamaan secara kaku, legalistik alias melulu hukumistik tetapi hukum-hukum yang sesuai dengan keuntungan mereka. Mereka juga membuat aturan-aturan yang tidak perlu untuk orang lain, yakni umat, tapi mereka sendiri bahkan tidak mau menyentuh dengan ujung jarinya sekalipun alias tidak melakukannya.

Hidup keagamaan mereka juga ditandai kemunafikan. Tidak ada keteladanan dalam diri mereka. Mereka suka curiga dan prasangka buruk pada sesama, termasuk dan terutama terhadap Yesus. Mereka memusuhi Yesus bahkan mata gelap membunuh Yesus dalam kolaborasi jahat dengan penguasa Romawi kala itu.

Yesus menghendaki dan mengajak kita untuk memiliki hidup keagamaan yang lebih dari mereka itu. Bagaimana kita bisa melakukannya?

Semangat Tauratisme dan Farisiismen pun masih ada di antara kita. Kita perlu meretasnya. Yesus mengajak kita untuk mengembangkan cara pandang positif (positive thinking) pada orang lain. Yesus juga mengajak kita bersikap jujur, tulus dan ikhlas serta rendah hati.

Agama mewujud pada iman yang dihidupi dengan perilaku yang baik, jujur dan ikhlas. Ditopang pula oleh perkataan yang santun dan beradab. Ditandai oleh sikap hormat dan respek pada siapa pun, termasuk yang berbeda dari kita.

Maka bagiku, sikap pak sopir mobil box di gerbang Tol Tembalang luar biasa. Ia telah memberi contoh yang sederhana namun istimea tentang hidup keagamaan yang mewujud dalam hidup harian. Apa pun iman dan agamanya, dia sudah menghayati hidup keagamaan yang lebih benar dari pada para ahli Taurat dan Farisi.

Terkait dengan Adorasi Ekaristi Abadi. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar menghayati hidup beriman yang kian menyatu dengan Yesus Kristus sebagai sumber kekuatan kita. Semoga membuat kita menjadi pribadi yang jujur, tulus, ikhlas dan rendah hati.

Tuhan Yesus Kristus, berilah kami hati yang tulus dan jujur. Anugerahilah kami kerendahan hati dan keikhlasan untuk memandang orang lain dengan cara pandang positif, bukan negatif. Terpujilah Engkau kini dan selamanya. Amin.

Photo credit: Ilustrasi (The Drawing Board)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.