Lentera Keluarga: Sabtu, 9 September 2017 – Hari Bersama Allah


Bacaan: Kol 1:21-23; Mzm 54:3-4.6.8; Luk 6:1-5.


Renungan


PARA murid Yesus tentunya tahu  bahwa hari itu adalah hari Sabath dan mereka harus mentaatinya sesuai dengan pengetahuan yang diajakan oleh orang tua dan masyarakat mereka. Namun nampaknya para murid Yesus mempunyai penafsiran berbeda dengan beberapa orang Farisi mengenai  “tidak melakukan pekerjaan” seperti berjalan dan memetik gandum pada hari Sabath. Yesus menanggapi teguran orang farisi kepadaNya dengan kasus khusus yaitu kelaparan/kebutuhan dasar. Yang kedua hari sabath tidak boleh diartikan sebagai hari “istirahat” saja, tetapi sebagai hari khusus untuk bersama dengan Allah.


Hari minggu bagi kita adalah hari yang secara istimewa kita baktikan bagi Allah dan kita diwajibkan untuk misa hari minggu. Bagi beberapa orang, hari minggu kadang dilihat sebagai hari istirahat dari kerja, refresing dengan hoby, menikmati liburan bersama keluarga ke pantai dll, tetapi kita lupa bahwa hari minggu (domingo) adalah hari Tuhan: hari yang kita baktikan bagi Tuhan, termasuk dengan merayakan ekaristi. Namun juga, ada situasi dimana karena kebutuhan hidup, ketergantungan terhadap pekerjaan terhadap orang lain, atau karena tinggal terpencil yang tidak dapat terjangkau oleh gereja-transportasi, orang tidak dapat ikut merayakan perayaan ekaristi pada hari Minggu.  Situasi seperti ini kewajiban misa hari minggu tidak mudah dipenuhi. Namun walapun tidak dapat dipenuhi, merekapun tidak dapat melalaikannya begitu saja. Mereka masih dapat mengkhususkan Tuhan pada hari minggu dengan membaca firman, merenungkan dan doa serta mengikuti Ekaristi pada hari-hari lain.  Hari sabath bukan hanya sekedar hari istirahat tetapi hari kita bersama keluarga dan bersama Allah.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana Yesus menjawab orang farisi berkaitan dengan kasus para murid yang berjalan dan memetik gandum serta memakannya.


Refleksi


Bagaimana sikapku terhadap hari Tuhan? Apakah aku menggunakannya untuk bersatu dengan Tuhan sebagai keluarga? Ataukan aku menggunakannya semata sebagai hari “istirahat”?


Doa 


Ya Bapa, semoga dengan tekun aku bersama dengan seluruh keluargaku menjadikan hari Minggu sebagai Hari bagi Tuhan .  Amin.


Perutusan


Aku menjadikan hari minggu sebagai hari yang istimewa kubaktikan untuk Tuhan.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

5 pencarian oleh pembaca:

  1. ilustrasi khotbah advent
  2. renungan hari minggu
Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: