Lentera Keluarga: Sabtu, 30 September 2017 – Keluarga Yang Terbuka

Posted on

PW Santo Hieronimus

Bacaan: Za 2:1-5.10-11a; Yer 31:10-12b.13; Luk 9:43b-45.

Renungan

DENGAN indah Zakaria menggambarkan bahwa Yerusalem Baru, Kerajaan Allah tidak ada ukuran dan batasnya. Kerajaan Allah bukanlah sebuah tempat tertutup, yang dikhususkan hanya untuk orang-orang tertentu dan mengecualikan orang-orang lain; Kerajaan Allah itu merangkul semua orang tanpa kecuali :”banyak bangsa akan menggabungkan diri kepada Tuhan dan akan menjadi umatKu, dan Aku akan tinggal di tengah-tengahmu”.

Geraja bukanlah sebuah komunitas tertutup yang hanya dihuni oleh kaum suci dan sempurna menurut kacamata banyak orang, tetapi juga oleh mereka yang menurut kacamata banyak orang berada dalam ketidaksempurnaan dan kelemahan. Gereja menjangkau dan merangkul mereka yang sedang bergumul dalam perkawinan, berpisah, hidup dalam pernikahan yang tidak sejalan dengan perkawinan katolik, single mother, LGBT, orang tua, anak-anak, tanpa kecuali. Saudara-saudara ini bukan bahan pembicaraan dalam pertemuan lingkungan, tetapi mereka perlu disapa, ditemani, dirangkul dan disatukan ke dalam kesatuan gereja.

Demikian gereja yang terkecil yaitu keluarga. Keluarga dipanggil untuk membuka pintu rumah dan merangkul saudara-saudara yang terdekat dengan kita dengan kasih.  Kita merangkul anak-anak kita yang kadang berjalan di luar kendali kita, kita merangkul orang tua-mertua kita yang  kadang iritasi dengan kita, kita merangkul saudara-saudara kita yang kadang sibuk mencari hidupnya sendiri. Keluarga adalah sebuah nework of love, yang menyebarkan virus cinta dan perasaudaan bagi semua orang.  Marilah kita belajar untuk tidak mengasingkan tetapi merangkul setiap pribadi, siapapun itu; karena Allahpun merangkul semua orang untuk masuk ke dalam KerajaanNya.

Kontemplasi

Gambarkan bagaimana Zakaria menggambarkan segi keterbukaan Kerajaan Allah.

Refleksi

Apakah hidupku sebagai anggota keluarga merangkul seluruh anggota keluarga atau membentengi diri dan mengasihkan mereka yang tidak sejalan? Bagaimana aku dapat merangkul mereka dalam kasih dan perasaudaraan?

Doa 

Ya Bapa, Engkau menghendaki kami untuk menjadi keluarga yang membuka hati dan rumah kami bagi saudara-saudara kami. Semoga kami mengembangkan semangat merangkul daripada mengasingkan, mendampingi daripada membicarakan. Amin.

Perutusan

Sebagai keluarga dan gereja, kita merangkul dan menjadi sahabat bagi saudara-saudara kita yang berada dalam pergumulan, persoalan dan kelemahan  (Morist-MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.