Lentera Keluarga – Post Power Syndome


Rabu, 31 Januari 2018.  PW. St. Yohanes Bosco.


Bacaan:  2Sam 24:2.9-17; Mzm 32:1-2.5.6.7; Mrk 6:1-6


Renungan


TIDAK mudah menemukan jawaban mengapa Daud merasa berdosa dan itu dibenarkan oleh reaksi Allah yang memberikan 3 perkara. Namun sekiranya Daud menunjukkan ketakutan akan kuasanya, meragukan kuasa Allah dan mau menghitung jumlah tentara untuk membangun kekuatan negaranya karena hasil sensusnya dibuat denhan kriteria “pria yang dapat memegang pedang”. Keraguan akan kuasa Allah itu membawa 3 pilihan bencana :  3 tahun kelaparan di negeri,  3 bulan dalam Daud dikerjar lawan, atau 3 hari penyakit sampar di negeri.  Kembali Daud menunjukkan ketakutan akan kehilangan kuasanya dan memilih mengorbankan rahyatnya 3 hari dengan penyakit sampar, sehingga mati 70 ribu orang. Pilihan Daud mengamankan dirinya sendiri dan mengorbankan rakyatnya. Daud tidak siap “lengser:”; Ia mengalami “post power syndome”.


Salah satu tantangan bagi seorang pemimpin-kepala keberanian untuk “lengser”.  ‘Lengser” kadang membawa orang pada pengalaman post power syndrom : ketakutan, rasa tidak aman dan keinginan untuk dihargai-dianggap penting. Kebiasaan yang muncul adalah sering memberikan kritik, intervensi dengan berpedoman pada kejayaan pribadi di masa lalu. Pengalaman “lengser” dan post power syndrome itu tidak hanya dialami dalam pekerjaan harian, tetapi juga dalam lingkup gereja dan bahkan dalam kalangan religius-imam. Pengalaman post poer syndome bukan hanya berakibat bagi orangnya sendiri tetapi juga bagi pengambilan-pengambilan keputusan yang berdampak pada hidup bersama. Pengalaman “lengser”  adalah kesempatan untuk  mengembangkan sikap kerendahan hati dan penyerahan. Semakin usia, bukan masa lalu dan jasa pribadi yang kita banggakan tetapi sikap penyerahan diri dan kepercayaan kepada generasi sekarang itulah yang kita kembangkan.


Dalam hidup keluarga, tidak jarang kita dapatkan orang tua yang mengeluh karena tidak didengarkan, tidak ditaati – dihormati atau bahkan dicuekin; orang tua yang hobi mengritik anak-anak atau cucu-cucu; atau memarahi mereka karena dianggap tidak benar, tidak sopan dll. Dan akhirnya bermuara pada perasaan tertolak dan tidak bahagia. Memang ada gap generasi. Tetapi gap generasi ini akan berat jika orang tua mengalami post power syndrome.  Masa “lengser” menjadi indah jika belajar dari matahari, yang menguning sejuk dan membesar ketika mau terbenam; memberikan keteduhan dan pemberian diri yang paripurna.


Kontemplasi


Gambarkan bagaimana Daud mengalami ketakutan kehilangan kekuasaannya yang kemudian berpengaruh pada pengambilan keputusan yang salah yaitu mengorbankan rakyatnya.


Refleksi


Bagaimana aku menjadikan peristiwa “lengser” dari kepemimpinan apapun dengan kesejukan, kebesaran hati dan penyerahan diri?


Doa


Ya Bapa, semoga sejalan dengan usiaku yang semakin bertambah, aku boleh bertumbuh dalam kesejukan hati, kebesaran hati dan penyerahan diri. Amin.


Perutusan


Estafetkan kepemimpinan anda dengan sikap sejuk, kebesaran hati dan penyerahan diri


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.