Lentera Keluarga – Pejuang HAM

Kamis, 23 November 2017
Bacaan: 1Mak 2:15-29; Mazmur : Mzm 50:1-2.5-6.14-15: Luk 19:41-44

Renungan

PADA jaman Anthiokus menguasai Israel, pemaksanaan penyembahan berhala terus membawa korban. Berbeda dengan Eleazar dan Ibu dari tujuh anak yang menjadi martir, Matatias tampil sebagai figur pahlawan. Ia tidak hanya menentang penyembahan berhala di hadapan Raja; Ia membunuh orang yahudi yang mempersembahkan korban kepada berhala dan kemudian mengadakan bersama-sama anak-ananya dan pengikutnya mengadakan perlawanan kepada Raja Athiokus. Figur martir dan pahlawan ada sebagai reaksi dari penindasan dan pemurtadan dari Anthiokus.

Kemartiran sering disalah mengerti sikap pasif yaitu membiarkan dirinya menjadi korban. Kemartiran adalah sebuah kematian karena orang beriman mempertahankan imannya. Kemartiran adalah sebuah akhir dari perjuangan non-violence. Namun demikian secara sosial dan moral, kemartiran ini tidaklah cukup untuk membuat tatanan menjadi baik. Ada sebuah nilai lain yang dibuat yaitu sefl defence, pembelaan diri atau membela orang lain untuk memperjuangkan kebaikan. Membela hak-hak orang lemah dan kebenaran adalah sebuah perjuangan injil. Persoalan moral yang sering muncul adalah ketika dalam proses membela diri ada efek ganda yaitu kekerasaan dan kematian orang lain.

Kita sebagai orang kristen diundang untuk menjadi “saksi” perubahan tantanan sosial, politik dan budaya supaya menjadi semakin manusiawi. Membela orang yang lemah, miskin dan tersingkir adalah sebuah kewajiban injili. Diam dan membiarkan diri-masyarakat hancur tidak sejalan dengan nilai-nilai Injil.  Salah satu janji baptis kita adalah : menolak segala kejahatan dalam diri sendiri, dalam masyarakat dan yang melanggar hak asasi manusia. Janji baptis kita berciri sosial juga.

Dalam hidup berkeluarga demikian juga halnya. Bersikap diam di satu sisi baik, tetapi di lain sisi adalah bentuk dari kurang tanggungjawabnya kita terhadap kebaikan hidup pasangan atau anggota keluarga kita. Semakin diam, persoalan-persoalan semakin rumit dan berat. Kadang kita perlu konfrontasi; namun harus dilakukan dengan baik. Konfrontasi bukan berarti kita menghadapi orangnya tetapi menyatukan hari untuk bersama-sama menghadapi persoalannya.

Kontemplasi 

Gambarkan mengapa Matatis memilih jalur hidup sebagai seorang pahlawan dengan mengadakan perlawanan?

Refleksi

Bagaimana sikapku berhadapan dengan ketidakbenaran, ketidakjujuran dan pelanggaran HAM di sekitarku?

Doa 

Ya Bapa, semoga aku juga perduli dan berani memperjuangkan kebenaran dan kebaikan masyarakat walaupun itu membawa resiko “kemartiran”. Amin.

Perutusan

Aku mengambil tanggungjawab untuk membela kebenaran dan kebaikan hidup manusiawi dan hidup bersama (Morist MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.