Lentera Keluarga: Minggu, 1 Oktober 2017 – Keselamatan Itu Relasi

Bacaan:  Yeh 18:25-28; Mzm 25:4bc-5.6-7.8-9; Flp 2:1-11; Mat 21:28-32

Renungan

KESELAMATAN adalah sebuah relasi, bukan akumulasi dari jumlah salah dan benar. Relasi yang sudah dipulihkan dan akrab menghapus segala dosa, luka  dan kesalahan masa lalu. Yehezkiel menegaskan, “ Kalau orang fasik bertobat dari kefasikan yang dilakukannya dan ia melakukan keadilan dan kebenaran, ia akan menyelematkan nyawanya.” Hal yang sama juga ditegaskan oleh Tuhan Yesus. Bahkan mereka yang mengalami pertobatan dikatakan akan lebih dahulu masuk ke dalam Kerajaan Allah. Pertobatan menghapus dosa, memulihkan dan semakin mengeratkan kedekatan relasi. Pertobatan itu bukan maksud baik “ya” tetapi adalah “ya” dalam tindakan.

Relasi kita sebagai pasangan suami isteri, sebagai orang, sebagai anak, kadang berjalan baik kadang juga tidak jalan. Kejengkelan, rasa sakit hati, kemarahan dan dendam yang terpendam bertahun-tahun, bahkan mungkin pengalaman itu sudah membuat kita meresa putus asa. Namun begitu orang mengalami pertobatan dan pemulihan sebagai suami isteri, orang tua, anak, maka segala aneka perasaan negatif tersebut akan hilang tergantikan oleh pengalaman kasih yang lebih dari sebelumnya.

Pemulihan dalam relasi  menuntut  “ya” di mulut tetapi “ya” dalam tindakan.  Pemulihan adalah sebuah tindakan kembali. Pemulihan yang hanya “janji-janji” belaka akan membuat relasi yang parah menjadi lebih parah lagi dan bahkan masuk ke dalam ketidakpercayaan. Tetapi juga kita juga tidak bisa mengatakan “tidak mau” atas undangan pertobatan-pemulihan karena kata itu juga melukai orang yang selama ini telah terluka. Mari kita mengatakan “ya” saya mau berubah, dan itu kita ungkapan dalam tindakan kita. Dengan “ya” di mulut dan “ya” dalam tindakan, kita tidak sekedar dipulihkan seperti sediakala dalam relasi tetapi jsutru semakin dikuatkan, walaupun “ya” kita itu mengalami pasang surutnya.

Orang yang mengasihi dan mencintai kita bukanlah orang yang pandai berkata-kata manis, tetapi adalah mereka yang memberikan hidupnya untuk kita. Akan tetapi berbahagialah kita, jika orang tersebut dapat berkata-kata indah dan juga memberikan hidupnya untuk kita.

Kontemplasi

Gambarkan dinamika emosi yang ada dalam hati Bapa dan anak-anak dalam perumpamaan yang dibuat oleh Yesus.

Refleksi

Bagaimana aku belajar semakin konsisten dalam hidupku dalam berelasi dengan Tuhan dan keluargaku: mengatakan “ya” dalam mulutku dan “ya” dalam perbuatanku?  Bagaimana dengan “ya” ku dalam perkawinan? Dalam imamat? Sebagai orang tua? Sebagai orang beriman?

Doa 

Ya Bapa, semoga seperti Bunda Maria, yang mengatakan “ya” dan melaksanakannya; semoga aku semakin konsisten dalam hidup iman dan relasiku dengan keluargaku untuk mengatakan “ya” dan melakukannya. Amin.

Perutusan

Aku belajar konsisten dengan kata “ya” dan tidak asal membuat janji yang tidak dapat kutepati  (Morist-MSF)

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.