Lentera Keluarga – Jumat, 25 Agustus 2017: Mertua dan Menantu


Bacaan: Rut 1:1.3-6.14b-16.22; Mzm 146:5-10; Mat 22:34-40.


Renungan


DAPAT digambarkan bagaiamana hati Naomi ketika kehilangan suami dan kedua anak laki-lakinya di negeri asing (Moab). Ia merencanakan pulang ke Israel bersama kedua orang menantunya. Ia digambarkan sebagai mertua yang sayang kepada menantunya: Orpa dan Rut walaupun mereka adalah wanita Moab. Kedua menantu ini berbeda. Orpa pulang ke negerinya dan kembali kepada hidup imannya yang lama, tetapi Rut berpaut pada mertuanya dan iman mertuanya.


Kebanyakan orang mengasumsikan bahwa  menantu dan mertua itu adalah musuh jika ditempatkan dalam satu atap. Asumsi ini juga yang membuat pasutri baru mempunyai konsep “tidak baik tinggal di rumah mertua-orang tua”, “lebih baik menjauh dari mereka”.  Pemahaman ini jauh dari nilai-nilai perkawinan itu sendiri. Cinta perkawinan harusnya menyebar, memancar kepada orang tua dan merangkul mereka, sesulit apapun orang tua-mertua kita  menurut pandangan kita. CInta Naomi kepada Orpa dan Rut menjadi contoh sebuah relasi akrab menantu mertua, walaupun mereka berbeda suku dan keyakinan. Awal konflik diawali justru ketika kita melihat bahwa mertua bukan orang tua kita, atau menantu bukanlah anak kita.


Nasib Naomi juga menjadi pengalaman dari orang tua atau mertua kita. Mereka semakin berusia, ditinggalkan pasangan, berhadapan sakit, berjuang dalam hidup sehari-hari, bergumul dalam kesepian dan semakin tidak mampu mandiri – tergantung hidupnya dari orang lain. Perkawinan tidak membatalkan perintah “hormatilah ayah ibumu”. Kita wajib merangkul dan merawat orang tua-mertua kita. Jangan menggunakan alasan memprioritaskan keluarga inti untuk tidak memperhatikan orang tua-mertua.  Kita justru sebagai keluarga inti yang harus memperhatikan orang tua-mertua kita.


Dan sebagai mertua-orang tua, walaupun kita tidak mau merepotkan anak-anak kita, tetapi kitapun harus menyadari bahwa semakin lama kita semakin bergantung terhadap mereka. Kita perlu anak-anak dan menantu kita, namun kita tidak boleh menguasainya dan menghormati keluarga inti mereka. Kita sendiri yang harus menemukan penghiburan dan pengalihan dari bahaya kesepian dengan hal-hal yang bermanfaat sesuai dengan tingkat usia kita.


Kontemplasi


Gambarkan pengalaman Naomi dan relasinya dengan para menantunya.


Refleksi


Apakah aku sebagai mertua membangun relasi yang akrab dengan menantu? Apakah aku sebagai menantu membangun relasi yang akrab dengan mertua?


Doa 


Ya Bapa, semoga cinta kasih perkawinan bertumbuh dan berkembang dengan merangkul dan mencintai keluarga besar kami, orang tua dan mertua. Amin.


Perutusan


Aku berdamai dan merangkul orang tua-mertua atau anak-menantu.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: