Lentera Keluarga – Gembala Atau Upahan


Minggu, 22 April 2018.


Bacaan:  Kis 4:8-12; Mzm 118:1.8-9.21-23.26.28cd.29; 1Yoh 3:1-2; Yoh 10:11-18


Renungan:


YESUS menyatakan diriNya sebagai gembala yang baik dan mengkontraskannya dengan orang upahan. Gembala yang baik mengenal, memberi makan, merawat, menggembalakan, menjaga pada domba dalam satu kawanan. Bahkan Ia yang ada pertama kali menjadi pelindung ketika ada bahaya yang mengancam. Ia berani mengorbankan hidupnya untuk keselamatan dan kebaikan para dombaNya. Sementara orang upahan hanya menggembalan domba bukan karena cinta pada domba tetapi karena mereka diupah-dibayar. Mereka mencari kepentingan dirinya sendiri dan mencari selamat ketika ada bahaya yang mengancam para domba.


Menjadi pertanyaan bagi kita para  gembala pemimpin jemaat: apakah kita sungguh menjadi gembala atau orang upahan? Apakah pelayanan-pelayanan yang kita berikan sungguh dikuasai oleh cinta yang tulus ataukah karena kepentingan pribadi? Apah kita fokus pada hidup jemaat: pada kebutuhan mereka, kerinduan mereka dan persoalan-persoalan hidup yang mereka alami? Bagaimana reaksi kita, ketika mereka menghendaki kehadiran kita di saat mereka sangat membutuhkan? Kita yang merawat mereka ataukah mereka yang merawat kita? Sabda Tuhan hari ini menjadi bahan refleksi bagi kita. Tuhan tidak menghendaki kita menjadi pelayanan upahan tetapi seorang gembala yang baik.


Kita sebagai orang tua adalah gembala. Anggota keluarga kita adalah kawanan kita. Apakah kita berani memberikan diri kita untuk anggota keluarga kita: memeberikan waktu, perhatian, kehadiran, sukacita bagi keluarga kita? Apakah hidup mereka penting bagi kita? Apakah kita ada hati untuk mendengarkan mereka? Apakah kita ada dan hadir ketika anak-anak kita membutuhkan kehadiran kita, terutama pada saat-saat penting hidupnya. Akankah anak-anak kita akan berkata kepada kita 20 tahun mendatang bahwa kita adalah gembala yang terbaik dalam hidup mereka? Banyak dari kita sebagai orang tua mengaku diri gembala, tetapi prakteknya adalah kita masih menjadi orang upahan.


Kontemplasi


Gambarkan perbedaan karakter antara Gembala dan Orang Upahan.


Refleksi


Apa yang akan dikatakan oleh anak-anak anda ketika mereka dewasa tentang anda sebagai orang tua?


Doa


Ya Bapa, ajar aku seperti Yesus, untuk menjadi gembala yang baik bagi jemaat dan bagi keluarga yang telah Engkau percayakan kepadaku. Ampuni aku ketika aku masih bersikap sebagai orang upahan, yang mencari diriku sendiri dan meninggalkan kawanan ketika bahaya mengancam hidup mereka. Amin


Perutusan


Katakanlah kepada diri anda sebagai orang tua bahwa anda adalah gembala bukan orang upahan



Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF


Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.


Sumber: Sesawi

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.