Lentera Keluarga – Damai Dan Konfrontasi


Kamis, 26 Oktober 2017.
Bacaan: Rom 6:19-23; Mzm 1:1-4,6; Luk 12:49-53.


Renungan


AKU datang bukan untuk membawa damai” tetapi membawa pertentangan.” Kata-kata ini diberikan Tuhan kepada para pengikutNya untuk menegaskan bahwa memilih Yesus itu mempunyai konsekwensi dan dapat menimbulkan perntangan di dalam keluarga. Pilihan atas Yesus itu lebih kuat daripada ikatan keluarga. Pilihan itu kadang membawa orang pada konfrontasi. Konfrontasi itu perlu untuk kebaikan dan kedamaian yang sejati ini.


Karena memilih Yesus, seorang anak diusir keluar dari rumah dan diputuskan hak warisnya. Karena memilih Yesus, seorang pegawai tidak pernah naik golongan dan mendapatkan promosi. Karena memilih Yesus, sebuah keluarga tidak pernah diundang dalam pertemuan-pertemuan sosial. Karena memilih Yesus, bekerja baik, benar dan jujur, seorang dapat dimusuhi dan berusaha untuk dijatuhkan dengan menghalalkan segala cara. Situasi seperti ini kadang membawa orang pada konfrontasi.


Dalam keluarga, kadang kita lebih memilih “tidak membuat perkara” daripada berkonfrontasi untuk kebaikan relasi dan keluarga kita. Menikmati “kedamaian semu” itu hanya akan membawa persoalan itu menjadi semakin besar dan parah. Tidak semua perkara itu harus dibahas dan dikonfrontasikan, karena itu akan membuat perkawinan dan kelaurga kehabisan energi dan menciptakan suasana tidak nyaman. Ada hal-hal penting dan mendasar yang “tidak cukup dimaklumi atau dibatin” tetapi harus dibicarakan, dikonfrontasikan dan dicari pemahaman bersama; seperti masalah kesetiaan, ekonomi, orang tua-mertua, pekerjaan dll.


Dalam konfrontasi itu kita hendaknya tetap berpegang pada prinsip dasar: memahami sedalam-dalamnya cara berpikir-perasaan orang lain, mengedapankan maksud baik, mengungkapkan dengan jelas pemikiran-perasaan kita dan bertujuan untuk mencari kebaikan relasi/keluarga. Konfrontasi hendaknya fokus pada persoalan real dan bukan  “seandainya”.  Konfrontasi yang benar akan menciptakan kedamaian dan kedekatan relasi dalam keluarga kita.


Kontemplasi


Gambarkan kata-kata Yesus “Aku datang bukan untuk membawa damai tetapi pertentangan”.


Refleksi


Apakah aku berani berkonfrontasi untuk kebaikan relasi dan keluargaku? Ataukah aku menghindari dan bersembunyi di balik “kedamaian”?


Doa 


Ya Bapa, ajarilah kami untuk mencari kedamaian sejati dengan keberanian kami untuk berbicara dan berkonfrontasi secara dewasa. Amin.


Perutusan


Aku mengambil beberapa tema penting dan masih mengganjal menyangkut relasi/keluarga untuk dibicarakan dan dikonfrontasikan dengan pasangan ataupun anggota keluargaku.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.