Lentera Keluarga – Bayar Pajak


Minggu, 22 Oktober 2017.
Bacaan: Yes 45:1.4-6; Mzm 96:1.3-4.7-8.9-10ac; 1Tes 1:1-5b; Mat 22:15-21


Renungan


DALAM pemahaman teokrasi Israel dimana agama menjadi dasar dari hidup bernegara membayar pajak kepada kaisar, yang de fakto, adalah penjajah, berarti sama dengan mendukung penjajah. Ketaatan membayar pajak menjadi  bukti ketundukan bangsa Israel kepada penjajah.


Sikap Yesus terhadap pajak perlu dilihat tidak hanya sekedar sikap politik Yesus, tetapi lebih pada tanggungjawab warga terhadap kesejahteraan bersama; baik untuk kepentingan kehidupan iman di Bait Allah maupun kesejahteraan masyarakat secara umum.


Penyalahgunaan pajak dan peraturan pajak yang berubah ubah, target pendapatan pajak yang memberatkan dan sikap pajak yang tajam ke bawah tapi kompromi ke atas, membawa banyak orang untuk lari dari pajak, memutar uang demi pajak rendah, dan “kompromi” pajak. Pajak dirasakan bukan lagi sebagai bentuk tanggungjawab bersama tetapi sebuah beban dan ketidakadilan untuk menikmati hasil jerih payah.


Di dalam situasi seperti ini, sikap para pengikut Kristus mengikuti sikap Yesus: kita turut memikul beban masyarakat dan membangun solidaritas dengan membayar pajak. Kita kontrol penggunaan pajak supaya dimanfaatkan sebesar besarnya untuk kepentingan masyarakat. Dan kitapun perlu mengawal peraturan dan petugas pajak untuk semakin memihak pada kehidupan nyata masyarakat, jujur dan benar.


Berlari menghindar dari pajak akan membawa kita para situasi yang rumit yang pada akhirnya juga akan merugikan ketenangan hidup kita sendiri dan kenyamanan di dalam bekerja.


Kontemplasi


Gambarkan sikap Yesus terhadap pajak melalui dialog dalam Injil hari ini.


Refleksi


Bagaimana aku mewujudkan tanggungjawab dan solidaritasku sebagai warga negara dengan membayar pajak secara bijak, benar dan bertanggungjawab?


Doa 


Ya Bapa, semoga kami sebagai orang kristen menjadi pionir dalam perwujudan tanggungjawab hidup bernegara dengan taat membayar pajak. Amin.


Perutusan


Aku membayar pajak dengan benar, taat dan bertanggungjawab. (Morist MSF)


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: