Lentera Keluarga – Apa Yang Kamu Cari

Kamis, 4 Januari 2018.
Bacaan:  1Yoh 3:7-10; Mzm 98:1.7-8.9: Yoh 1:35-42

Renungan

TUHAN Yesus menoleh ke belakang dan bertanya kepada kedua murid Yohanes menyadarkan mereka tentang motivasi kedua murid Yohanes yang mengikuti Yesus : Apa yang kamu cari?  Nampaknya pertanyaan Tuhan Yesus itu tidak mendapat jawaban langsung dari kedua murid itu. Mereka malahan balik membuat sebuah pernyataan : “Rabi, di manakah Engkau tinggal?”  Jawaban atas pertanyaan Tuhan ini rupanya tidak mudah karena jawabannya tidak cukup diberikan hanya dengan kata tetapi harus ditunjukkan dan teruji dalam proses perjalanan mereka mengikuti Yesus. Semakin egois motivasi para murid , maka semakin tidak bertahan mereka mengikuti Yesus; tetapi semakin fokus pada Pribadi Yesus, mereka akan semakin mampu untuk bertahan dalam situasi apapun.

Sebagian besar dari kita sejak bayi sudah mengikuti Yesus sehingga menjadi orang kristen adalah hal yang lumrah/wajar. Namun  pada suatu saat di dalam hidup kita, terutama ketika beriman kepada Yesus membawa kita pada benturan hidup dan bahkan kerugian, Tuhan Yesus menoleh ke belakang kepada kita untuk bertanya: Apa sesungguhnya kamu cari?”.  Beberapa dari kita menjadi kristen karena tradisi-keturunan, atau karena kagum, atau karena ekonomi, atau karena pengalaman diselamatkan dll. Sebagai awal motivasi tentunya alasan-alasan ini bisa dimaklumi. Namun dengan berjalannya waktu dan bertumbuhnya pengenalan kita akan Tuhan Yesus, jawaban pertanyaan Tuhan itu semakin menemukan bobotnya: “Sungguhkan yang kita cari adalah Pribadi Yesus?”  Peristiwa perjalanan hidup itulah yang akan menguji motivasi dan panggilan iman kita. Semakin egois motivasi iman kita, semakin kita juga kendor di dalam iman.

Panggilan menjadi religius dan imampun sama. Motivasi awal kita  diasah dan dimurnikan melalui proses perjalanan hidup religius dan imamat yang kadang tidak berjalan mulus seperti yang kita harapkan. Motivasi awal penting tetapi motivasi yang benar dan tulus jauh lebih penting lagi.  Pribadi Yesus dan kehendakNya harus menjadi pegangan utama; bukan keinginan dan maksud kita. Maka penting bagi religius dan imam untuk tinggal bersama Yesus; karena kita tidak mencari apapun kecuali ingin menjadi serupa denganNya.  Semakin berpegang pada maksud pribadi-keinginan pribadi, maka hidup religius-imamat akan menjadi berat dan tidak membahagiakan.

Panggilan perkawinan juga sama. Kadang tidak mudah kita memberikan alasan mengapa kita memilih pasangan kita dan memutuskan untuk menikah dengannya. Beribu alasan dapat kita berikan; namun kembali lagi, mencintai adalah sebuah keputusan yang tidak pertama-tama didorong oleh alasan pilihan, tetapi didorong untuk harapan dan cita-cita hidup bahagia yang kita gambarkan bersamanya.  Motivasi perkawinan ini juga akan teruji dalam tantangan dan cobaan hidup. Semakin egois motivasi dan harapan perkawinan kita, maka kitapun banyak akan mengalami kekecewaan dan keputusasaan ketika relasi perkawinan tidak berjalan baik. Sebaliknya, jika motivasi kita kita letakkan pada kebahagiaan mencintai pasangan kita, maka dalam situasi sekering apapun, perkawinan itu tidak akan bertahan dan mampu bangkit kembali.

Kontemplasi

Gambarkan dialog Tuhan Yesus dengan kedua murid yang mengikutiNya.

Refleksi

Apa yang anda cari dengan menjadi orang kristen? Sungguhkan Pribadi Yesus dan kehendakNya yang anda cari?

Bagaimana dengan hidup religius atau imamat atau hidup perkawinan anda? Apa yang sebenarnya anda cari?

Doa

Ya Bapa, semoga motivasiku imanku semakin murni dan benar, fokus pada pada Pribadi Yesus dan kehendakNya. Amin.

Perutusan

Murnikanlah motivasi iman dan hidup anda dengan fokus pada Pribadi Yesus dan kehendakNya.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Romo Aristanto MSF

Imam anggota Kongregasi Misionaris Keluarga Kudus (MSF) dan tinggal di Skolastikat MSF di Banteng, Yogyakarta.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.